Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pesan Ayatullah al-Uzhma Hossein Nouri Hamedani, salah satu marja taklid terkemuka iran, kepada Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-40 dibacakan dalam acara pembukaan konferensi oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Modarresi Yazdi.
Dalam pesan yang disampaikan bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut, Ayatullah Nouri Hamedani menekankan pentingnya persatuan dan pendekatan antarmadzhab Islam dalam situasi dunia Islam saat ini. Ia juga memperingatkan adanya berbagai upaya yang menurutnya ditujukan untuk melemahkan umat Islam.
Berikut isi lengkap pesannya:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya yang suci, khususnya Baqiyatullah di muka bumi. Semoga laknat Allah atas seluruh musuh mereka hingga Hari Kiamat.
Pertama-tama, saya menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran penuh berkah Nabi Muhammad SAW, Nabi persatuan, kepada seluruh umat Islam dan kepada saudara-saudara yang hadir dalam konferensi ini. Saya juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para pihak yang telah berperan dalam penyelenggaraan forum yang berharga ini.
Pada kesempatan ini, saya mengenang pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini, serta para syuhada dalam perjuangan mempertahankan Iran dari agresi Amerika Serikat dan Israel. Saya juga mengenang Pemimpin Besar dan pembawa panji persatuan umat Islam, Ayatullah al-Uzhma Sayid Ali Khamenei. Semoga Allah meninggikan derajat mereka.
Persatuan dan pendekatan antarmuslim sepanjang sejarah Islam selalu merupakan sebuah kebutuhan. Namun hari ini, ketika musuh-musuh Islam dengan seluruh kemampuan mereka berupaya melemahkan umat Islam, menciptakan perpecahan, dan menguasai negara-negara Islam, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting.
Kebutuhan rasional dan kewajiban syariat untuk menjaga persatuan kini semakin jelas dibanding sebelumnya. Al-Qur’an telah mengajak umat Islam untuk bersatu dan dengan tegas melarang pertikaian serta perpecahan yang dapat melemahkan kekuatan dan kewibawaan mereka.
Tentu saja, pendekatan dan persatuan bukan berarti para pengikut mazhab Islam harus meninggalkan prinsip dan keyakinan masing-masing. Perbedaan ilmiah harus tetap berada dalam ruang ilmu dan penelitian dan tidak boleh berubah menjadi sarana pertikaian, takfir, maupun pertumpahan darah di antara umat Islam.
Para ulama Islam memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam persoalan ini. Dengan wawasan dan kesadaran, mereka harus mencegah perbedaan mazhab dimanfaatkan sebagai alat untuk menciptakan fitnah dan perpecahan di tengah umat Islam.
Saat ini musuh-musuh Islam, terutama Amerika Serikat dan Israel, tidak menginginkan apa pun selain kelemahan, perpecahan, dan keterbelakangan umat Islam. Merupakan sikap yang naif apabila seseorang menganggap kedua kekuatan tersebut bergerak secara independen dan memiliki tujuan yang berbeda. Pengalaman masa lalu telah menunjukkan dengan jelas bahwa tujuan mereka adalah menguasai kawasan dan mencegah negara-negara Islam menjadi kuat. Anggapan bahwa permusuhan mereka hanya ditujukan kepada Republik Islam Iran merupakan pandangan yang sangat keliru.
Para pemimpin kawasan harus memahami bahwa Israel akan berhadapan dengan setiap negara Islam yang kuat, yang berusaha berdiri di atas kaki sendiri, hidup secara independen, dan tidak tunduk pada dominasi kekuatan asing. Hari ini Republik Islam Iran menjadi sasaran permusuhan mereka. Besok, negara Islam mana pun yang menempuh jalan menuju kemandirian dan kekuatan dapat menjadi sasaran yang sama. Atas dasar itu, konvergensi umat Islam dan kerja sama antarpemerintah negara-negara Islam merupakan kebutuhan bagi semua pihak.
Anggapan bahwa satu negara lebih membutuhkan kerja sama sementara negara lainnya tidak memerlukannya tidak sesuai dengan realitas dunia Islam. Persatuan dan kerja sama merupakan kebutuhan semua bangsa dan pemerintahan Islam. Kehormatan dan keamanan negara-negara Islam tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tidak mungkin berharap satu negara Islam memperoleh keamanan dan kekuatan yang berkelanjutan di tengah kelemahan, ketidakamanan, dan perpecahan negara-negara Islam lainnya.
Musuh bersama memanfaatkan perpecahan umat Islam. Yang dapat menghentikan ambisi mereka terhadap negeri-negeri Islam adalah kebangkitan, kesadaran, persatuan, serta kerja sama di antara bangsa dan pemerintahan Muslim.
Sejak kemenangan Revolusi Islam, Republik Islam Iran telah menjadikan persatuan umat Islam, kehormatan Islam, dan kemerdekaan negara-negara Muslim sebagai prinsip fundamental dan telah menanggung banyak pengorbanan dalam perjalanan tersebut. Kepemimpinan, angkatan bersenjata, dan masyarakat Iran memahami pentingnya persatuan ini serta tetap berkomitmen terhadapnya. Namun sangat disayangkan, terkadang sebagian wilayah negara-negara Muslim justru dipertimbangkan sebagai pangkalan untuk melakukan serangan atau agresi terhadap Republik Islam Iran.
Jelas bahwa mempertahankan kemerdekaan, keamanan, dan keutuhan wilayah merupakan hak yang sah dan kewajiban yang pasti. Apabila terjadi agresi, Republik Islam Iran akan berkewajiban menghadapi pihak penyerang. Dalam jangka panjang, pertahanan tersebut pada hakikatnya juga merupakan pembelaan terhadap keamanan kawasan dan bangsa-bangsa Muslim karena musuh bersama berupaya mendominasi mereka.
Tidak diragukan lagi, umat Islam saat ini lebih membutuhkan ajaran berharga mengenai persatuan dibandingkan masa-masa sebelumnya. Kondisi dunia Islam saat ini, serangan terhadap tubuh umat Islam di Palestina, Lebanon, Suriah, Irak, Iran, dan Yaman, serta kehadiran kekuatan musuh di berbagai negara kawasan, semakin menuntut bangsa dan pemerintahan Muslim untuk menjaga persatuan serta menjauhkan diri dari pertikaian dan konflik internal.
Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan beberapa poin sebagai pengingat.
Pertama, persatuan, pendekatan antarmuslim, serta menjauhi perbedaan dan perpecahan selalu diperlukan, khususnya dalam kondisi saat ini. Segala sesuatu yang menyebabkan umat Islam saling menjauh, tanpa diragukan lagi akan menguntungkan musuh-musuh umat.
Kedua, musuh utama umat pada masa sekarang adalah Israel dan para pendukungnya yang menindas. Mereka menduduki wilayah-wilayah Islam dan tempat-tempat suci umat Muslim, serta membunuh perempuan, anak-anak, dan warga sipil tak berdosa. Mereka merupakan faktor utama ketidakamanan dan perang di kawasan kita.
Segala bentuk hubungan dengan Israel dan bantuan untuk mempertahankan keberadaannya bertentangan dengan kepentingan umat. Bangsa-bangsa Muslim harus berdiri secara bersatu menghadapi musuh bersama tersebut dan tidak boleh berhenti membantu rakyat Muslim yang tertindas di Palestina, Lebanon, dan wilayah lain yang menjadi sasaran serangan.
Pemerintah-pemerintah Muslim diharapkan semakin memperhatikan persatuan dan kerja sama bersama serta tidak menggantungkan keamanan negara mereka kepada musuh-musuh umat yang hanya memikirkan kepentingan sendiri dan kepentingan Israel.
Harus disadari bahwa kehadiran kekuatan-kekuatan tersebut di kawasan kita tidak menghasilkan apa pun selain ketidakamanan dan kerusakan. Dalam situasi ini, tanggung jawab para ulama Islam sangat penting dan berat.
Para ulama harus mengajak masyarakat dan pemerintah kepada kesadaran serta kemampuan mengenali musuh. Mereka juga harus menjadi pihak terdepan dalam menyatukan hati dan mencegah pertikaian serta perpecahan.
Hauzah ilmiah, universitas, dan pusat-pusat ilmu di dunia Islam harus menjadi ruang dialog ilmiah serta pembelaan terhadap kepentingan umat Islam, bukan justru menjadi sarana berkembangnya konflik mazhab dan perpecahan di antara Muslim.
Pada kesempatan ini, sambil mendoakan keberhasilan bagi para peserta konferensi, saya meminta agar dalam dialog-dialog yang berlangsung, Anda memberikan perhatian kepada langkah-langkah praktis untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, serta pusat-pusat keilmuan dan keagamaan di dunia Islam. Saya juga berharap berbagai rencana dan upaya untuk memecah belah umat Islam dapat dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat Muslim.
Pada akhirnya, saya memohon kepada Allah Yang Mahamulia agar mengantarkan umat Islam kepada kehormatan yang layak kita miliki, memperbaiki berbagai persoalan umat, mendekatkan hati kita satu sama lain, serta menjauhkan tangan musuh dari negeri-negeri Islam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar Anda