Menurut Kantor Berita ABNA, Ketua Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Sulawesi Selatan Mochtar Dg Lau menegaskan pihaknya sangat menyesalkan jika ada oknum yang membubarkan paksa diskusi yang digelar komunitas Lentera Negeri, Kamis (13/4/2017) malam lalu.
“Apalagi sampai memukul dan merampas barang-barang mereka. Itu bukan cara-cara Islami,” tegas Mochtar yang dihubungi via telepon, Jumat (14/4/2017) malam. Menurut Mochtar, FUIB Sulsel mengedepankan cara-cara santun dan taat hukum dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.
Penegasan Mochtar tersebut merespon adanya laporan aktivis Lentera Negeri yang mengaku diskusi mereka dibubarkan paksa, Kamis (13/4/2017) malam. Pelakunya adalah beberapa oknum salah satu ormas di kota ini. Kejadiannya di Volunteer Café, Kompleks BTN Antara, Kota Makassar.
Beberapa aktivis Lentera Negeri juga dipukul oknum ormas tersebut. Beberapa barang berharga mereka yakni satu unit laptop, dua tas dan KTP dirampas pelaku. Hingga hari ini belum dikembalikan.
Lentera Negeri adalah lembaga yang didirikan sejumlah alumni HMI yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan anak yatim serta anak kurang mampu.
Kronologis
Pendiri Lentera Negeri Dr Syahid Arsyad MT yang juga pengurus KAHMI Kota Makassar menceritakan kronologis kejadian tersebut:
Pada Kamis 13 April 2017 pukul 19.00 wita, mereka melaksanakan diskusi. Temanya "Once Upon a Time in Karbala and Irak." Syaharuddin Abbas SS yang juga alumni University of Al-Ma'had, Al-Islaamy Al-Aly, Karbala, Irak, tampil sebagai narasumber.
Syaharuddin juga adalah pengajar di Pesantren Nurul Junaidiyah Luwu Timur. Pesantren ini diasuh Ketua NU Luwu Timur (Lutim) sekaligus pengurus MUI setempat. Sesuai tema, diskusi ini membahas bagaimana proses mendapatkan beasiswa, pengalaman saat berangkat kuliah dan beradaptasi di luar negeri.
Saat diskusi baru berlangsung sekitar 30 menit, tiba-tiba datang sekelompok orang tak dikenal. Mereka membubarkan paksa kegiatan diskusi karena dianggap menyebarkan paham sesat. Narasumber dan peserta diskusi digiring ke masjid untuk diinterogasi. Dalam perjalanan ke mesjid, narasumber dan beberapa peserta lainnya mendapatkan pukulan.
Selama proses interogasi di masjid, tas dan laptop diperiksa. Mereka dipaksa mengaku beraliran syiah. “Padahal kami semua tidak ada yang syiah. Tapi syiahpun, tidak dibenarkan jadi alasan ormas tertentu untuk boleh main hakim sendiri,” tegasnya.