Menurut Kantor Berita ABNA, pada acara tersebut, Rahbar menyampaikan ucapan selamat atas peringatan hari berbahagia ini dan memberikan penjelasan penting terkait perundingan nuklir Iran.
Rahbar memulai penjelasannya dengan menyatakan, “Sejumlah pihak bertanya mengapa Rahbar tidak mengambil sikap tentang perundingan nuklir terbaru?”
Beliau menegaskan, “Sebab tidak adanya sikap Rahbar adalah karena tidak ada yang harus disikapi, karena para pejabat negara dan pejabat nuklir menyatakan sampai sekarang belum ada yang telah dilakukan dan tidak ada masalah yang mengikat di antara kedua pihak.”
Ayatullah Khamenei menambahkan bahwa kondisi seperti ini tidak memerlukan sikap.
Kemudian beliau mengatakan, “Jika ada yang bertanya kepada saya apakah Anda menyetujui atau menentang perundingan nuklir terbaru? Saya akan katakan bahwa saya tidak setuju dan tidak menentang, karena belum terjadi apapun.”
Rahbar menegaskan, “Semua permasalahan akan muncul setelah semua perincian dibahas dan dirundingkan, karena pihak seberang, keras kepala, pengingkar janji, buruk dalam bernegosiasi dan terbiasa menikam dari belakang serta mungkin dalam tahap pembahasan soal perincian, mereka akan mengepung negara, rakyat dan para juru runding.”
Menurut beliau, apa yang terjadi sampai sekarang bukan kesepakatan inti, bukan perundingan yang berujung pada kesepakatan, tidak menjamin konteks dari kesepakatan tersebut, dan bahkan masalah ini tidak menjamin bahwa perundingan akan berujung pada kesepakatan, oleh karena itu tidak ada artinya untuk mengucapkan selamat.
Rahbar menekankan, “Saya tidak pernah optimis terkait perundingan dengan Amerika Serikat, dan hal ini tidak berdasarkan halusinasi melainkan karena pengalaman yang ada terkait hal ini.”
Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Jika di masa mendatang, perincian masalah, peristiwa dan catatan perundingan nuklir dalam beberapa waktu terakhir dipublikasikan, maka semua akan memahami dari mana datangnya pengalaman kami.”
“Meski saya tidak optimis dalam perundingan dengan Amerika Serikat, akan tetapi perundingan ini adalah satu kasus yang telah saya dukung dan saya mendukungnya sekarang,” tutur Rahbar.
“Saya mendukung 100 persen kesepakatan yang menjamin kehormatan bangsa Iran dan jika ada yang pihak yang mengatakan bahwa Rahbar menentang tercapainya kesepakatan, maka dia sedang berbicara bukan yang sebenarnya.”
Namun Rahbar juga kembali menekankan, “Meski demikian saya juga telah katakan bahwa tidak mencapai kesepakatan lebih baik daripada kesepakatan yang buruk, karena tidak menerima kesepakatan yang menistakan kepentingan bangsa Iran dan menghancurkan kehormatan bangsa, adalah terhormat dibanding kesepakatan yang akan menistakan bangsa Iran.”
Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, “Saya mempercayai para pelaksana perundingan nuklir dan hingga kini saya tidak meragukan mereka dan insya Allah di masa mendatang juga tetap demikian, akan tetapi saya punya kekhawatiran terkait perundingan nuklir."
Menjelaskan kekahwatiran tersebut, Ayatullah Khamenei memaparkan bahwa pihak seberang adalah “penipu, pembohong, pengingkar janji” dan bergerak melawan jalur yang benar, seraya mengatakan, “Salah satu contoh dari sikap pihak seberang dalam perundingan terbaru adalah Gedung Putih selang sekitar dua jam pasca perundingan, merilis beberapa halaman pernyataan yang menjelaskan perundingan di mana sebagian besarnya tidak sesuai dengan kenyataan.”
Beliau menilai tidak mungkin menyusun pernyataan seperti itu dalam waktu dua jam [pasca perundingan], oleh karena itu ketika perundingan sedang berlangsung, mereka telah menyusun pernyataan yang distorsif, melenceng dan bertentangan dengan konteks perundingan.
Rahbar Prekdisi Kekalahan Arab Saudi di Yaman
Rahbar menilai perilaku pemerintah Saudi dalam beberapa waktu terakhir di Yaman, sama seperti kejahatan rezim Zionis di Jalur Gaza. Beliau menilai agresi terhadap rakyat Yaman sebagai “tindak kriminal, genosida, dan dapat dituntut di tingkat internasional.
“Pembunuhan anak-anak, perusakan rumah-rumah serta penghancuran infrastruktur dan kekayaan nasional sebuah negara, merupakan tindak kejahatan besar,” tegas beliau.
Rahbar juga menekankan bahwa pastinya pihak Saudi akan merugi dalam hal ini dan tidak akan dapat menang.
Menjelaskan prediksi kekalahan Arab Saudi dalam serangannya ke Yaman, Ayatullah Khamenei memaparkan, “Bukti prediksi ini sangat jelas, karena kemampuan militer orang-orang Zionis berkali-lipat lebih tinggi dibanding Arab Saudi dan wilayah Gaza adalah sebuah kawasan kecil, akan tetapi mereka tidak berhasil, sementara Yaman adalah sebuah negara luas dan berpenduduk puluhan juta orang.”
“Orang-orang Saudi pasti akan menderita pukulan dalam hal ini dan mereka akan tersungkur,” tutur Rahbar.
Menyinggung rapor Arab Saudi di kancah politik luar negeri, Rahbar mengatakan, “Kami memiliki banyak perselisihan dengan pihak Saudi dalam berbagai masalah politik, akan tetapi kami selalu mengatakan bahwa dalam urusan politik, mereka akan menunjukkan ketenangan dan kewibawaan, namun beberapa pemuda tidak berpengalaman telah memegang kendali negara [Saudi] dan sedang mengutamakan sisi kebuasan di atas ketenangan dan pretensi, di mana hal ini pasti akan merugikan mereka.”
Kepada pemerintah Arab Saudi, Rahbar menyatakan, “Langkah ini di kawasan tidak dapat diterima dan saya peringatkan bahwa mereka harus mengakhiri kejahatan di Yaman.”
Terkait dukungan dan pembelaan Amerika Serikat terhadap pemerintah Arab Saudi, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, “Ini sudah menjadi watak Amerika Serikat, dalam semua masalah di mana alih-alih mendukung pihak tertindas, mereka justru mendukung pihak zalim, akan tetapi mereka juga akan merugi dan gagal dalam hal ini.”
Adapun terkait klaim intervensi Iran di Yaman, Rahbar menjelaskan, “Pesawat-pesawat penjahat mereka telah membuat langit Yaman tidak aman dan untuk menjustifikasi intervensi di Yaman mereka mencari-cari alasan konyol yang ditolak menurut pandangan Allah Swt, bangsa-bangsa, dan logika internasional, namun mereka tidak menilai langkah itu sebagai intervensi dan sebaliknya menuding Iran.”
Ayatullah Khamenei menilai Yaman sebagai bangsa kuno yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menentukan pemerintahan mereka. “Penting bagi pemerintah Arab Saudi untuk segera mengakhiri tidak kriminal tragisnya.”
Menganalisa lebih dalam krisis Yaman, Rahbar menjelaskan bahwa rencana awal yang telah disusun oleh musuh bangsa Yaman, adalah menciptakan kekosongan kekuasaan dan kemudian menciptakan kondisi yang sama seperti kondisi sangat buruk dan tragis di Libya. “Untungnya mereka gagal dalam merealisasikan tujuan tersebut, karena para pemuda mukmin, pecinta dan yang meyakini jalan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib as) baik Syiah, Sunni, Zaidi dan Hanafi, bangkit serta mulai sekarang akan melawan dan akan menang.” [IRIB]