Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al-Uzhma Nashir Makarim Shirazi dalam acara pembukaan penyambutan masuknya tahun ajaran baru santri Provinsi Tehran di Mushalla Imam Khomeini ra, Tehran, Republik Islam Iran [13/9] menyatakan, “Islam tidak hanya mewajibkan bagi pengikutnya untuk menuntut ilmu, namun juga mewajibkan bagi para asatid dan cendekiawan untuk mengajarkannya. Bahkan dalam literatur hadis kita menemukan, bahwa Allah SWT tidak membuat perjanjian dengan umat manusia mengenai wajibnya mereka menuntut ilmu sebelum mengambil janji dari para ulama untuk wajibnya bagi mereka untuk mengajarkannya.”
Ulama marja taklid Syiah tersebut lebih lanjut menegaskan bahwa dalam Islam belajar dan mengajar keduanya adalah kewajiban bagi pengikutnya. “Tidak sedikit ayat dalam Al-Qur’an maupun hadis dari para Maksumin As mengenai anjuran menuntut ilmu karena banyak dan besarnya keutamaan yang terkandung di dalamnya. Misalnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As pernah bersabda, ‘Pelajarilah ilmu itu karena mengandung sepuluh keutamaan. Mempelajari dan membahasnya bagi kamu adalah kebaikan, penelitian dan pengkajian kamu dalam pelajaran adalah jihad, dan sebaik-baiknya hadiah adalah mengajarkan ilmu.”
“Jika kita terjebak dalam ketakutan dan kekhawatiran, ilmu adalah pelindung kita, jika kita berada dalam kesendirian, maka buku-bukulah yang menjadi teman setia kita. Ilmu adalah senjata dalam menghadapi musuh dan perhiasan dalam pergaulan sesama teman.” Tambahnya.
Ayatullah Makarim Shirazi mengenai posisi ulama di tengah-tengah masyarakat, mengatakan, “Allah SWT meninggikan derajat suatu kaum melalui ilmu, dan membuatnya menjadi pemimpin bagi yang lain. Bukan hanya itu, siapapun yang lebih berilmu dari yang lain akan ditinggikan derajatnya oleh Allah dari semua makhluk yang ada. Disebutkan Allah SWT dan para malaikat bershalawat atas Nabi Muhammad Saw, namun dalam riwayat juga disebutkan kepada mereka yang berilmu, bukan hanya Allah SWT, malaikat dan para Anbiyah As yang bershalawat untuknya, namun juga semua makhluk yang ada dimuka bumi. Ini menunjukkan betapa orang yang berilmu itu memiliki keutamaan yang sangat besar.”
Sementara mengenai pengaruh maknawi dari upaya menuntut ilmu dan mengajarkannya, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, “Pada hari kiamat, tiap orang akan mendapatkan catatan amalnya masing-masing. Sebagian, ketika melihat catatan amalnya, ia melihat adanya catatan mengenai amalan kebaikan yang tidak pernah ia lakukan, atau amal saleh yang ia lakukan tidak sebanyak yang tercatat pada catatan amal tersebut. Dengan penuh rasa takjub dan keheranan ia mempertanyakan catatan tersebut kepada Allah SWT dengan mengatakan, ‘Ya Allah, saya tidak pernah melakukan amalan kebaikan sebanyak ini ketika masih hidup di dunia.’ Maka Allah SWT menjawab kebingungan tersebut dengan berfirman, ‘Ini adalah hasil dari aktivitas keilmuanmu, yang ketika di dunia, kau telah banyak mengajarkan ilmu kepada orang lain.’”.
Ulama besar Iran yang juga dikenal sebagai mufassir yang telah menulis kitab tafsir al-Amtsal tersebut lebih lanjut mengatakan, “Ulama dan kalangan terpelajar dari umat Islam ini tidak akan mengizinkan Iblis dan pasukannya untuk menyerang dan menghancurkan Syiah. Mereka akan menjadi benteng penjaga bagi keutuhan umat Islam Syiah. Mereka bekerja siang malam untuk menjawab syubhat-syubhat dan berhadapan langsung dengan segala upaya yang hendak menggoyahkan keyakinan ummat akan kesucian mazhab yang mulia ini. Kita tahu musuh-musuh Islam, utamanya dari kelompok takfiri, sangat berambisi merusak pondasi keyakinan tersebut dengan melancarkan secara gencar syubhat-syubhat pemikiran yang merusak ditengah-tengah masyarakat. Dengan mempropagandakan Syiah adalah mazhab yang lahir dari kebencian dan dendam kepada kelompok Sunni. Syiah adalah kelompok penyusup ditengah-tengah umat Islam untuk menghancurkan umat ini dari dalam.”
“Dengan adanya serangan pemikiran tersebut, santri dan para ulama Syiah sudah seharusnya kuat dan memiliki ilmu yang tinggi dan pengetahuan dalam menghadapi perang pemikiran tersebut. Mereka harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan lihai dalam memberikan jawaban atas syubhat-syubhat kelompok takfiri. Dengan pengetahuan dan penguasaannya yang cukup atas ma’arif Islam, Al-Qur’an dan khazanah Ahlul Bait, mereka diharap berada di garda terdepan membela dan mempertahankan keyakinan umat agar tidak kokoh dan melemah.” Tambahnya.
“Mazhab Syiah bukanlah mazhab yang lahir kemarin sore. Ia adalah mazhab yang terlahir dari ajaran-ajaran imam-imam yang suci yang telah mendapat petunjuk dan bimbingan Allah SWT, dijaga dengan gigih oleh para ulama yang ahli dibidangnya dan memiliki penguasaan ilmu syariat yang tinggi. Lewat perjuangan mereka mazhab ini tetap berdiri tegar dalam menghadapi berbagai serangan pemikiran. Segala syubhat yang para musuh lontarkan menjadi tidak berarti lewat jawaban-jawaban yang diberikan para ulama kita, bahkan mazhab ini makin berkembang dan mengalami peningkatan yang sangat pesat. Lihatlah kenyataan hari ini, semakin mazhab ini diserang, semakin mazhab ini menunjukkan kedigdayaannya, semakin mazhab ini dibenci, semakin bertambah orang yang memujinya. Ini adalah karunia besar yang kita rasakan hari ini, betapa Syiah menjadi mazhab yang dicaci sebagian kecil orang, namun itu kemudian menjadi alasan mazhab ini makin dicari dan bertambah popular, populasi pengikutnya pun meningkat pesat.” Ungkapnya lebih lanjut.
Mengenai kerusakan dan pencitraan negatif yang dilakukan ISIS dan kelompok takfiri lainnya, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, “Agenda kelompok takfiri untuk memecah belah persatuan umat Islam semakin hari menjadi semakin jelas. Mata umat Islam menjadi terbuka akan buruknya aqidah dan jahatnya agenda-agenda mereka. Sekarang semuanya paham, apa yang dilakukan kelompok teroris tersebut tidak ada kaitannya dengan perjuangan dan kejayaan Islam. Mereka mengandalkan kekerasan dan terror dalam menyebarkan ajaran mereka, sementara Islam adalah maktab yang tumbuh dan bersumber dari kekuatan akal dan pikiran yang dibimbing oleh hidayah Ilahi.”
Pada bagian akhir dari penyampaiannya, Ayatullah Makarim Shirazi mengingatkan akan pentingnya memadukan ketakwaan dan akhlak dalam menuntut ilmu. “Perbedaan antara universitas-unversitas Islam dengan lembaga pendidikan di Barat adalah, kita katakan dalam lembaga pendidikan kita, aktivitas keilmuan ditujukan untuk peningkatan ketakwaan dan menelurkan pelajar-pelajar yang berakhlak baik, sementara di lembaga pendidikan Barat, pendidikan akhlak tidak mendapat prioritas utama, itulah sebabnya, peneliti-peniliti mereka dengan mudah dan tanpa beban membuat bom atom yang dapat menimbulkan kerusakan yang besar.” Ungkapnya.
“Salah satu mukjizat dari Al-Qur’an adalah mukjizat keilmuan. Dan itulah yang kita saksikan dan rasakan hari. Semakin banyak rahasia alam yang terungkap, semakin banyak penemuan-penemuan sains dan tekhnologi yang didapatkan, maka semakin terasa pentingnya dan keutamaan yang dikandung dalam Al-Qur’an dan Nahjul Balaghah. Jadi berkebalikan dengan apa yang dipropagandakan oleh musuh-musuh Islam, bahwa penemuan-penemuan canggih dalam sains dan tekhnologi membuat Islam menjadi terkucil dan menjadi bukti bahwa Islam adalah ajaran kelompok yang terbelakang. Bagi kita, justru terbalik dari apa yang mereka pahami. Bahwa semakin maju kehidupan maka kita semakin merasakan betapa pentingnya hukum Islam ini. Mukjizat Al-Qur’an dan kebenaran sabda-sabda para Maksumin As semakin terkuak, sehingga keyakinan kita terhadap Islam semakin kokoh, dan membuat kita menjadi semakin butuh akan ajaran Islam ini untuk lebih mengatur kehidupan kita. Islam tidak pernah mengajarkan adanya dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu dunia. Keduanya sama pentingnya untuk dipelajari dan dikuasai. Keduanya penting untuk menciptakan peradaban kehidupan yang lebih baik.” Tambahnya.
Ayatullah Makarim Syirazi menutup penyampaiannya dengan memesankan, “Kedisiplinan, ketekunan dan keikhlasan adalah tiga syarat yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu agar meraih keberhasilan dalam aktivitas keilmuannya. Setiap kita semakin ikhlas, maka kemajuan yang kita dapatkan juga semakin besar. Aktivitas keilmuan wajib dibarengi dengan niat yang ikhlas, sehingga dengan bimbinganNya, melalui ilmu yang diperoleh, para ulama dan penuntut ilmu bisa memancarkan cahaya hidayah yang menerangi kehidupan umat manusia.”