9 Mei 2026 - 21:56
Ketua Dewan Ulama Syiah Pakistan: Perlawanan Iran Akan Abadi dalam Sejarah

Ketua Dewan Ulama Syiah Pakistan mengatakan, Republik Islam Iran juga telah menunjukkan keteguhan yang berani dalam menghadapi perang dan agresi Zionis serta kekuatan arogan; sebuah perlawanan yang akan tetap abadi dalam sejarah.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Ayatullah Sayid Sajid Ali Naqvi, Ketua Dewan Ulama Syiah Pakistan, dalam sebuah pesan bertepatan dengan peringatan satu tahun operasi “Bunyan Marsus”, menyatakan bahwa perang bukan hanya bukan solusi bagi berbagai persoalan, tetapi justru menjadi sumber krisis-krisis baru. Namun, ketika perang dan agresi dipaksakan kepada bangsa-bangsa, maka membela tanah air menjadi sebuah keharusan.

Ia, seraya mendoakan derajat tinggi bagi mereka yang gugur dalam membela tanah air, mengatakan bahwa Pakistan, dengan memberikan jawaban tegas kepada India dalam bentrokan Mei tahun lalu, telah membuktikan bahwa negara itu memiliki kekuatan pertahanan yang kokoh dan tidak dapat ditembus.

Naqvi juga, dengan menyinggung perkembangan kawasan, menambahkan bahwa Republik Islam Iran juga telah menunjukkan keteguhan yang berani dalam menghadapi perang dan agresi Zionis serta kekuatan arogan; sebuah perlawanan yang akan tetap abadi dalam sejarah.

Ketua Dewan Ulama Syiah Pakistan menegaskan bahwa Islamabad, selain memperkuat kemampuan pertahanannya, juga harus menjadi kuat secara ekonomi. Selama ketergantungan kepada lembaga-lembaga keuangan internasional dan korupsi ekonomi masih berlanjut, impian menjadi negara yang kuat tidak akan terwujud.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan persatuan nasional, pengembangan ilmu-ilmu modern dan teknologi, serta penyiapan generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan.

Naqvi memperingatkan tentang situasi kawasan dan mengatakan bahwa dunia sedang menghadapi dampak krisis yang luas. Jika kondisi saat ini terus berlanjut, ketegangan akan menjadi semakin rumit.

Ia menyebut dialog dan diplomasi sebagai jalan keluar dari berbagai krisis, dan menegaskan bahwa perundingan harus dilakukan dalam suasana bebas, jauh dari ancaman dan tekanan. Jika tidak, persoalan-persoalan akan menjadi semakin dalam.

Your Comment

You are replying to: .
captcha