28 Juni 2026 - 23:28
Kesyahidan Ayatullah Khamenei Tingkatkan Ketertarikan Masyarakat Indonesia terhadap Republik Islam Iran

Haryati Ismail dalam wawancaranya dengan ABNA mengatakan, "Banyak masyarakat Indonesia mengenal Iran sebagai contoh sebuah negara yang mampu melanjutkan pembangunan dengan bertumpu pada kemampuan dalam negeri, kemandirian politik, serta kepercayaan terhadap potensi nasional."

Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Perang agresi ketiga yang dilancarkan Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran, serta gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei, meskipun menimbulkan banyak kerugian bagi rakyat Iran, justru memicu gelombang kebangkitan di berbagai bangsa di dunia.

Kekuatan militer dan politik Iran selama masa perang menunjukkan bahwa media-media Barat selama bertahun-tahun telah menyajikan citra yang keliru dan tidak sesuai dengan kenyataan mengenai sistem pemerintahan maupun rakyat Iran. Karena itu, kecenderungan masyarakat dunia untuk menjadikan Iran sebagai contoh negara yang merdeka dan kuat semakin meningkat.

Dalam rangka mengkaji pengaruh regional maupun global dari perjuangan dan kesyahidan Pemimpin Revolusi, ABNA melakukan wawancara dengan Hayati Ismail, seorang mahasiswi asal indonesia yang menuntut pendidikan tinggi di salah satu universitas di Iran. 

ABNA: Mohon terlebih dahulu memperkenalkan diri Anda beserta bidang aktivitas dan penelitian yang Anda tekuni kepada para pembaca.

Saya berasal dari Indonesia dan saat ini menetap di Iran. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan magister pada Program Studi Kajian Perempuan dan Keluarga di Universitas Baqir al-Ulum dan Madrasah Bint al-Huda.

Saya aktif di bidang penulisan, penelitian, media, serta media sosial dengan fokus pada isu-isu aktual dan persoalan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan rezim Zionis, fokus utama aktivitas penelitian dan media saya adalah menganalisis serta menjelaskan berbagai persoalan yang berkaitan dengan Iran, Palestina, dan kawasan Asia Barat.

Selain itu, saya juga beberapa kali tampil dalam berbagai program media dan televisi baik di Iran maupun stasiun tv di Indonesia.

ABNA: Bagaimana reaksi masyarakat Indonesia, khususnya komunitas Syiah, terhadap syahidnya Pemimpin Revolusi Islam Iran?

Tanpa diragukan lagi, syahidnya Pemimpin Revolusi Islam Iran merupakan sebuah peristiwa besar yang sangat menyedihkan dan mengguncang para pecinta Ahlulbait as, para pejuang kebebasan, pencinta keadilan di seluruh dunia, mereka yang selama bertahun-tahun mengikuti perkembangan Iran, serta masyarakat Indonesia.

Bagi banyak masyarakat Indonesia, beliau bukan sekadar seorang pemimpin politik, melainkan simbol keteguhan, keberanian, dan perlawanan terhadap tekanan serta dominasi Amerika Serikat dan Israel.

Kesyahidan beliau memang menjadi duka yang mendalam bagi para pencinta Iran. Namun pada saat yang sama, peristiwa tersebut membuat banyak orang yang sebelumnya belum mengenal Iran menjadi tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai peran Republik Islam Iran dan alasan mengapa negara ini mampu bertahan menghadapi tekanan selama puluhan tahun.

ABNA: Bagaimana media-media Indonesia memberitakan perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran?

Sejak perang tersebut dimulai dan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat, perhatian publik Indonesia terhadap perkembangan ini juga meningkat secara signifikan. Media-media Indonesia secara luas memberitakan perang, serangan militer, sikap Iran, kebijakan Amerika Serikat, serta dampak konflik tersebut terhadap kawasan.

Suami saya merupakan seorang jurnalis di salah satu stasiun televisi Indonesia dan secara rutin melaporkan perkembangan politik Iran. Saya sendiri juga beberapa kali memberikan penjelasan mengenai situasi Iran dan perkembangan kawasan melalui berbagai media di Indonesia.

Tentu saja tidak semua media Indonesia memiliki pendekatan yang sama terhadap Iran. Sebagian media berusaha memberitakan secara lebih seimbang dengan menampilkan posisi Iran sebagai negara yang mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya. Sebaliknya, sebagian media lainnya masih lebih banyak dipengaruhi oleh narasi media Barat dan media arus utama internasional.

Namun di tingkat masyarakat, banyak warga Indonesia mulai menyadari bahwa Iran bukanlah negara yang mudah dipaksa menyerah. Menurut pandangan banyak masyarakat, keteguhan Iran menghadapi Amerika Serikat dan Israel merupakan cerminan keberanian, kemandirian, dan rasa percaya diri nasional. Selama bertahun-tahun Amerika selalu digambarkan sebagai kekuatan yang tidak mungkin dapat dilawan oleh negara mana pun.

ABNA: Berapa persentase masyarakat Syiah di Indonesia saat ini, dan bagaimana pandangan mereka terhadap Iran serta budaya Revolusi Islam?

Tidak ada data resmi mengenai jumlah penganut Syiah di Indonesia karena sensus penduduk di negara ini tidak dilakukan berdasarkan mazhab. Namun berdasarkan berbagai laporan, jumlah masyarakat Syiah diperkirakan berkisar antara 1 hingga 2 juta jiwa. Dibandingkan dengan keseluruhan populasi Muslim Indonesia, komunitas Syiah tetap merupakan kelompok minoritas. Meskipun demikian, ketertarikan terhadap Iran dan Revolusi Islam tidak hanya terbatas pada komunitas Syiah.

Banyak cendekiawan, akademisi, aktivis sosial, bahkan tokoh-tokoh Ahlusunah selama bertahun-tahun menghormati sikap independen Iran, terutama dalam membela rakyat Palestina dan menentang pendudukan rezim Zionis. Dalam sejarah Indonesia kontemporer, almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Amien Rais, serta sejumlah pemikir Muslim lainnya berulang kali menyebut Iran sebagai negara yang memiliki sikap politik independen dan keberanian dalam percaturan internasional.

Menurut saya, pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai Iran dalam beberapa tahun terakhir meningkat secara signifikan. Sebelum perang ini terjadi, banyak masyarakat mengira bahwa akibat puluhan tahun sanksi ekonomi, Iran telah tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan. Namun kini pandangan itu berubah.

Banyak masyarakat Indonesia kini melihat Iran sebagai negara yang, meskipun telah menghadapi lebih dari empat dekade sanksi, tetap berhasil mencapai kemajuan penting dalam bidang teknologi, pertahanan, kedokteran, pendidikan tinggi, dan penelitian. Perkembangan tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat Indonesia terhadap Iran.

Kini banyak masyarakat Indonesia mengenal Iran sebagai contoh negara yang mampu terus melanjutkan pembangunan dengan mengandalkan kemampuan domestik, kemandirian politik, dan kepercayaan terhadap potensi nasional.

ABNA: Dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap Iran dan budaya Revolusi Islam Iran, apa usulan Anda untuk memperkuat hubungan antara masyarakat kedua negara?

Menurut saya, salah satu bidang terpenting untuk mengembangkan hubungan Iran dan Indonesia adalah memperluas kerja sama ilmiah dan akademik. Iran memiliki potensi besar dalam bidang teknologi, kedokteran, farmasi, teknik, penelitian, studi perempuan dan keluarga, serta ilmu-ilmu Islam kontemporer. Potensi tersebut dapat membuka peluang lebih besar bagi pemberian beasiswa, pelaksanaan penelitian bersama, dan pengembangan kerja sama ilmiah bagi mahasiswa maupun peneliti Indonesia.

Dalam beberapa bulan terakhir, banyak orang bertanya kepada saya mengenai kesempatan belajar di Iran, sistem pendidikan tinggi, serta program beasiswa yang tersedia. Meningkatnya minat tersebut merupakan peluang yang sangat baik untuk mempererat hubungan akademik antara kedua negara. Selain bidang pendidikan, kerja sama budaya dan media juga memiliki arti yang sangat penting.

Semakin masyarakat Indonesia mengenal Iran secara langsung, tanpa perantara media-media Barat, maka semakin objektif pula gambaran yang mereka peroleh mengenai negara ini. Sebaliknya, semakin masyarakat Iran mengenal Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, maka hubungan kedua bangsa akan semakin kuat.

Hubungan Iran dan Indonesia tidak semestinya hanya berlangsung pada tingkat pemerintahan, tetapi juga harus dikembangkan melalui universitas, lembaga ilmiah, media, institusi kebudayaan, dan hubungan antarkeluarga di kedua negara. Meskipun perang terakhir menimbulkan banyak kerugian, kenyataannya pandangan masyarakat Indonesia terhadap Iran telah berubah. Kini Iran semakin dikenal sebagai negara yang mandiri, tangguh, serta memiliki kemampuan ilmiah dan teknologi yang maju.

Bagi banyak masyarakat Indonesia, pengalaman Iran menunjukkan bahwa sebuah bangsa mampu bertahan menghadapi tekanan kekuatan-kekuatan besar melalui kemandirian, kepercayaan diri, dan keteguhan, sekaligus tetap melanjutkan jalan menuju kemajuan.

ABNA: Terimakasih atas kesempatan yang telah anda berikan.

Sama-sama. 

Your Comment

You are replying to: .
captcha