3 April 2015 - 05:39
Ayatullah Makarim Kecam Agresi Saudi ke Yaman

Patut Arab Saudi ketahui, jika kobaran api di Yaman yang disulutnya tidak segera dipadamkan, maka ada dua pilihan, atau kaum revolusioner Yaman yang kemungkinan besar meraih kemenangan atau perang terus akan berlanjut dan akan menguras kekayaan kedua Negara.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi menyikapi agresi militer Arab Saudi dan koaliasinya atas Yaman dengan mengeluarkan pernyataan tertulis, yang kemudian disampaikan melalui media-media nasional Iran.

Dalam pernyataan tertulisnya tersebut, beliau menyatakan bahwa dunia hari ini dipenuhi dengan bid’ah baru. Ia menulis, “Di dunia hari ini bermunculan bid’ah-bid’ah baru. Jika seorang pemimpin di sebuah Negara tidak disepakati atau didukung oleh Negara lain, maka Negara lain dianggap boleh ikut campur bahkan menyerang Negara yang bersangkutan dengan kekuatan militer, tanpa perlu mengantongi izin internasional. Dengan bid’ah ini, dunia memasuki kondisi yang tidak aman.”

Berikut teks tertulis secara lengkap pernyataan Ayatullah Makarim Shirazi menyikapi fenomena terakhir yang melanda kawasan Timur Tengah.

Bismillahirrahmanirrahim

Kembali terjadi pengrusakan dan penghancuran sebuah Negara muslim ditangan kaum muslimin sendiri. Negara muslim Yaman diserang secara brutal oleh tangan dan dana umat Islam sendiri.

Hari sebelumnya Libya, Suriah dan sebagian wilayah Irak dilanda konflik yang memporakporandakan infrastruktur Negara-negara tersebut. Sebuah kemelut yang belum tentu berakhir sampai 10 tahun kedepan. Dan hari ini adalah giliran Yaman, dan keesokan harinya adalah giliran Negara-negara perusak.

Kekuatan dunia menganggap kekuatan Islam adalah sebesar-besarnya penghalang dan penghambat kepentingan mereka. Dan ini adalah agenda dan konspirasi yang mengherankan yang tanpa alasan jelas mereka merusak dan mengacaukan kedaulatan dan keamanan suatu Negara, sehingga antara Negara-negara muslim saling bertikai dan terlibat dalam peperangan militer yang tak berkesudahan, yang menghancurkan sendiri apa yang telah susah payah mereka bangun.

Yang lebih mengherankan lagi, Israel yang merupakan musuh utama umat Islam, dalam serangan Arab Saudi dan koalisinya atas Yaman justru yang paling bergembira dan merasa paling diuntungkan dalam konflik tersebut. Israel mendukung Arab Saudi memimpin agresi menghancurkan Yaman. Dan lebih buruk lagi, PBB sama sekali tidak mampu memandang konflik ini dengan benar, bahkan kebungkaman atau pernyataan-pernyataan yang mereka keluar, ibarat sedang menyiramkan bensin pada api yang sedang berkobar.

Hakikatnya PBB dan Dewan Keamanan PBB bukanlah sebuah pohon yang melindungi dan mengayomi Negara-negara anggotanya. Tidak tersisa dari organisasi internasional ini kecuali ranting-ranting pohon yang kering dan tanpa daun, yang bahkan sangat rentan terbakar dan hancur.

Selain dari itu persatuan Arab dan falsafah pembentukannya adalah untuk melindungi hak-hak bangsa Arab, namun yang terjadi koalisi ini bukan untuk mendukung tegaknya Negara Islam tapi justru saling menghancurkan satu sama lain. Sementara Mufti Hijaz yang belum lama ini mengadakan konferensi ulama Islam dan mengeluarkan fatwa haramnya darah kaum muslimin untuk ditumpahkan, hari ini justru berbeda 180 derajat. Mereka melalui fatwa terbarunya justru mendukung agresi koalisi Arab atas Yaman yang menewaskan puluhan warga sipil yang tidak berdosa.

Sementara jika kita dengan teliti dan cerdas melihat masalah ini, maka sebenarnya sumber masalahnya sangat jelas. Yaman sebuah Negara berdaulat sedang mencetuskan revolusi, mereka menentang dan meruntuhkan sebuah rezim yang menurut mereka fasik. Yang karena ketakutan pimpinan rezim itu kemudian melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Negara lain. Apakah akal sehat kita bisa menerima bahwa melalui agresi dan pemaksaan, jabatan sang presiden itu bisa dikembalikan ke tangannya dan kemudian bisa tercipta keamanan di negeri tersebut, ataukah semestinya jika terjadi pertikaian disebuah Negara langkah yang harus ditempuh adalah melakukan dialog nasional untuk menemukan solusi bersama?.

Di dunia hari ini bermunculan bid’ah-bid’ah baru. Jika seorang pemimpin di sebuah Negara tidak disepakati atau didukung oleh Negara lain, maka Negara lain dianggap boleh ikut campur bahkan menyerang Negara yang bersangkutan dengan kekuatan militer, tanpa perlu mengantongi izin internasional. Dengan bid’ah ini, dunia memasuki kondisi yang tidak aman.

Dan lebih dari semua ini, yang jauh lebih mengherankan lebih dari 50 tahun Israel telah menjajah dan menguasai wilayah penting dari dunia Islam. Namun tidak pernah mendapatkan badai perlawanan sedemikian sengit sebagaimana yang harus dihadapi rakyat Yaman hari ini. Sebagaimana yang dikatakan ulama mujahid Hizbullah Lebanon, yang didapat oleh AS dan Israel dari koalisi Arab bukannya badai perlawanan, melainkan angin-angin sepoi yang justru membuat mereka nyaman dan betah di Negara jajahan mereka.

Patut Arab Saudi ketahui, jika kobaran api di Yaman yang disulutnya tidak segera dipadamkan, maka ada dua pilihan, atau kaum revolusioner Yaman yang kemungkinan besar meraih kemenangan atau perang terus akan berlanjut dan akan menguras kekayaan kedua Negara.

Maka langkah yang paling baik dan layak adalah mencegah kerugian yang akan lahir dari tindakan yang gegabah.

Wassalamu ‘ala manittaba’a al Huda