Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan Washington untuk menghentikan pelaksanaan kesepakatan nuklir yang bermasalah antara Teheran dan kekuatan dunia, dengan mengatakan bahwa negaranya tidak akan tenang menyaksikan pelanggaran AS.
Hal tersebut diungkapkan Rouhani dihadapan pejabat negara dan militer Iran serta tamu negara dalam upacara peresmiannya sebagai presiden Iran periode kedua di Tehran sabtu (5/8). Presiden Iran memastikan bahwa Teheran tidak akan memulai penarikan diri dari kesepakatan tersebut, namun sementara itu, menekankan bahwa negaranya akan melakukan tindakan balasan terhadap pelanggaran-pelanggaran AS.
"Kami menyatakan secara terbuka bahwa Iran tidak akan memulai penarikan diri dari JCPOA, tapi tidak akan tetap tenang melawan tindakan AS," katanya.
Rouhani, yang mendapat tepuk tangan meriah saat mengeluarkan peringatan keras kepada AS sehubungan dengan perlakuannya terhadap kesepakatan nuklir tersebut, selanjutnya merujuk pada presiden AS sebagai pendatang baru ke dunia politik, dan mengatakan, "Saya tidak berbicara dengan pendatang baru Ke dunia politik, tapi kami memberi tahu veteran dunia ini bahwa mereka yang berniat merobek JCPOA akan mencabik karir politik mereka dengan tindakan semacam itu. "
Rouhani, yang mendapat tepuk tangan lebih lama dari semua pejabat negara bagian dan militer yang hadir pada upacara peresmiannya untuk kedua kalinya, menggarisbawahi bahwa Iran mengharapkan penghormatan atas kesepakatan tersebut oleh semua penandatangan, yang mengulangi bahwa Iran menunjukkan rasa hormat hanya jika dihormati oleh pihak yang berlawanan.
Pada bagian lain pidatonya, Rouhani juga menyinggung masalah pengembangan senjata. Menurutnya program pengembangan senjata yang dijalankan Iran ditujukan untuk tujuan pencegahan. "Kami mengejar kedamaian. Senjata kami diperuntukkan bagi perdamaian dan perdamaian kami bergantung pada senjata kami."
Presiden Iran lebih jauh mengecam AS dengan adanya kesepakatan jual beli senjata beberapa miliar dolar dengan Arab Saudi. Rouhani memperingatkan bahwa langkah tersebut akan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan dan menimbulkan keresahan.
"Mengatasi krisis di kawasan ini, termasuk Suriah dan Yaman, tidak akan mungkin terjadi tanpa menghentikan perang dan kekerasan. Yang harusnya dilakukan adalah mengirimkan bantuan kemanusiaan dan mendorong diadakannya pembicaraan Suriah-Suriah dan Yaman-Yaman," tegas Rouhani.
Peresmian Presiden Iran Hassan Rouhani dimulai di ibukota, Teheran, pukul 17:00 waktu setempat pada Sabtu (5/8) di hadapan pejabat senior negara Iran dan militer serta pejabat asing.
Lebih dari 1200 tamu yang terdiri dari para pejabat tinggi negara dan sejumlah delegasi tingkat tinggi dari 92 negara dunia. Pelantikan Presiden Iran dilakukan setelah memperoleh pengukuhan dari Pemimpin Besar Revolusi Islam pada kamis (3/8). .
Upacara yang diadakan di tempat Parlemen Iran dimulai dengan lagu kebangsaan Republik Islam Iran dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Federica Mogherini juga ikut serta dalam upacara pelantikan tersebut.
Rouhani mendapat masa jabatan kedua dalam pemilihan presiden 19 Mei dengan memenangkan lebih dari 57 persen suara. Tidak ada presiden yang duduk di Iran yang gagal memenangkan masa jabatan kedua sejak 1981.