21 November 2013 - 20:30
Media Arab Saudi telah Meramalkan Pengeboman Kedutaan Iran di Beirut

Artikel di surat kabar Al Wathan Arab Saudi yang meramalkan akan terjadinya pengeboman di Beirut Lebanon oleh sejumlah pengamat adalah bukti nyata yang tidak bisa dibantah akan keterlibatan Arab Saudi dalam upayanya memperparah konflik di Timur Tengah menyusul kegagalan misinya di Suriah.

Menurut Kantor Berita ABNA, dalam salah satu artikel yang dimuat dalam surat kabar Al Wathan terbitan Arab Saudi menuliskan kemungkinan akan terjadinya pengeboman kantor Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Beirut Lebanon. Tulisan tersebut disinyalir sebagai salah satu bukti terlibatnya agen-agen Arab Saudi pada sebuah operasi peledakan bom yang terjadi di areal Kantor Kedutaan Besar Iran di Beirut lima hari setelah pemuatan artikel tersebut yang menewaskan puluhan warga dan menciderai seratusan warga lainnya. Gugur dalam peristiwa ledakan tersebut Kepala Atase Kebudayaan Iran Hujjatul Islam Ebrahem Anshari.

Dalam artikel yang ditulis Khalid Al 'Uwajian dengan tajuk, "Membongkar Misi Hizbullah di Al Qalamoun Suriah" dan dimuat di Surat Kabar Al Wathan medio 14 November 2013 menyebutkan Hizbullah Lebanon akan membom sebuah kawasan pemukiman Syiah di Lebanon yang kemudian dijadikan alasan untuk campur tangan dalam masalah Suriah. Artikel tersebut turut memberikan analisa mengenai kesalnya pakta Arab-Barat atas kegagalan mereka di Suriah. Selain menuduh Iran dan Hizbullah campur tangan dalam urusan Suriah, penulis juga mendukung kelompok takfiri dan membelanya dengan dalih untuk membela kepentingan Arab Saudi dan dijulukinya sebagai pejuang yang sebenarnya.

Khalid al 'Uwajian menulis analisanya, "Hizbullah telah membuat rencana untuk merencanakan serangan di Al-Qalamoun Syria, kemudian mengepung Damaskus bermula dari Barat Laut Syria dengan tujuan membantu para anggotanya. Berdasarkan analisa yang disimpulkan dari pemberitaan dari berbagai dokumen surat kabar, rencana itu akan diawali dengan melakukan upaya pengeboman di kawasan penduduk Syiah di Beirut seperti di Dhahiya atau Beqaa. Rencana pengeboman tersebut akan dilaksanakan dalam waktu yang tidak lama lagi, bahkan bahan peledak telah dipasang pada sebuah mobil yang akan diledakkan pada malam hari dan Hizbulah akan memanipulasinya dan akan membuat pengumuman akan melakukan tindakan balas dendam atas darah warga Lebanon yang tertumpah. Alasan itulah yang kemudian digunakan untuk menguasai Al Qalamoun, Suriah dan menguasai jalur utama antara Damaskus dan Homs."

Meskipun analisa jurnalis Arab Saudi itu benar dengan benar-benar terjadinya ledakan bom di dekat kantor Kedutaan Besar Republik Islam Iran di kota Beirut, namun perkiraannya Hizbullah sendiri yang melakukannya dan menimpakan kesalahan kepada kelompok teroris, menjadi berantakan dengan pengakuan jaringan teroris Al Qaeda dibawah pimpinan Abdullah Azzam yang dengan sendirinya mengaku sebagai dalang dibalik peledakan bom tersebut. Yang menjadi bukti tak terelakkan bahwa pelakunya memang bukan dari pihak Hizbullah sendiri.

Artikel di surat kabar Al Wathan Arab Saudi tersebut oleh sejumlah pengamat adalah bukti nyata yang tidak bisa dibantah akan keterlibatan Arab Saudi dalam upayanya memperparah konflik di Timur Tengah menyusul kegagalan misinya di Suriah.

Dalam ledakan bom yang terjadi selasa [19/11], angka korban dan yang luka-luka meningkat menjadi 160 orang. Diantara yang menjadi korban adalah Konsul Kebudayaan Iran Hujjatul Islam Wal Muslimin Ebrahim Anshari.