Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Kermani menyingung berlanjutnya perundingan dan mengatakan bahwa musuh tidak punya jalan lain kecuali berunding dengan Iran dan Republik Islam tidak akan merelakan hak-haknya.
Ayatullah Movahhedi Kermani menyinggung skandal penyiksaan oleh Dinas Rahasia Amerika Serikat dan mengatakan, “Sampai kapan dunia harus menyaksikan rasisme dan serangan polisi kepada warga kulit berwarna.”
Khatib shalat Jumat Tehran mengutuk pembunuhan dan penyiksaan warga kulit hitam Amerika Serikat oleh polisi serta menyeru para pejabat AS untuk merenungkan pelanggaran terhadap hak-hak warga kulit berwarna.
Ayatullah Movahhedi Kermani juga menyinggung dimulainya hubungan diplomatik AS dan Kuba dan mengatakan, “John Kerry, Menteri Luar Negeri AS mengaku bahwa justru Washington yang lebih merugi dibanding Havana atas sanksi zalim itu.”
Di bagian lain khutbahnya, Ayatullah Movahhedi Kermani mengapresiasi pemerintah dan rakyat Irak dalam pelaksanaan besar peringatan Arbain Imam Husein as.
“Peringatan besar itu digelar secara aman dan dengan partisipasi jutaan Muslim dari berbagai dunia, meski ancaman dari kelompok teroris ISIS.”
Terkait insiden teror di Peshawar, Pakistan, khatib shalat Jumat Tehran mengutuk serangan tersebut dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.(IRIB)