25 April 2026 - 22:43
Trump Sudah Lewat! Namun, Apakah Presiden-presiden Amerika Berikutnya Akan Mengambil Pelajaran?

Imam Syahid Revolusi Islam, 30 tahun lalu pernah bersabda: “Saya heran mengapa para presiden Amerika tidak mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka.”

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Mahdi Khodaei berkata, "Hari-hari ini, banyak politisi, analis, bahkan kalangan militer Amerika maupun non-Amerika sepakat pada satu titik bahwa “Trump telah kalah dalam perang melawan Iran dan sedang mencari jalan keluar yang terhormat dari perang ini.”

Mereka menilai kekalahan memalukan front Amerika-Zionis di hadapan Iran ini sebagai akibat dari ketidaktahuan terhadap bangsa dan sejarah Iran, atau secara umum, “tidak mengenal Iran.” Tambahnya. 

Sebelum perang Amerika-Zionis ini dimulai, banyak dari orang-orang yang sama telah memperingatkan mereka yang menabuh genderang serangan terhadap Iran agar tidak mengambil keputusan tersebut. Mereka berkata, “Mustahil mengalahkan sebuah bangsa yang memiliki sejarah 6.000 tahun dalam peradaban manusia.”

Bahkan baru-baru ini, dalam sebuah potongan video Douglas Macgregor, pensiunan kolonel Amerika, terlihat bahwa ia secara terang-terangan berbicara tentang kekalahan Trump dan menyebutnya sebagai akibat dari “ketidaktahuan terhadap budaya kesyahidan dan keteladanan bangsa Iran kepada Imam Husain as.”

Pada hari ketika perang 12 hari terjadi dan Trump, dengan mengancam rakyat Iran, menuntut agar bangsa Iran menyerah, Pemimpin Syahid kita menyatakan keheranannya atas tuntutan tersebut dan menyebut ucapan Trump sebagai ucapan yang “tidak rasional” karena dua alasan.

Salah satu alasannya adalah sejarah Iran itu sendiri. Beliau bersabda:

“Bahwa kepada bangsa Iran dikatakan, ‘Datanglah dan menyerahlah,’ bukanlah ucapan yang rasional. Orang-orang berakal yang mengenal Iran, mengenal bangsa Iran, mengenal sejarah Iran, tidak akan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu. Menyerah kepada apa? Bangsa Iran bukan bangsa yang bisa menyerah.”
18 Juni 2025

Alasan lain yang disampaikan oleh Pemimpin Syahid berkaitan dengan keyakinan bangsa Iran. Beliau bersabda:

“Ancaman itu ditujukan kepada orang yang takut terhadap ancaman mereka. Bangsa Iran telah menunjukkan bahwa di hadapan ancaman para pengancam, mereka tidak menjadi takut. ‘Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.’ Bangsa Iran meyakini hal ini. Ancaman tidak berpengaruh dalam perilaku bangsa Iran dan dalam pemikiran bangsa Iran.”
18 Juni 2025

Sebelum terjadinya perang paksaan ketiga, Imam Syahid kita juga, dengan menyinggung bahwa “bangsa Iran sangat memahami pelajaran-pelajaran Islam dan Syiah mereka; mereka tahu apa yang harus dilakukan,” bersabda:

“Imam Husain as bersabda: Mitsli la yubayi’u mitsla Yazid; orang seperti aku tidak akan berbaiat kepada orang seperti Yazid. Bangsa Iran pada hakikatnya mengatakan: bangsa seperti kami, dengan budaya ini, dengan latar belakang ini, dengan pengetahuan-pengetahuan luhur ini, tidak akan berbaiat kepada para pemimpin seperti orang-orang fasik yang hari ini berkuasa di Amerika.”
17 Februari 2026

Berdasarkan hal ini, sejarah kuno dan keyakinan Islam yang mendalam dari bangsa Iran, yang sangat saling berpadu, menjadi penghalang bagi rasa takut dan penyerahan diri mereka di hadapan setiap penguasa arogan yang mengancam. Tampaknya Trump adalah orang yang paling tidak mengetahui persoalan ini di antara para presiden Amerika. Karena itu, ia sebagai satu-satunya presiden Amerika — entah karena pengaruh Netanyahu, Perdana Menteri Israel pembunuh anak-anak, atau karena catatan masa lalunya terkait Epstein yang membuatnya berada di bawah tekanan Zionis — bertentangan dengan seluruh analisis yang mencerahkan dan peringatan yang menyerukan agar menghindari konfrontasi dengan bangsa Iran, justru memasuki perang militer terbuka dengan Iran.

Namun tampaknya, ketidakpeduliannya terhadap peringatan-peringatan tersebut, selain semua alasan yang telah disebutkan sejauh ini, juga memiliki satu alasan yang sama di antara seluruh presiden Amerika dalam menghadapi Iran, dan setelah Trump pun mungkin akan terulang kembali.

Pemimpin Syahid kita, 30 tahun lalu, ketika menyinggung apa yang terjadi dalam peristiwa Tabas, telah menjelaskan alasan tersebut, yaitu “para presiden Amerika tidak mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka.”

Beliau pada 23 Maret 1995 berkata: “Setan yang oleh Al-Qur’an, dalam logika agama, disebut sebagai manifestasi kejahatan dan kerusakan, dalam logika revolusi juga ada. Setan ini adalah ‘arogansi global’ yang menjadi musuh revolusi. Di antara semua setan, yang paling hina dan paling jahat adalah pemerintah Amerika Serikat. Laki-laki dan perempuan Iran serta seluruh individu bangsa di seluruh negeri ini harus mengetahui bahwa hari ini tidak ada musuh bagi mereka yang lebih buruk, lebih jahat, dan lebih berbahaya daripada para pejabat Amerika yang hari ini memegang kendali urusan negara Amerika. Mereka terus berkonspirasi melawan Republik Islam dan bangsa ini. Tentu saja kepala mereka juga selalu terbentur batu, tetapi mereka tidak pernah beradab.

Salah satu presiden Amerika pernah mengirim helikopter ke dalam negeri ini, lalu berhadapan dengan badai Tabas, yaitu pasukan gaib Ilahi. Apa yang mereka katakan?! Apakah mereka memahami apa yang mereka lakukan?! Apakah mereka memahami mengapa?! Dengan siapa mereka berhadapan?! Omong kosong yang mereka ucapkan itu ditujukan kepada siapa? Jawabannya ada pada siapa?

Bangsa Iran adalah bangsa yang besar dan kuat. Bangsa Iran adalah bangsa yang bersatu dan berbudaya. Saya heran mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka dan dari enam belas tahun ini?! Mereka terus mengoceh dan menyebarkan kebohongan terhadap Republik Islam, bangsa, dan para pejabat Iran! Para pemimpin dan tokoh besar mereka terus menyebarkan kebohongan tentang pulau-pulau Teluk Persia, persenjataan Iran, energi atom, dan senjata kimia.

Kalau koran-koran yang menulis, orang bisa berkata, ‘Baiklah, mereka wartawan. Demi roti mereka, mereka terpaksa berbohong!’ Tetapi para ketua parlemen dan presiden mereka sendiri yang mengatakannya! Manusia heran mengapa sebuah sistem harus sedemikian mengalami kemerosotan dan kehinaan spiritual hingga jatuh ke dalam tempat sampah kebohongan ini!

Saya berkata kepada mereka dan kepada semua musuh Iran serta Republik Islam: bangsa yang bertuhan ini bersandar pada dirinya sendiri dan berpegang teguh pada Islam serta Republik Islam. Bangsa revolusioner dan bersatu ini adalah umat Imam dan pendukung para pejabat yang tulus mencintai negeri. Siapa pun di dunia ini yang berhadapan dengan bangsa dan para pejabat ini, akan jatuh tersungkur.”

Trump, lebih buruk daripada seluruh presiden Amerika, bukan hanya tidak mengambil pelajaran dari peristiwa Tabas, dari kekalahan dalam perang 12 hari, dan dari kudeta Dey 1404, yakni sekitar 22 Desember 2025 hingga 20 Januari 2026, tetapi bahkan membayangkan bahwa berbeda dari para presiden sebelumnya, setelah 47 tahun ia akan mampu menghancurkan Republik Islam Iran. Namun tampaknya ia tidak mendengar bahwa Imam Syahid kita — yang salah satu keahliannya yang pasti adalah memprediksi peristiwa-peristiwa masa depan — sebelum perang paksaan ketiga, dengan tegas berkata kepadanya:

“Saya katakan, engkau pun tidak akan mampu melakukan hal itu.”
17 Februari 2026

Hari ini pun, setelah terjadinya perang paksaan ketiga, setelah perlawanan gagah berani bangsa Iran, dan setelah aib memalukan yang lebih buruk daripada kegagalan Operasi Eagle Claw di Tabas — yang terjadi di Isfahan dalam upaya mencuri uranium 60 persen milik Iran oleh Amerika — mayoritas pemikir di Barat dan Timur dunia, bertentangan dengan apa yang diharapkan Trump, serta bertentangan dengan pencarian sombongnya yang bertumpu pada keunggulan militer, justru menekankan bahwa “bangsa Iran tidak dapat dipaksa menyerah” dengan bersandar pada sejarah dan keyakinan rakyat Iran.

Meski demikian, Trump hingga kini masih setiap hari, melalui beberapa cuitan dan wawancara, berusaha menampilkan dirinya sebagai pemenang dan Iran sebagai pihak kalah yang sedang mencari negosiasi dan penyerahan diri. Padahal seluruh dunia menyaksikan keteguhan bangsa Iran di meja perundingan sebagaimana mereka menyaksikan keteguhan bangsa Iran di medan tempur. Sampai-sampai Trump menetapkan tanggal untuk berunding dengan Iran dan menetapkan tenggat waktu untuk sebuah kesepakatan yang dipaksakan, tetapi tim perunding Iran, tanpa memedulikan permainan media Trump ini, bahkan tidak melakukan perjalanan ke lokasi perundingan.

Pada akhirnya harus dikatakan: Trump sudah lewat, dan ia tidak mampu serta tidak akan mampu melakukan kesalahan apa pun terhadap Iran. Namun, apakah nasib Trump dalam menghadapi Iran akan menjadi pelajaran bagi presiden-presiden Amerika berikutnya, ataukah di Amerika Serikat, di bawah pengaruh Zionis, keadaan akan tetap berputar pada poros lama yang sama?

Your Comment

You are replying to: .
captcha