9 Mei 2026 - 21:52
Asia Times: Washington di Ambang Mengulang Kesalahan Strategis Inggris dan Soviet / Iran Menciptakan Persamaan Baru melalui Deterensi Geopolitik

Majalah Asia Times dalam sebuah analisis memperingatkan bahwa Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia berada dalam risiko mengulang kesalahan-kesalahan strategis Inggris setelah Krisis Suez dan Uni Soviet di Afghanistan. Menurut analisis ini, menurunnya keunggulan Amerika disebabkan oleh perubahan cepat struktur kekuatan global dan “kesombongan diplomatik” Washington, yang telah mengubah negosiasi dengan musuh-musuhnya menjadi tindakan mendikte tuntutan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — dalam analisis Asia Times disebutkan bahwa penurunan relatif pengaruh Amerika tidak berarti negara ini tiba-tiba melemah, melainkan disebabkan oleh perubahan struktur kekuatan global dengan kecepatan yang melampaui imajinasi strategis Washington.

Laporan ini menambahkan bahwa pelajaran yang pernah dipetik Imperium Inggris setelah Krisis Suez 1956 dan Uni Soviet di Afghanistan kini berisiko harus dipelajari kembali oleh Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.

Tekanan Tanpa Akhir dan Hasil yang Semakin Menurun

Menurut Asia Times, kebijakan Washington terhadap Iran terus berayun antara paksaan dan khayalan. Satu pemerintahan merobek kesepakatan, pemerintahan lain mencoba diplomasi parsial sambil tetap mempertahankan sanksi, lalu putaran baru ancaman militer, operasi siber, dan pembatasan ekonomi dimulai. Namun asumsi dasar Washington bahwa ia dapat memaksakan kehendaknya kepada Teheran tidak pernah berubah.

Selat Hormuz sendiri menjadi jalur bagi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Bahkan ketidakstabilan terbatas di sana dapat mengguncang pasar global. Hal ini menciptakan alat tekan bagi Teheran yang tidak dapat sepenuhnya dihapus oleh paket sanksi mana pun.

Para ahli strategi Amerika sering mengira bahwa kekuatan hanya bersumber dari kapal induk dan produk domestik bruto. Padahal, daya tawar geopolitik juga bisa lahir dari kemampuan menciptakan gangguan. Aktor yang lebih lemah, tetapi mampu menciptakan ketidakpastian dalam ekonomi global, memiliki bentuk deterensinya sendiri.

Multipolaritas Bukan Lagi Sekadar Teori

Analisis ini menegaskan bahwa selama bertahun-tahun pembahasan tentang “dunia multipolar” terdengar abstrak dan akademik, tetapi kini tidak lagi demikian. Kebangkitan China bukan semata hasil perencanaan ekonomi atau kapasitas industri Beijing, tetapi juga dipercepat oleh ekses-ekses strategis Amerika yang terus berulang. Perang Irak saja menghabiskan triliunan dolar dan mengalihkan perhatian Amerika dari Asia, tepat pada dekade-dekade ketika China mengokohkan dominasi produksi, pertumbuhan teknologi, dan pengaruh infrastruktur globalnya.

Amerika Serikat, sebagian, menang dalam Perang Dingin karena Uni Soviet menguras dirinya sendiri dalam persaingan geopolitik yang tidak berkelanjutan. Namun kini Washington, dengan komitmen militer permanen dan konfrontasi tanpa akhir, sedang mengulangi kesalahan yang sama.

Pada saat yang sama, negara-negara lain menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Arab Saudi menyeimbangkan hubungannya antara Washington dan Beijing. India membeli minyak Rusia sambil memperdalam hubungan dengan Amerika. Turki, meskipun anggota NATO, menjalankan kebijakan kawasan yang independen dan agresif. Bahkan sekutu lama Amerika mulai mengambil jarak, bukan lagi otomatis mengikuti. Inilah bentuk nyata penurunan keunggulan: bukan keruntuhan dramatis, tetapi diversifikasi bertahap.

Alternatif Nuklir dan Ilusi Deterensi

Salah satu akibat paling berbahaya dari ketidakstabilan berkepanjangan adalah berkembangnya keyakinan bahwa senjata nuklir merupakan satu-satunya jaminan yang dapat dipercaya bagi kedaulatan. Argumen ini tidak hanya mendapat perhatian di Iran, tetapi juga di tingkat global. Rezim nuklir Korea Utara tetap bertahan. Libya melucuti diri lalu runtuh. Ukraina menyerahkan kemampuan nuklirnya dan kemudian menghadapi invasi. Pelajaran yang diambil banyak negara sangat keras dan sederhana: “kelemahan membuat intervensi asing menjadi lebih mudah.”

Meski demikian, deterensi nuklir bukan polis asuransi universal. Pakistan dan India sama-sama memiliki arsenal nuklir, tetapi tetap menghadapi ketidakstabilan kronis. Kemampuan nuklir Israel yang tidak diumumkan juga tidak mencegah konflik kawasan yang berulang. Senjata nuklir mungkin dapat mencegah invasi total, tetapi tidak menghapus ketidakamanan, perang proksi, stagnasi ekonomi, atau disfungsi politik internal.

Diplomasi Membutuhkan Kerendahan Hati, Bukan Slogan

Titik lemah paling mencolok dalam kebijakan luar negeri modern Amerika adalah “kesombongan diplomatik”. Washington sering memandang negosiasi dengan musuh sebagai latihan mendikte, padahal kesepakatan yang berkelanjutan membutuhkan konsesi timbal balik. JCPOA berhasil justru karena menerima kenyataan ini. Kesepakatan itu memang tidak sempurna, tetapi menciptakan mekanisme verifikasi, mengurangi ketegangan, dan mencegah eskalasi segera. Keruntuhannya menunjukkan betapa rapuhnya diplomasi ketika pertunjukan politik domestik mengalahkan kesinambungan strategis.

Analisis ini pada akhirnya menegaskan bahwa tantangan strategis terbesar Amerika bukan lagi mengalahkan musuh-musuh di luar negeri, melainkan menyesuaikan diri secara psikologis dengan dunia di mana dominasi memiliki batas. Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan besar yang mengenali batas-batas ini akan mampu beradaptasi dengan sukses. Sedangkan mereka yang menyangkalnya, biasanya akan belajar dengan cara yang sulit.

Your Comment

You are replying to: .
captcha