16 September 2016 - 11:49
Ideologi Takfiri Saudi Sumber Kejahatan ISIS di Suriah

Khatib Shalat Jumat Tehran, Ayatullah Sayid Ahmad Khatami menilai kejahatan kelompok teroris ISIS di Suriah bersumber dari ideologi Takfiri yang berkuasa di Arab Saudi.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Khatami seraya mengisyaratkan kejahatan ISIS di hari Raya Kurban di Suriah mengatakan, “Brutalitas ISIS berasal dari ideologi Wahabi Arab Saudi”.

Seraya menjelaskan bahwa sejak berkuasanya keluarga Al Saud dengan bantuan Inggris di Arab Saudi, rezim ini melanjutkan kekuasannya dengan pembantaian dan perampokan, Ayatullah Khatami menambahkan, “Apa yang kita saksikan saat ini di Yaman adalah buah dari tiga abad agresi, perampokan dan pembantaian oleh Saudi.

Khatib shalat Jumat Tehran menyebut pemerintah Arab Saudi sebagai rezim anti Hak Asasi Manusia (HAM. “Saudi sejak lama menjalin hubungan rahasia dengan rezim Zionis Israel dan saat ini berani secara terang-terangan melanjutkan hubungan tersebut. Dan rezim Al Saud merupakan mitra Israel dalam melakukan kejahatan membantai rakyat tak berdaya Palestina,” kata Ayatullah Khatami.

Ayatullah Khatami menilai kerjasama Riyadh dengan Tel Aviv sebagai noktah hitam Al Saud dan menambahkan, Dunia Islam dalam waktu dekat akan menyaksikan tumbangnya rezim pembantai anak-anak ini.

Menyinggung gencatan senjata yang diberlakukan di Suriah, Ayatullah Khatami mengatakan, Republik Islam Iran mendukung setiap upaya yang mengakhiri pertumpahan darah di Suriah.

Menurut Ayatullah Khatami, Amerika Serikat dan Barat merupakan pengobar berlanjutnya krisis di Suriah. “Solusi tunggal mengakhiri krisis di Suriah adalah keluarnya AS dan kelompok teroris beserta sponsornya dari Damaskus,” papar Ayatullah Khatami.

Di khutbahnya, Ayatullah Khatami juga menyebut keputusan bergabungnya Iran di Organisasi FATF atau the Financial Action Task Force sepenuhnya wewenang Dewan Tinggi Keamanan Nasional.

“Pihak berwenang akan mengambil keputusan ini dengan mempertimbangkan komitmen pihak seberang dalam menjalankan kewajibannya di kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA),” ungkap Ayatullah Khatami.