18 Mei 2014 - 14:49
Hadang Gerakan Takfiri, MUI dan Ormas Islam Sul-Sel Perkuat Silaturahmi

Acara silaturrahim diawali dengan tausiyah Anre Gurutta Sanusi Baco yang menjelaskan makna silaturrahim sebagai inti ajaran Islam. Beliau menegaskan kembali pentingnya menjaga silaturrahim di tengah ikhtilaf yang terjadi di antara sesama umat manusia khususnya umat Islam.

Menurut Kantor Berita ABNA, bertempat di Kantor MUI Sul-Sel di Masjid Raya Makassar, Pimpinan berbagai Ormas Islam di SulSel bertemu dan bersilaturrahim mendiskusikan perkembangan terkini tentang kondisi umat Islam khususnya yang terkait dengan problem "Persatuan Islam" yang terus mendapat ujian dan cobaan berat akhir-akhir ini. Pertemuan yang terselenggara pada Rabu sore, 16 April 2014 tersebut adalah tindak lanjut dari merebaknya tindakan kelompok takfiri di Makassar khususnya, yang semakin nyata mulai terang-terangan memecah belah ummat Islam.

Pertemuan tersebut dilatarbelakangi oleh makin maraknya kegiatan penyebaran kebencian dan permusuhan terhadap mazhab Syiah yang dikemas dalam berbagai model kegiatan seperti bedah buku dan tabligh akbar, yang dilaksanakan di beberapa masjid di Makassar. Kegiatan-kegiatan tersebut dikhawatirkan dapat memicu ketegangan dan konflik horisontal di antara sesama umat Islam. Terlebih lagi, beberapa kegiatan tersebut dilaksanakan dengan "mencatut" nama beberapa ormas Islam, meski setelah dikonfirmasi ternyata ormas-ormas tersebut membantah keterlibatannya pada acara itu. Contohnya adalah deklarasi anti Syiah beberapa waktu yang lalu, yang telah mencatut nama MUI Makassar dan Dewan Mesjid Indonesia. 

Pertemuan SIlaturrahim tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI SulSel AGH DR (HC) Sanusi Baco Lc yang didampingi Wakil Ketua MUI SulSel Prof Dr H Abd Rahim Yunus MA dan Sekretaris Umum MUI SulSel Prof Dr H Muh Ghalib MA. Hadir pula beberapa pimpinan ormas dan tokoh Islam, antara lain: KH Dr Mustamin Arsyad Lc MA (Ketua Umum MUI Makassar), Prof Dr H Ahmad M Sewang MA (Ketua Umum DPP IMMIM sekaligus mewakili DPD Dewan Masjid Indonesia, DMI SulSel), Prof Dr H Tahir Kasnawi (ICMI SulSel), Prof Dr H Arifuddin Ahmad MAg (Ketua Umum BKPRMI SulSel, juga mewakili PW Muhammadiyah SulSel), beberapa tokoh Islam lainnya serta perwakilan dari LDII SulSel dan Wahdah Islamiyah. Dari IJABI SulSel turut hadir Mukhammad Idrus SE.Ak M.Si (Ketua Umum PW IJABI SulSel). Juga turut hadir K.H Said Abdushamad tokoh yang getol mengkampanyekan anti Syiah di Sul-Sel lewat LPPI Makassar yang dipimpinnya. Deklarator Aliansi Nasional Anti Syiah tersebut turut menerima buku kumpulan fatwa ulama-ulama besar dunia tentang persatuan Islam yang dibagikan dalam acara silaturahmi tersebut.

Acara silaturrahim diawali dengan tausiyah Anre Gurutta Sanusi Baco yang menjelaskan makna silaturrahim sebagai inti ajaran Islam. Beliau menegaskan kembali pentingnya menjaga silaturrahim di tengah ikhtilaf yang terjadi di antara sesama umat manusia khususnya umat Islam.

Dalam pertemuan silaturrahim tersebut, Prof Dr Abd Rahim Yunus menyebut bahwa MUI adalah payung atau tenda besar, tempat berteduh umat Islam, apapun mazhabnya. Karena itu, MUI SulSel bertekad menjadi rujukan nasional dalam menerapkan dan menjalankan fungsi MUI sebagai payung/tenda besar.

Prof Dr Ahmad M Sewang menyampaikan keresahannya akan fenomena pengambilalihan pengelolaan masjid-masjid yang selama ini berada di bawah pengelolaan DPP IMMIM. Beberapa masjid tersebut diambil alih pengelolaannya oleh kelompok-kelompok tertentu yang sering mendiskreditkan kelompok/mazhab lain, hanya menganggap pemahamannya yang benar, dan tidak bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan dalam Islam. Beliau mengajak para tokoh dan pimpinan ormas Islam untuk menyikapi deklarasi anti Syiah dan munculnya sikap intoleran di tengah umat dengan bersama-sama merumuskan wajah baru Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.

Prof Dr Abd Rahim Yunus (sebagai Wakil Ketua MUI SulSel) juga menyampaikan sikap Pimpinan MUI SulSel yang menolak beredarnya buku "Mewaspadai Penyimpangan Syiah" yang diklaim terbitan MUI Pusat. Menurut beliau, buku tersebut BUKAN buku yang diterbitkan MUI Pusat secara resmi karena proses penerbitannya BELUM mendapatkan persetujuan Ketua Umum MUI Pusat dan Pimpinan MUI Pusat lainnya.

Karena itu, Pimpinan MUI SulSel akan mengirimkan surat resmi ke MUI Pusat untuk meminta agar buku tersebut dihentikan peredarannya dan ditarik dari pasaran.

Terkait dengan pelaksanaan Tabligh Akbar "Bersatu Membela Sunnah" yang dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2014 di Masjid Jami' Al Abrar Makassar, ada penjelasan khusus yang disampaikan Ustadz Burhanuddin (Bendahara MUI SulSel).

Ustadz Burhanuddin melaporkan bahwa beliau hadir dalam acara itu mewakili MUI SulSel berdasarkan surat permintaan yang disampaikan Pengurus Wahdah Islamiyah DPC Tamalate. Dalam surat yg sempat ditampilkan di screen nampak bahwa acara tersebut adalah Tabligh Akbar bertema "Bersatu Membela Sunnah" yang dilaksanakan Wahdah Islamiyah. Pihak MUI terkejut karena menyaksikan di acara tersebut para pembicara mencaci maki Syiah, tidak sesuai dengan tema acara seperti tertera dalam surat yang diterima MUI SulSel.

Menanggapi penjelasan tersebut, beberapa peserta pertemuan di kantor MUI SulSel menyayangkan acara tersebut dan ikut prihatin.

Oleh karena itu, salah satu kesepakatan penting dari pertemuan tersebut adalah akan dilaksanakannya Tabligh Akbar Persatuan Umat insya Allah pada tanggal 18 Mei 2014 di Masjid Raya Makassar dan akan menghadirkan Ketua Umum MUI Pusat Prof Dr H Din Syamsuddin MA dan Ketua MUI Pusat Bidang Ukhuwah Prof Dr H Umar Shihab MA. Tabligh Akbar tersebut dilaksanakan untuk memberikan pencerahan pada masyarakat tentang pentingnya menjaga ukhuwah dan persatuan di antara sesama umat Islam meskipun berbeda mazhab dan organisasinya.

Acara itu akan melibatkan seluruh ormas Islam di SulSel sebagai panitia dalam kepanitiaan bersama.

[Sumber: lppimakassar.net]