27 September 2026 - 21:37
Syahid Nasrallah Menolak Mengaitkan Peristiwa Politik dengan Tanda-Tanda Kemunculan Imam Mahdi Aj

Abdullatif Rashedi, penulis dan penerjemah, menyinggung penekanan Syahid Sayid Hassan Nasrallah agar kader-kader Hizbullah mengenal bahasa Persia. Menurutnya, hal itu dimaksudkan agar hubungan Hizbullah dengan Wali Faqih dan institusi Wilayah Faqih berlangsung lebih langsung tanpa perantara, sekaligus agar konsep dan nuansa yang dimaksud dapat tersampaikan kepada kader Hizbullah melalui bahasa Persia.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  – ABNA – Dr. Abdullatif Rashedi, penulis, penerjemah, dan penulis buku Sayid Hassan Nasrallah, dalam wawancara dengan ABNA menjelaskan berbagai dimensi kepribadian ilmiah, tradisi membaca dan belajar, perjuangan, serta keyakinan Syahid Sayid Hassan Nasrallah. Ia juga menguraikan proses pembentukan pribadi Nasrallah sejak masa remaja, memasuki hauzah ilmiah, hingga terjun dalam dunia perjuangan.

Syahid Nasrallah Mendedikasikan Seluruh Hidupnya untuk Islam

Penulis buku Sayid Hassan Nasrallah menyebut sikap melawan kezaliman, keterlibatan sosial, serta semangat perjuangan sebagai beberapa karakter terpenting Nasrallah. Menurut Rashedi, karakteristik inilah yang membuatnya memilih Nasrallah sebagai sosok “Muslim revolusioner ideal” untuk diteliti dan ditulis pemikiran serta kepribadiannya. Ia mengatakan bahwa Syahid Nasrallah mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk Islam.

“Kehidupan Sayid Hassan Nasrallah menunjukkan bahwa bahkan ketika ia memasuki aktivitas sosial, ia menjauhkan dirinya dari banyak bentuk kehidupan sosial yang lazim dan mengabdikan bagian besar kehidupannya untuk Islam dan perjuangan,” katanya.

Mengapa Mahdawiyah Memiliki Tempat Khusus dalam Pemikiran Sayid Hassan Nasrallah?

Rashedi kemudian menjelaskan sejumlah karya yang disusunnya berkaitan dengan Nasrallah. “Karya pertama yang saya miliki dalam bidang ini adalah sebuah risalah mengenai Imam Mahdi Aj dan berita-berita gaib. Risalah itu terbatas dari sisi isi dan jumlah halaman. Saya kemudian mengembangkannya dengan menambahkan materi dari Syahid Nasrallah sendiri, biografi beliau, catatan tambahan, dan penjelasan pelengkap.”

Karya tersebut kemudian diterbitkan di Teheran dalam 120 halaman dengan judul “Imam Mahdi Aj; Berita-Berita Gaib Akhir Zaman.”

Rashedi menambahkan bahwa persoalan Mahdawiyah merupakan salah satu tema yang cukup banyak dibahas oleh Sayid Hassan Nasrallah.

Mengenai buku Sayid Hassan Nasrallah, ia mengatakan bahwa karya tersebut merupakan kisah komprehensif mengenai kehidupan Nasrallah dan juga memuat materi pembelajaran mengenai Wilayah Faqih.

Sejak Remaja, Syahid Nasrallah Mencari Kebenaran

Rashedi menggambarkan masa remaja Sayid Hassan Nasrallah sebagai periode yang penuh semangat, kegembiraan, dan motivasi. Menurutnya, dorongan tersebut membuat Nasrallah berusaha mencari kebenaran di Lebanon. Untuk memperoleh sumber-sumber agama dan Islam, ia secara rutin melakukan perjalanan dari desa tempat tinggalnya menuju Beirut, khususnya kawasan Maidan al-Shuhada.

Pada masa itu, Nasrallah pergi ke Beirut untuk membeli buku-buku Islam dan mempelajarinya. “Jika ia mengalami kesulitan memahami suatu pembahasan, ia terus membaca sampai benar-benar memahami buku dan isinya,” kata Rashedi.

Menurutnya, proses tersebut menjadi landasan pertumbuhan agama Nasrallah. Semangat, perasaan, ketenangan, dan motivasi yang ada pada pemuda itu secara bertahap membawanya berkenalan dengan pemikiran revolusioner dan heroik.

Siapa yang Menemukan Potensi Keilmuan Sayid Hassan Nasrallah?

Rashedi mengatakan bahwa dalam perjalanan tersebut, Sayid Hassan Nasrallah kemudian memasuki Hauzah Ilmiah Imam Ali bin Abi Thalib As di Kota Baalbek. Hauzah tersebut didirikan Imam Musa Sadr dan pada masa itu dikelola oleh Syahid Sayid Abbas Mousavi. Di lingkungan itulah, menurut Rashedi, Nasrallah tumbuh sebagai seorang pemuda yang haus pengetahuan, penuh semangat, dan memiliki gairah yang tinggi.

Pada periode tersebut, Imam Jumat Kota Tyre mengenalnya. Sayid Muhammad Gharawi, Imam Jumat Tyre, termasuk sosok yang menemukan bakat Sayid Hassan Nasrallah dan membuka jalan baginya untuk memperoleh pengetahuan serta pendidikan agama yang lebih luas.

Proses tersebut kemudian mengantarkan Nasrallah pada keputusan untuk hijrah ke Najaf dan mempelajari ilmu-ilmu agama. Rashedi mengatakan bahwa Nasrallah pergi ke Najaf dengan membawa surat rekomendasi untuk bertemu dan belajar kepada Ayatullah Sayid Muhammad Baqir Sadr, ulama dan marja besar pada masa itu.

Syahid Sadr dan Sayid Abbas Mousavi; Dua Teladan yang Berlanjut dalam Diri Nasrallah

Rashedi menyebut kedatangan Sayid Hassan Nasrallah ke Najaf sebagai salah satu tahap penting dalam penyempurnaan kepribadian ilmiah dan perjuangannya.

Menurutnya, Nasrallah memiliki kecerdasan, bakat, kapasitas, dan kemampuan berinovasi, sementara semangat perjuangan telah lebih dahulu tumbuh dalam dirinya. Semua itu kemudian berkembang dalam lingkungan ilmiah sekaligus perjuangan di Najaf. Di Najaf, Sayid Hassan Nasrallah banyak dipengaruhi oleh Ayatullah Mujahid Sayid Muhammad Baqir Sadr dan Syahid Sayid Abbas Mousavi.

Rashedi menyinggung aktivitas keilmuan dan perjuangan Syahid Sadr, termasuk aktivitas ilmiah-politiknya serta peran Partai Dawa.

Menurutnya, rekam jejak, inovasi, dan efektivitas Syahid Sadr serta Sayid Abbas Mousavi menjadi teladan yang memberikan pengaruh terhadap kepribadian Sayid Hassan Nasrallah.

Ia menegaskan bahwa kehadiran Ayatullah Sayid Muhammad Baqir Sadr dalam pembentukan pribadi Nasrallah bersifat langsung dan sangat berpengaruh. “Apa yang terdapat dalam kepribadian Syahid Sadr dan Sayid Abbas Mousavi kemudian berlanjut dalam diri Nasrallah,” ujarnya.

Kembali ke Lebanon; Dimulainya Babak Baru Perjuangan Nasrallah

Rashedi mengatakan bahwa setelah kembali ke Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah melanjutkan aktivitas perjuangan dan politiknya.

Ia menyinggung keanggotaan Nasrallah dalam komite politik Gerakan Amal pada 1982 dan mengatakan bahwa posisi tersebut merupakan kelanjutan dari semangat perjuangan dan aktivitas politik yang telah terbentuk dalam dirinya.

Aktivitas politik dan perjuangan Nasrallah terus berlanjut. Setelah muncul sejumlah perbedaan dan perpecahan dalam tubuh Gerakan Amal, Nasrallah bersama Sayid Abbas Mousavi kemudian memainkan peran dalam pembentukan Hizbullah Lebanon.

Rashedi menggambarkan Hizbullah sebagai kekuatan yang berpengaruh dan menentang kezaliman dalam menghadapi Israel.

Menurutnya, gerakan tersebut mampu memainkan peran penting bagi Lebanon dan dunia Arab, sementara Sayid Hassan Nasrallah kemudian menjadi sosok yang populer di dunia Arab.

Rahasia Kedudukan Nasrallah Harus Dicari dalam Hubungannya dengan Wilayah

Ketika ditanya mengenai rahasia yang membawa Sayid Hassan Nasrallah mencapai kedudukan tersebut, Rashedi menjawab bahwa hal itu harus dicari dalam cara Nasrallah memandang Wilayah Faqih.

Ia mengatakan: “Rahasianya bukan sekadar karena Sayid Hassan Nasrallah adalah seorang pejuang, mujahid, atau ulama. Rahasianya adalah karena ia seorang yang bijaksana dan memiliki hikmah. Hikmahnya adalah bahwa ia melebur dalam Wilayah Faqih.”

Rashedi menyebut Sayid Muhammad Baqir Sadr sebagai salah satu teladan terpenting Nasrallah dalam hal tersebut. Dengan mengacu pada ungkapan terkenal Syahid Sadr mengenai Imam Khomeini, ia mengatakan bahwa sebagaimana Syahid Sadr melebur dalam Imam Khomeini, Sayid Hassan Nasrallah juga berada di jalan wilayah dan sebagai seorang pengikut menyerahkan dirinya kepada kehendak Wali Faqih.

Menurut Rashedi, cara Nasrallah memahami ketaatan kepada Wilayah Faqih tidak terbatas hanya pada menjalankan perintah secara eksplisit. Inilah, menurutnya, yang membedakan pandangan Nasrallah dari sebagian lainnya.

Apa Makna “Wilayah yang Sesungguhnya” Menurut Nasrallah?

Untuk menjelaskan lebih jauh pandangan Nasrallah mengenai wilayah dan Wilayah Faqih, Rashedi mengutip percakapan Nasrallah dengan Ayatullah Misbah.

Menurutnya, Sayid Hassan Nasrallah pernah menceritakan: “Saya berkata kepada beliau bahwa kami meyakini seperti ini: jika Wali Amr memberikan perintah, maka kami harus menaatinya dan mengikutinya. Jika ia melarang suatu pekerjaan, kami tidak akan melakukannya. Sampai di sini adalah sesuatu yang pasti dan telah disepakati. Namun berdasarkan pengetahuan kami terhadap prinsip-prinsip, dasar pemikiran, dan kecenderungan beliau—bagaimana beliau berpikir dan hal-hal apa yang membuat beliau senang atau tidak senang—maka dalam perkara yang kami perkirakan mendapat keridaan beliau, kami akan melakukannya.”

Rashedi melanjutkan bahwa dalam pandangan tersebut, apabila hanya terdapat kemungkinan bahwa suatu tindakan disukai oleh Wali Faqih, meskipun tidak terdapat perintah secara langsung, tindakan itu tetap dilakukan.

Sebaliknya, jika suatu tindakan diperkirakan akan menyebabkan ketersinggungan, kesedihan, atau kemarahan Wali Faqih, tindakan tersebut ditinggalkan hanya karena pertimbangan itu.

Menurut Rashedi, setelah mendengar penjelasan tersebut, Ayatullah Misbah berkata kepada Sayid Hassan Nasrallah: “Inilah wilayah yang sesungguhnya.”

Mengapa Nasrallah Menginginkan Kader Hizbullah Menguasai Bahasa Persia?

Penulis buku Sayid Hassan Nasrallah kemudian menyinggung upaya Nasrallah agar kader-kader Hizbullah semakin mengenal bahasa Persia.

Menurutnya, hal tersebut penting agar hubungan Hizbullah dengan Wali Faqih dan lingkungan Wilayah Faqih dapat berlangsung lebih langsung, tanpa terlalu banyak perantara komunikasi.

Rashedi mengatakan bahwa Sayid Hassan Nasrallah memperhatikan persoalan ini dengan sangat halus dan cermat agar konsep serta nuansa yang dimaksud dapat disampaikan kepada kader Hizbullah melalui bahasa Persia.

Ia menambahkan bahwa para pemimpin dan kelompok yang berkaitan dengan Republik Islam Iran, termasuk Syahid Sayid Hassan Nasrallah, memiliki penguasaan terhadap bahasa Arab dan Persia.

Upaya agar kader-kader Hizbullah juga menguasai bahasa Persia, menurutnya, dapat mempererat hubungan mereka dengan lingkungan Wilayah Faqih.

Dalam perspektif ini, bahasa bagi Nasrallah bukan sekadar persoalan pendidikan, tetapi juga sarana untuk mendekatkan hubungan dengan wilayah.

Asyura dan Mahdawiyah; Dua Pilar Gerakan dalam Pemikiran Nasrallah

Dalam bagian lain wawancara, Rashedi membahas strategi pemikiran Sayid Hassan Nasrallah mengenai Mahdawiyah dan hubungannya dengan aktivitas Hizbullah. Dengan merujuk pada ajaran Syiah, ia mengatakan bahwa dua konsep penting, yakni “Asyura” serta “penantian dan Mahdawiyah”, memiliki posisi khusus dalam kerangka pemikiran tersebut.

Menurutnya, Asyura dan Mahdawiyah masing-masing memainkan peran tersendiri dalam menggerakkan manusia. Asyura berfungsi sebagai sumber motivasi dan daya penggerak, sementara Mahdawiyah menarik manusia menuju masa depan dengan memberikan harapan.

Rashedi mengatakan bahwa Asyura dan Mahdawiyah tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika suatu masyarakat memberikan perhatian kepada Asyura, Muharram, dan kesyahidan Imam Husain As, maka Mahdawiyah sebagai pelengkap arus tersebut juga harus mendapat perhatian karena memberikan harapan akan masa depan dan membangun kesiapan untuk mewujudkannya.

Menurut Rashedi, Sayid Hassan Nasrallah memandang masa penantian dan periode sebelum kemunculan Imam Mahdi Aj sebagai periode yang konstruktif.

Dalam pandangan tersebut, masa sebelum kemunculan merupakan tahap persiapan yang membawa tanggung jawab. Manusia harus mempersiapkan dirinya untuk masa kemunculan.

Ia mengatakan bahwa pandangan ini menuntut seseorang untuk hidup seakan-akan berada pada masa kemunculan dan membangun dirinya sedemikian rupa sehingga memperoleh keridaan Imam Mahdi Aj serta tidak memiliki penghalang untuk menerima beliau ketika kemunculan itu terjadi.

Bagaimana Seorang Penanti Imam Mahdi Harus Hidup Menurut Nasrallah?

Dalam menjelaskan istilah “hidup secara Mahdawi”, Rashedi mengatakan bahwa manusia harus menyesuaikan dirinya dengan kondisi dan tuntutan masa Mahdawiyah. Seseorang perlu membentuk kepribadiannya sedemikian rupa agar pada masa kemunculan ia siap menerima dan menyertai Imam Mahdi Aj. Rashedi menyebut pendekatan ini sebagai salah satu dimensi penting dalam pandangan Sayid Hassan Nasrallah mengenai penantian.

Dalam pandangan ini, menanti bukan sekadar duduk menunggu suatu peristiwa, tetapi merupakan periode aktif dan konstruktif untuk membangun diri.

Menurut Rashedi, Sayid Hassan Nasrallah berpandangan bahwa masa sebelum kemunculan merupakan periode yang panjang dan penting, dan kapasitas masa itu harus dimanfaatkan untuk membangun manusia serta mempersiapkan masyarakat.

Nasrallah Menolak Mencocokkan Peristiwa Politik dengan Tanda-Tanda Kemunculan

Pada akhir keterangannya, Rashedi menekankan bahwa Sayid Hassan Nasrallah menolak upaya mencocokkan peristiwa politik dan tokoh-tokoh tertentu dengan tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi Aj.

Menurutnya, Syahid Nasrallah sangat sensitif terhadap persoalan tawqit—menentukan waktu kemunculan—dan tathbiq, yakni mencocokkan individu atau peristiwa tertentu dengan riwayat mengenai tanda-tanda kemunculan.

Ia menegaskan bahwa Nasrallah berpandangan hal semacam itu tidak seharusnya dilakukan.

Rashedi memberikan contoh bahwa pada masa Pertahanan Suci, sebagian orang pernah menyebut Saddam Hussein sebagai “Sufyani”, tetapi seiring berjalannya waktu terbukti bahwa pencocokan tersebut tidak benar.

Ia juga menyinggung pandangan yang pernah berusaha mengidentifikasi Imam Khomeini sebagai “Sayid Khurasani.”

Setelah wafatnya Imam Khomeini, menurut Rashedi, pencocokan serupa kemudian diarahkan kepada Pemimpin Syahid Revolusi. Namun Syahid Nasrallah menentang pencocokan-pencocokan semacam itu dan tidak menyetujuinya.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha