Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dalam rangka memperingati 1.500 tahun kelahiran Rasulullah SAW, seminar ilmiah “Nabi Rahmat; Inspirasi Dialog Global” yang merupakan bagian dari rangkaian kajian ilmiah pengenalan kepribadian dan kedudukan Nabi Muhammad saw, diselenggarakan pada hari Rabu, (7/1), secara luring dan daring di Aula Seminar Kantor Lembaga Internasional Ahlulbait di kota Qom Iran, dengan kehadiran para dosen dari kalangan hauzah dan universitas.
Seminar ini menghadirkan Dr. Muhammad Legenhausen, dosen Institut Imam Khomeini; KH. Miftah Fauzi Rahmat, Ketua Yayasan Muthahhari Indonesia; serta Hujjatul Islam Dr. Hamed Montazeri-Moqaddam, dosen Institut Imam Khomeini. Para pembicara memaparkan pandangan mereka mengenai kedudukan Nabi Muhammad saw dalam pengembangan akhlak kemanusiaan, persatuan global, dan pembangunan peradaban Islam.
Rasulullah SAW sebagai Teladan Dialog Global dan Poros Persatuan Umat
KH. Miftah Fauzi Rahmat, Ketua Yayasan Muthahhari Indonesia, dalam pemaparannya memperkenalkan Nabi Muhammad saw sebagai teladan dialog global dan poros persatuan berbagai umat. Ia menyinggung pengaruh mendalam ajaran Nabi Islam di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Ia menegaskan bahwa ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW telah tersampaikan dengan baik di negara-negara tersebut dan melalui peran para ulama besar, memberikan dampak yang mendalam terhadap budaya dan kehidupan sosial masyarakat.
Fauzi Rahmat juga menekankan pentingnya penerjemahan Al-Qur’an secara akurat, seraya menyatakan bahwa ketelitian dalam tafsir dan terjemahan Al-Qur’an sangat penting agar makna hakiki ajaran Nabi dapat tersampaikan secara benar dan mampu memberikan bimbingan etis serta sosial bagi umat Islam dan masyarakat luas.
Ia juga menyinggung perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, seraya menyebutkan bahwa peringatan tersebut di berbagai negara Islam—khususnya Indonesia—menjadi momentum untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah dan memperkuat persatuan umat Islam.
Jihad Tabyin sebagai Fondasi Peradaban Islam
Dr. Muhammad Legenhausen, dosen Institut Imam Khomeini, dalam paparannya menjelaskan bahwa jihad tabyin (jihad pencerahan) merupakan salah satu instrumen utama Nabi Muhammad saw dalam membangun peradaban. Menurutnya, melalui jihad tabyin, Rasulullah saw berhasil meletakkan fondasi peradaban etis, kultural, dan sosial yang pengaruhnya masih terasa hingga kini di berbagai masyarakat dunia.
Ia menambahkan bahwa Nabi Muhammad saw melalui dua poros utama—pembentukan umat yang satu dan resistensi budaya serta sosial—berhasil membangun sebuah masyarakat luhur yang berlandaskan keadilan sosial dan solidaritas, yang secara mendasar berbeda dari struktur masyarakat sebelumnya.
Legenhausen juga menekankan pentingnya perlawanan terhadap kezaliman dan kebodohan, serta menegaskan bahwa peradaban yang dibangun Rasulullah saw tidak terbatas pada aspek politik atau ekonomi semata, melainkan mencakup seluruh dimensi kehidupan individu dan sosial, mulai dari akhlak, budaya, pendidikan, hingga kohesi sosial.
Peran Ahlulbait as dalam Meneguhkan Kedudukan Nabi
Hujjatul Islam wal Muslimin Dr. Hamed Montazeri-Moqaddam, dosen Institut Imam Khomeini, dalam pemaparannya membahas peran Ahlulbait as dalam menjaga dan meneguhkan kedudukan Rasulullah saw. Ia menegaskan bahwa setelah wafatnya Nabi, perjuangan Ahlulbait as memiliki peran yang sangat menentukan dalam mempertahankan posisi dan kehormatan Rasulullah saw dalam masyarakat Islam.
Ia menyinggung berbagai tuduhan tidak berdasar terhadap Syiah serta sejumlah kesalahpahaman mengenai posisi Ahlulbait as, dan menegaskan bahwa dalam pandangan Syiah, Nabi Muhammad saw tetap merupakan pusat dan poros agama Islam, sementara Ahlulbait as berperan sebagai penjaga dan pelengkap dalam menjaga kedudukan beliau.
Dr. Montazeri-Moqaddam juga menyinggung berbagai ancaman kultural dan politik yang muncul pasca wafatnya Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa melalui perjuangan para Imam Syiah, nama dan kedudukan Nabi SAW tetap hidup dan terjaga di tengah kondisi yang penuh tekanan dan ancaman.
Ia menutup pemaparannya dengan menyinggung ikatan emosional antara Rasulullah saw dan Ahlulbait as, khususnya hubungan Nabi dengan Imam Ali as, yang menurutnya memainkan peran penting dalam menjaga sentralitas hidayah bagi umat Islam.
Disebutkan seminar ilmiah ini diselenggarakan oleh Kantor Studi, Riset, dan Penelitian Deputi Ilmiah dan Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlulbait, bekerja sama dengan Kantor Berita Internasional ABNA dan Pusat Pendidikan Jangka Pendek Universitas Internasional Al-Mustafa Iran.
Your Comment