Menurut Kantor Berita ABNA, kehadiran dan keikutsertaan kaum perempuan dalam perang bukan sesuatu yang mengherankan lagi, mereka terlibat bukan hanya di dapur umur atau diruang-ruang medis mengobati dan merawat pasukan yang terluka namun juga terjun langsung di medan perang dengan mengangkat senjata.
Begitupula yang terjadi di Irak dan Suriah, kaum perempuan juga terlibat langsung dalam perang untuk mengusir militan teroris yang mengacau di negeri mereka. Wahidah Muhammad al-Jamili, seorang ibu rumah tangga biasa yang karena kondisi perang akhirnya terlibat di medan pertempuran menghadapi militan-militan dari kelompok teroris. Perannya tidak kecil, ia malah diangkat menjadi salah satu komandan pasukan sukarelawan Irak.
Berhadapan dengan teroris, dia telah berkorban banyak, suami, anak-anak dan empat saudaranya telah gugur dalam pertempuran.
Dia digelari Ummu Hanadi, mempimpin pemuda-pemuda di kampungnya untuk mengangkat senjata seadanya menghadapi ISIS. Ia telah terkena peluru lebih dari 6 kali di meda tempur, dan luka terparah yang pernah dialaminya adalah dibagian kepala. Namun meski demikian, nyawanya selalu selamat dan bisa sembuh kembali pasca mendapat perawatan medis.
Pekan sebelumnya, pasukannya bersama dengan militer Irak berhasil membebaskan kota Rahbardi di provinsi Shalahuddin di bagian selatan Moshul. Dia sendiri warga kota Sharqat dan menurut pengakuannya, akan terus terlibat dalam upaya pembebasan wilayah Irak yang sempat dikuasai ISIS.
Berikut sejumlah foto yang mengabadikan komandan perempuan Irak yang pejuang dan berjiwa tegar tersebut:











