Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al-Uzma Ja'far Subhani dalam kuliah Dars Kharij di masjid A'zham Qom Iran menerangkan bahwa bid'ah dari perspektif syar'i adalah segala hal yang berkenaan dengan amalan baru yang dinisbatkan pada Allah SWT padahal hakikatnya tidaklah demikian. Beliau berkata, "Bid'ah adalah amalan yang dinisbatkan kepada Allah SWT, yang mana ia tidak mempunyai asas dalam al-Qur'an dan agama."
"Percampurbauran perempuan dan laki-laki dalam sebuah penyelenggaraan pesta di zaman Syah [Iran sebelum Revolusi] terhitung sebagai perbuatan haram, secara syariat bukanlah termasuk amalan bid'ah karena tidak dinisbatkan kepada Allah", tambahnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa penemuan-penemuan baru dalam ilmu dan tekhnologi memiliki landasan dan asas dalam al-Qur'an dan Islam, jadi tidak dianggap bid'ah. "Produksi senjata-senjata selain pedang dan tombak bagi tujuan mempertahankan agama di zaman ini, meski secanggih apapun inovasinya, itu tidaklah dihitung sebagai bid'ah." Ungkap guru besar di Hauzah Ilmiah Qom Iran tersebut.
Mengenai keraguan dan syubhat yang dihembuskan Ahlusunnah mengenai mencium dan mengambil tabarruk pada makam para Imam as, beliau mengingatkan, "Mencium dan bertabaruk dengan makam Ahlul Bait as tidaklah sama dengan apa yang dikatakan oleh Ahlusunnah, ia bukanlah bid'ah, ini disebabkan mereka sendiri menukilkan sebuah riwayat bahwa mencintai Rasulullah Saw merupakan salah satu dari prinsip Islam."
Beliau menambahkan, "Keturunan Nabi Saw pun demikian, oleh pengikut mazhab Syiah yang mencium makam para maksumin berasaskan akidah tersebut, begitulah cara mereka mencintai Nabi Saw dan keluarga beliau."
Ayatullah Ja'far Subhani menegaskan, "Setiap perbuatan yang dapat menambahkan kecintaan kepada Nabi dan keluarganya, maka Syiah melakukannya, dan itu tidak terkategorikan amalan bid'ah, sebab ada asas dan dalilnya."