Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Seorang pejabat tinggi militer Irak di Baghdad mengumumkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, telah terdeteksi aktivitas penerbangan militer secara luas oleh pesawat-pesawat yang belum diketahui identitasnya pada ketinggian sangat tinggi di wilayah udara Irak.
Ia menegaskan bahwa Irak tidak memiliki perlengkapan dan kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi pelanggaran wilayah udaranya. Pesawat-pesawat tersebut diketahui memasuki wilayah udara Irak melalui Suriah.
Pada saat yang sama, laporan situs berita Amerika Serikat, Axios, mengenai penerbangan puluhan jet tempur Israel di atas Irak hingga mendekati perbatasan Iran, telah menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai sejauh mana Baghdad mengetahui pergerakan tersebut.
Terdeteksi Aktivitas Penerbangan Militer Secara Luas di Atas Irak
Berdasarkan laporan surat kabar Al-Araby Al-Jadeed, seorang pejabat tinggi militer Irak di Baghdad membenarkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, aktivitas penerbangan militer secara luas oleh pesawat-pesawat yang identitasnya belum diketahui telah terdeteksi pada ketinggian sangat tinggi di wilayah udara Irak.
Ia menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki sarana dan kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi pelanggaran wilayah udara tersebut, termasuk penerbangan pesawat-pesawat yang memasuki Irak melalui wilayah udara Suriah.
Pernyataan pejabat Irak tersebut disampaikan sebagai tanggapan terhadap laporan situs berita Amerika Serikat, Axios, yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel.
Dalam laporannya, Axios menyebut bahwa puluhan jet tempur Israel pada Senin melakukan penerbangan di atas wilayah Irak hingga mencapai kawasan dekat perbatasan Iran.
Seorang pejabat militer Irak di Baghdad juga membenarkan informasi tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa negaranya tidak memiliki kemampuan canggih untuk mengidentifikasi maupun mencegat jet-jet tempur yang melanggar wilayah udaranya.
Menurutnya, pesawat-pesawat tersebut memang telah terdeteksi. Baghdad juga telah mengajukan permintaan penjelasan kepada pihak Amerika Serikat, tetapi hingga saat ini belum menerima jawaban.
Kemungkinan Kehadiran Jet Tempur Israel dan Amerika Serikat di Wilayah Udara Irak
Pejabat militer Irak yang meminta agar identitasnya tidak diungkapkan tersebut, dalam wawancara dengan surat kabar Al-Araby Al-Jadeed, menyatakan bahwa aktivitas penerbangan itu terutama terkonsentrasi di wilayah barat, tengah, dan selatan Irak.
Ia mengatakan: “Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa pesawat-pesawat tersebut memasuki wilayah udara Irak melalui Suriah. Berdasarkan perkiraan kami, pesawat-pesawat itu merupakan jet tempur Israel dan Amerika Serikat.”
Pejabat tersebut juga mengungkapkan bahwa Kementerian Pertahanan Irak telah mencatat sejumlah pergerakan pesawat-pesawat tersebut sepanjang pekan ini. Menurutnya, penerbangan itu berlangsung pada ketinggian sangat tinggi. Pesawat tanpa awak atau drone juga termasuk di antara objek terbang yang berhasil terdeteksi.
Berdasarkan laporan Axios, pada Senin, puluhan jet tempur Israel melaksanakan sebuah latihan udara berskala besar.Dalam latihan tersebut, jet-jet tempur melintasi wilayah udara Irak dan Suriah hingga mencapai kawasan dekat perbatasan Iran, kemudian kembali ke pangkalan masing-masing.
Menurut laporan itu, pesawat-pesawat pengisi bahan bakar di udara juga turut berpartisipasi dalam latihan tersebut. Jet-jet tempur tersebut menempuh jalur yang serupa dengan rute yang digunakan dalam serangan-serangan sebelumnya terhadap Iran.
Axios juga melaporkan bahwa pihak Amerika Serikat telah mengetahui operasi tersebut sebelumnya. Namun, situs berita itu tidak mengonfirmasi keterlibatan jet tempur Amerika Serikat dalam operasi tersebut.
Muncul Pertanyaan Mengenai Pengetahuan Baghdad terhadap Pergerakan Udara
Publikasi informasi tersebut di Irak telah menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai sejauh mana otoritas negara tersebut mengetahui aktivitas penerbangan militer yang berlangsung di wilayah udaranya.
Terlebih lagi, peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah diumumkannya berakhirnya misi koalisi pimpinan Amerika Serikat di Irak. Saad Maan, Kepala Organisasi Media Keamanan Irak, mengatakan: “Irak memantau pelanggaran wilayah udara melalui pusat-pusat deteksi dan pengawasan.
Upaya perlindungan terhadap kedaulatan wilayah udara Irak terus berlangsung, dan pada tahap mendatang akan terlihat perubahan yang nyata. Meskipun demikian, program, konstitusi, dan doktrin kami bersifat defensif, bukan ofensif.” Pernyataan tersebut disampaikan Maan dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi pemerintah Irak.
Komisi Keamanan dan Pertahanan Parlemen Irak Minta Aktivitas Penerbangan Militer Diselidiki
Mazen Gharib, anggota Komisi Keamanan dan Pertahanan Parlemen Irak, juga menanggapi laporan-laporan tersebut.
Ia mengatakan bahwa komisi tersebut terus mengikuti secara saksama berbagai laporan mengenai aktivitas penerbangan pesawat-pesawat Amerika Serikat di wilayah udara Irak. Menurutnya, aktivitas tersebut mungkin dilakukan untuk tujuan pelatihan, penyelenggaraan latihan militer, ataupun pelaksanaan operasi militer lainnya.
Dalam pernyataannya kepada media, ia menambahkan: “Pergerakan semacam ini memerlukan tindak lanjut dan pemeriksaan secara cermat oleh lembaga-lembaga keamanan dan militer yang berwenang.
Hal ini diperlukan untuk mengetahui sifat aktivitas penerbangan tersebut, tujuan-tujuannya, serta sejauh mana aktivitas itu sesuai dengan perjanjian dan kesepahaman yang telah disepakati antara Irak dan negara-negara lain.”
Pernyataan tersebut muncul ketika persoalan pengendalian wilayah udara Irak serta kemampuan negara tersebut untuk mengidentifikasi dan menghadapi penerbangan militer asing kembali menjadi salah satu pokok pembahasan keamanan di Baghdad.
Janji Kedatangan Sistem Pertahanan Udara Baru ke Irak
Sabah al-Numan, Juru Bicara Militer Pemerintah Irak, pada pekan lalu mengumumkan bahwa pengiriman pertama sistem pertahanan udara baru negara tersebut akan tiba di Irak dalam waktu kurang dari enam bulan mendatang.
Menurutnya, pengiriman tersebut akan mencakup radar, persenjataan pencegat, dan pesawat terbang yang diperoleh sebagai bagian dari program pengembangan kemampuan pertahanan Irak.
Meskipun demikian, Juru Bicara Pemerintah Irak tersebut tidak memberikan penjelasan mengenai negara asal sistem-sistem tersebut maupun tingkat kemampuannya dalam mendeteksi dan mencegat pesawat yang memasuki wilayah udara Irak.
Pakar Militer: Pelanggaran Wilayah Udara Irak Telah Berlangsung Selama Berbulan-bulan
Ali al-Saadi, seorang pakar militer sekaligus pensiunan brigadir jenderal Angkatan Darat Irak, dalam wawancara dengan surat kabar Al-Araby Al-Jadeed, menegaskan bahwa pelanggaran wilayah udara Irak tidak pernah berhenti selama beberapa bulan terakhir.
Ia mengatakan: “Irak telah menjadi jalur yang dilalui oleh sebagian besar serangan udara terhadap Iran. Persoalan ini sudah jelas dan diketahui secara luas karena Irak tidak memiliki persenjataan pertahanan udara yang efektif dan memadai.”
]Al-Saadi juga menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghalangi Irak untuk memperoleh sistem pertahanan udara yang andal. Padahal, selama beberapa tahun terakhir, Baghdad telah melakukan berbagai upaya untuk membeli perlengkapan pertahanan udara dari Rusia, China, dan Prancis.
Menurut pakar militer tersebut, meskipun pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar bagi Angkatan Bersenjata Irak, khususnya Angkatan Udara dan pertahanan udara, sepanjang periode 2021 hingga 2025, negara tersebut masih menghadapi kekurangan kemampuan yang efektif untuk melindungi wilayah udaranya.
Situasi ini kembali menyoroti kelemahan kemampuan pertahanan udara Irak serta berbagai tantangan yang dihadapi negara tersebut dalam menegakkan kedaulatan penuh atas wilayah udaranya sendiri.
Komentar Anda