6 Januari 2026 - 09:33
Hukum Rimba; Penculikan Presiden oleh Trump dan Kegembiraan Rezim Zionis

Reaksi rezim Zionis terhadap operasi 3 Januari di Venezuela menunjukkan adanya keselarasan strategis yang mendalam antara Tel Aviv dan intervensi militer Amerika Serikat di Amerika Selatan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – rezim Zionis segera setelah operasi militer pada dini hari 3 Januari 2026 di Venezuela—yang berujung pada penculikan presiden sah negara tersebut—menyatakan dukungan resminya terhadap tindakan tersebut. Israel menyebut operasi itu sebagai “langkah penting dari kepemimpinan dunia bebas” dan, sembari memujinya, menyatakan harapan bahwa “penangkapan Maduro” akan membuka jalan bagi “kembalinya hubungan persahabatan bilateral”.

Pernyataan ini—yang menuduh Venezuela memimpin “jaringan racun dan teror”—disampaikan di tengah hubungan yang sejak lama memburuk antara Caracas dan Tel Aviv, akibat dukungan tegas Venezuela terhadap perjuangan Palestina serta pengusiran berulang duta besar Israel pada tahun 2006 dan 2009. Dukungan terbuka terhadap intervensi ilegal ini menunjukkan keselarasan poros agresor dalam merampas kehendak bangsa-bangsa dengan dalih menegakkan kebebasan dan demokrasi.

Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim pendudukan—yang sendiri dituduh melakukan kejahatan perang—dalam sebuah pesan publik memuji “operasi berani dan bersejarah” Trump atas nama “nilai-nilai kebebasan dan keadilan”. Ia juga menekankan “ketegasan dan gaya pengambilan keputusan” presiden AS serta memberikan apresiasi kepada para tentara yang terlibat dalam operasi tersebut.

Gideon Sa’ar, menteri luar negeri Israel, mengulang nada yang sama dengan memuji kinerja Amerika Serikat sebagai “pemimpin dunia bebas”. Pujian-pujian ini muncul pada saat di dalam rezim Zionis sendiri, Aharon Barak—mantan Ketua Mahkamah Agung—secara terang-terangan menyatakan bahwa Israel, akibat kondisi patologis yang lahir dari “kudeta terhadap sistem politik” dan dominasi pemerintahan Netanyahu atas dua cabang kekuasaan, tidak lagi dapat disebut sebagai negara demokrasi liberal; sebuah kontradiksi yang menyingkap standar ganda klaim demokrasi Israel.

Sementara sebagian media berbahasa Ibrani menciptakan suasana euforia dengan judul-judul seperti menyebut Trump sebagai “sheriff” dan Maduro sebagai “seorang tiran dalam tahanan”, serta menilai tindakan ini sebagai “sinyal bagi poros kejahatan”, pandangan yang lebih realistis di kalangan masyarakat Zionis justru menyoroti tujuan utama operasi tersebut.

Para jurnalis seperti Yair Navot dan Dr. Kobi Perada secara tegas menyatakan bahwa sasaran operasi ini bukan “racun”, melainkan “dolar” dan “minyak” Venezuela, dan bahwa “racun hanyalah dalih semata”.

Analisis ini diperkuat oleh pernyataan terang-terangan Trump yang mengatakan: “Jumlah uang yang akan kami ekstraksi dari sana sangat besar, dan minyak ini akan bermanfaat bagi kepentingan semua pihak,” yang menegaskan pendekatan penjarahan dalam operasi tersebut.

Sejumlah analis berlatar belakang militer di Israel, termasuk Dr. Michael Milshtein—jenderal purnawirawan dan mantan kepala unit riset intelijen militer—memperingatkan bahaya mengandalkan operasi-operasi emosional dan sesaat alih-alih kebijakan dan strategi jangka panjang.

Milshtein, seraya meragukan manfaat intervensi semacam itu dalam urusan dalam negeri negara lain, menyebut tindakan tersebut sebagai “tidak konstruktif”. Peringatan ini muncul bersamaan dengan sikap analis seperti Shimon Sheffer yang, dengan mendorong mentalitas kekuatan militer, menyerukan serangan langsung terhadap Republik Islam Iran—menunjukkan bahwa runtuhnya “benteng ilusi” di kalangan sebagian elite Israel telah menyeret mereka menuju tindakan-tindakan petualang dan berbahaya.

Operasi dini hari di Venezuela, mengingat kerusakan signifikan yang ditimbulkannya terhadap tatanan global yang selama ini diklaim Amerika Serikat, diperkirakan akan membawa dampak luas. Operasi ini menjadikan Amerika Serikat sebagai “preman global”.

Media-media berbahasa Ibrani mengakui bahwa tindakan tersebut mendorong tatanan dunia menuju “hutan tanpa hukum” dan berpotensi membangkitkan selera presiden AS untuk melakukan intervensi-intervensi lebih lanjut.

Perkembangan ini terjadi di saat Venezuela menjadi rumah bagi komunitas besar keturunan Arab; sebuah fakta yang, secara kultural dan historis, membuat dimensi agresi ini semakin sensitif bagi poros perlawanan serta menegaskan urgensi menjaga dan memperkuat kemampuan deterrence dan kewaspadaan terhadap konspirasi militer dan ekonomi.

Your Comment

You are replying to: .
captcha