Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Abdulfattah Navvab, Perwakilan Wali Faqih untuk Urusan Haji dan Ziarah sekaligus Penanggung Jawab Jemaah Haji Iran, dalam wawancara khusus berita, menyinggung kekhawatiran masyarakat mengenai pelaksanaan haji dalam kondisi perang. Ia mengatakan, “Kekhawatiran ini sepenuhnya wajar dan dapat dipahami. Masyarakat memiliki pertanyaan tentang apakah perjalanan ini layak dilakukan dalam situasi saat ini.”
Ia mengatakan, para pejabat terkait telah menelaah seluruh aspek persoalan, termasuk peluang, ancaman, dan manfaatnya secara cermat. Pada akhirnya, dengan mempertimbangkan seluruh kondisi, izin pelaksanaan perjalanan ini telah dikeluarkan. Selain itu, pandangan Wali Faqih juga berada pada pelaksanaan kewajiban ini.
Perwakilan Wali Faqih untuk Urusan Haji dan Ziarah melanjutkan, para marja taklid agung juga telah menyampaikan pandangan fikih mereka dalam hal ini. Dalam fikih Islam, apabila terdapat “ketakutan yang rasional” dan kekhawatiran serius terhadap bahaya, maka kemampuan atau istitha’ah untuk melaksanakan haji menjadi gugur. Namun, jika tidak demikian, pelaksanaan kewajiban ini tidak memiliki halangan.
Navvab, dengan menekankan bahwa penentuan persoalan ini sangat bergantung pada kondisi pribadi masing-masing individu, menambahkan, “Mungkin ada seseorang yang secara mental dan fisik tidak memiliki kesiapan yang diperlukan dan diliputi kekhawatiran. Dalam kondisi demikian, istitha’ah baginya belum terwujud. Namun, orang lain mungkin mampu melaksanakan manasik dengan tenang dan penuh keyakinan.”
Ia menegaskan, dalam kondisi seperti ini, setiap orang harus mengambil keputusan dengan menelaah situasi negara tuan rumah dan memperoleh informasi yang diperlukan. Organisasi Haji dan Ziarah juga telah meninjau kondisi tersebut, dan berdasarkan evaluasi yang dilakukan, kondisi saat ini dinilai layak.
Penanggung Jawab Jemaah Haji Iran itu, dengan menyinggung persoalan jaminan keamanan jemaah, mengatakan, “Tidak seorang pun dapat memberikan jaminan keselamatan jiwa secara mutlak, sebagaimana dalam perjalanan domestik pun jaminan semacam itu tidak ada. Namun, hasil peninjauan menunjukkan bahwa kondisi yang ada saat ini layak, bahkan penerbangan keberangkatan pertama pun disambut dengan penghormatan dan penerimaan yang baik oleh pihak Arab Saudi.”
Ia juga menyinggung pengalaman tahun-tahun sebelumnya, termasuk insiden Mina dan jeda pelaksanaan haji. Ia mengingatkan, setelah peristiwa-peristiwa tersebut juga muncul kekhawatiran, tetapi seiring waktu dan setelah kondisi ditelaah, keberangkatan kembali dilanjutkan.
Navvab menegaskan, meskipun seluruh kajian telah dilakukan dan kondisi telah tersedia, keputusan akhir untuk menunaikan haji tetap berada di tangan masing-masing individu. Setiap orang harus mengambil keputusan dalam hal ini dengan mempertimbangkan kondisi mental, fisik, serta penilaiannya sendiri terhadap situasi.
Pengembalian Dana bagi yang Mengundurkan Diri dan Penjelasan Pesan Budaya Haji Tahun Ini
Perwakilan Wali Faqih untuk Urusan Haji dan Ziarah, mengenai kondisi jemaah yang membatalkan perjalanan haji, mengatakan, “Seluruh orang yang mengundurkan diri akan menerima kembali seluruh dana yang telah mereka bayarkan secara penuh, dan kuota atau bukti pendaftaran mereka juga akan tetap tersimpan untuk tahun-tahun mendatang.”
Ia menambahkan, orang-orang tersebut tidak akan dikeluarkan dari prioritas keberangkatan pada tahun-tahun berikutnya. Mereka dapat mendaftar pada giliran berikutnya dan berangkat haji berdasarkan biaya pada tahun tersebut.
Penanggung Jawab Jemaah Haji Iran itu kemudian menyinggung pesan dan slogan haji tahun ini. Ia mengatakan, “Dengan memperhatikan kondisi negara, kehadiran jemaah Iran dalam haji tahun ini akan membawa pesan-pesan penting bagi dunia Islam. Tentu saja keberanian dan keteguhan bangsa Iran akan mendapat perhatian dari kaum Muslim lainnya.”
Navvab, dengan menyatakan bahwa slogan haji tahun ini berdiri di atas tiga poros, menegaskan, “Suluk Qurani”, “Rahmat Nabawi”, dan “Persatuan Umat Islam” merupakan tiga komponen utama pesan haji tahun ini, yang dirancang untuk memperkuat solidaritas dan kesatuan di antara kaum Muslim dunia.
Ia melanjutkan, tema persatuan dan solidaritas dunia Islam selalu menjadi penekanan Imam Khomeini ra dan Pemimpin Tertinggi. Tahun ini pun tema tersebut diikuti sebagai salah satu pilar utama program-program budaya haji.
Perwakilan Wali Faqih untuk Urusan Haji dan Ziarah juga menjelaskan kondisi pelatihan para jemaah. Ia mengatakan, meskipun karena situasi khusus negara sebagian program pelatihan belum sepenuhnya terlaksana, tidak ada alasan untuk khawatir terkait pelaksanaan manasik, dan pelatihan tersebut akan dilengkapi.
Ia menegaskan, proses pelatihan jemaah telah dimulai sejak beberapa bulan lalu. Rombongan-rombongan haji telah dibentuk dengan kehadiran para rohaniwan, dan sesi-sesi pelatihan telah diselenggarakan. Bahkan, sebagian rombongan sebelum keberangkatan telah mengikuti beberapa sesi pelatihan, dan sisa pelatihan juga akan disempurnakan pada kesempatan-kesempatan mendatang.
Your Comment