17 Oktober 2026 - 21:12
Air, Minyak Bumi dan Tanah: Tujuan Tersembunyi Rezim Zionis di Suriah Selatan

Di tengah upaya rezim Zionis membenarkan perluasan kehadiran militernya di Suriah selatan dengan alasan keamanan dan klaim perlindungan terhadap kelompok minoritas, perhatian berbagai kalangan Zionis terhadap sumber daya air dan energi di wilayah tersebut menunjukkan adanya tujuan yang melampaui kepentingan militer.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pernyataan-pernyataan rezim Zionis mengenai pentingnya menguasai Suriah selatan semakin memperlihatkan dimensi strategis.

Pada awalnya, alasan yang dikemukakan rezim Zionis untuk membenarkan pendudukan wilayah-wilayah baru di Provinsi Quneitra dan Daraa, Suriah selatan, didasarkan pada upaya mencegah munculnya ancaman keamanan pada masa mendatang. Kemudian, pembantaian di Suwayda dijadikan alasan tambahan dengan dalih melindungi kelompok minoritas.

Berdasarkan laporan surat kabar Al-Akhbar Lebanon, pernyataan yang baru-baru ini disampaikan oleh Mor Altshuler, seorang peneliti Zionis, mengenai pentingnya mengendalikan sumber daya air dan energi di Suriah selatan mengandung berbagai makna dan konsekuensi.

Di satu sisi, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa alasan-alasan keamanan kemungkinan tidak lebih dari sekadar langkah awal untuk menguasai secara langsung maupun tidak langsung mata air, sumber air tanah, dan kekayaan alam Suriah selatan.

Di sisi lain, munculnya pandangan tersebut dari seorang peneliti Zionis, meskipun disampaikan pada masa pemilihan umum, menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana pandangan itu sejalan dengan kebijakan pemerintah dan militer rezim Zionis.

Terlebih lagi, situasi tersebut berlangsung ketika Amerika Serikat masih melanjutkan upaya untuk mencapai kesepakatan keamanan antara Damaskus dan Tel Aviv.

Penetrasi Militer dan Pembatasan Akses terhadap Sumber Daya Air

Setelah menduduki puncak Jabal al-Sheikh menyusul jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad, pasukan militer Zionis memusatkan perluasan pergerakan mereka di wilayah Suriah pada kawasan dan permukiman yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki.

Wilayah-wilayah tersebut membentang di sepanjang perbatasan tiga provinsi, yaitu Quneitra, Pedesaan Damaskus, dan Daraa.

Meskipun wilayah yang menjadi sasaran berbeda-beda, tindakan rezim Zionis memperlihatkan banyak kesamaan dalam sejumlah aspek.

Selain menghancurkan benteng-benteng pertahanan militer yang dibangun oleh tentara pemerintahan Bashar al-Assad, pasukan tersebut dengan sengaja menghalangi para petani memasuki lahan pertanian mereka, menimbun sumur-sumur, serta menghancurkan dan meratakan lahan pertanian.

Tindakan-tindakan tersebut menunjukkan adanya kebijakan sistematis untuk menghancurkan sumber penghidupan penduduk dan secara bertahap memaksa mereka meninggalkan tanah serta rumah mereka.

Proses ini menyerupai apa yang terjadi di berbagai kota dan permukiman di Tepi Barat.

Namun, dalam persoalan ini, aspek yang mungkin paling penting adalah pembatasan penggunaan air tanah di wilayah-wilayah tersebut.

Langkah semacam itu dapat membantu meningkatkan pengisian kembali cadangan air di Dataran Tinggi Golan yang diduduki.

Terlebih lagi, permukaan air tanah di Suriah selatan telah mengalami penurunan akibat berkurangnya curah hujan selama beberapa tahun terakhir, bersamaan dengan meningkatnya jumlah sumur pertanian.

Daerah Aliran Sungai Yarmuk: Pusat Perhatian Rezim Zionis

Karena alasan tersebut, kalangan resmi dan lembaga penelitian rezim Zionis memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan kondisi sumber daya air di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki.

Perhatian ini terutama tertuju pada Provinsi Daraa, tempat sebagian besar daerah aliran Sungai Yarmuk berada. Daerah aliran sungai tersebut mencakup sekitar 23 bendungan, dengan 12 bendungan di antaranya terletak di Provinsi Daraa.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penelitian Zionis berfokus pada daerah aliran sungai tersebut. Salah satu penelitian mengkaji sumber daya air tanah dan interaksinya dengan lapisan batuan. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa akuifer di kawasan itu memperoleh pasokan air dari beberapa wilayah geografis, termasuk Jabal al-Sheikh, Golan, Jabal al-Arab, dan Ajloun.

Penelitian lainnya mengkaji tingkat konsumsi air dan debit mata air di daerah aliran sungai tersebut. Sebagian besar penelitian ini berfokus pada penggunaan air di bagian Suriah dari daerah aliran sungai itu selama periode 1971 hingga 2009.

Perlu diketahui bahwa sekitar 80 persen wilayah yang diteliti berada di dalam wilayah Suriah. Berdasarkan data resmi tahun 2023, lahan beririgasi di Provinsi Daraa hanya mencakup 16 persen dari keseluruhan lahan pertanian yang benar-benar dimanfaatkan.

Meskipun demikian, Sungai Yarmuk merupakan urat nadi kehidupan provinsi tersebut, baik untuk penyediaan air minum maupun pengairan tanaman pertanian. Memburuknya krisis air juga mendorong pemerintah setempat melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap sumur-sumur ilegal. Berdasarkan perkiraan resmi sebelumnya, jumlah sumur tersebut meningkat selama tahun-tahun peperangan hingga mencapai sekitar 2.800 sumur.

Minyak Serpih dan Kekayaan Alam Lainnya di Suriah Selatan

Selain sumber daya air, masyarakat Suriah juga mengkhawatirkan kemungkinan sumber daya ekonomi penting lainnya di wilayah selatan negara itu menjadi sasaran ambisi rezim Zionis.

Hal tersebut dapat dilakukan melalui penguasaan langsung terhadap sumber daya tersebut ataupun dengan menghalangi investasi pemerintah Damaskus untuk memanfaatkannya dalam kondisi saat ini. Sumber daya tersebut, selain lahan pertanian yang mencakup 95,5 persen dari tanah yang dapat dibudidayakan, juga meliputi batuan basal. Batuan ini digunakan dalam konstruksi, pelapis bagian luar bangunan, lantai, serta pengerasan jalan.

Sumber daya penting lainnya adalah minyak serpih (oil shale) yang terdapat di Wadi Yarmuk dan di sekitar permukiman Tal Shihab, Zayzun, dan Hit. Cadangan bahan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 675 juta ton, dengan ketebalan rata-rata lapisan batuan yang menutupinya berkisar antara 113 hingga 129 meter.

Selain itu, sebuah penelitian terdahulu oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan bahwa endapan di Cekungan Yarmuk kemungkinan membentang di bawah wilayah seluas ratusan kilometer persegi. Ketebalan endapan tersebut, berdasarkan sejumlah perkiraan regional lama, bahkan dapat mencapai 400 meter. Meskipun terdapat perbedaan dalam berbagai perkiraan tersebut, perbedaan itu tidak mengurangi pentingnya cadangan yang terdapat di Provinsi Daraa maupun potensi investasinya.

Dalam kaitan ini, seorang pakar perminyakan menilai bahwa keterlambatan Suriah dalam memanfaatkan sumber daya tersebut disebabkan oleh kondisi peperangan dan sanksi. Ia berpendapat bahwa saat ini peluang untuk memanfaatkan sumber daya tersebut telah tersedia, terutama mengingat kebutuhan Suriah terhadap minyak, kenaikan harga minyak dunia, serta tersedianya teknologi dan peralatan yang diperlukan.

Pakar tersebut menambahkan bahwa pemanfaatan minyak serpih layak secara ekonomi. Sebab, penggunaannya tidak terbatas pada produksi minyak, tetapi juga memungkinkan pembangkitan listrik dan pemanfaatan sejumlah produk sampingannya dalam produksi semen.

Pengendalian Sumber Daya: Melampaui Perluasan Kehadiran Militer

Pada akhirnya, rezim Zionis mungkin tidak terlalu berkepentingan untuk terus memperluas pergerakan militernya di Suriah selatan sebagaimana sering digambarkan dalam propaganda dan wacana yang berkembang. Namun, rezim tersebut tampaknya berkeinginan mengendalikan cara penduduk wilayah itu memanfaatkan sumber daya alam dan berbagai potensi yang dimiliki tanah mereka.

Untuk mencapai tujuan tersebut, rezim Zionis dapat memanfaatkan kelemahan Suriah pada tahap saat ini, sekaligus memanfaatkan keinginan pemerintahan al-Jolani untuk menghindari keterlibatan dalam konfrontasi militer langsung dengan rezim tersebut.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha