Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Pada bagian-bagian sebelumnya dari tulisan ini telah dibahas sejumlah aspek perjalanan dan aktivitas Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei, antara lain pelayanan kepada masyarakat kurang mampu, penguasaan terhadap isu keamanan dan militer, manajemen strategis Poros Perlawanan, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan kontemporer, serta inovasi dalam fikih dan ushul fikih.
Pada bagian ini, pembahasan diarahkan pada sejumlah nasihat beliau mengenai persoalan individual, keluarga, dan sosial.
Adab terhadap Para Imam Maksum As
Penghormatan dan adab khusus Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei terhadap Ahlulbait As disebut sebagai salah satu ciri menonjol dalam sikapnya.
Sejumlah muridnya mengatakan: “Adab beliau terhadap Ahlulbait As sangat khusus. Sebagai contoh, ketika membaca riwayat, setiap kali nama mulia salah seorang Imam Maksum As disebut, beliau selalu menyertakannya dengan ungkapan seperti ‘shalawatullahi wa salamuhu ‘alaih’. Bahkan jika dalam satu riwayat nama Imam atau kata ganti yang merujuk kepadanya disebut beberapa kali, beliau tetap mengucapkan ungkapan penghormatan tersebut setiap kali. Ketelitian dan kepatuhan dalam menghormati kedudukan Ahlulbait As ini juga terlihat dalam pesan-pesan dan tulisan beliau.”
Sebagian muridnya juga mengatakan bahwa Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei menekankan pentingnya membangun kedekatan dan hubungan batin dengan seluruh Ahlulbait As.
Menurut mereka, ia mengingatkan agar seseorang tidak mengabaikan sebagian dari para Maksum As. Sebagai contoh, ia menyarankan agar sebagian amal ibadah setelah salat dihadiahkan kepada Imam Jawad As sebagai salah satu cara membangun hubungan spiritual dengan beliau.
Melakukan Amal dengan Niat Menghadiahkannya kepada Ahlulbait As
Salah seorang murid yang telah mengikuti majelis Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei selama lebih dari 20 tahun menuturkan salah satu nasihat beliau mengenai amal spiritual: “Beliau mengatakan: setiap amal yang kalian lakukan, segera setelah selesai dan sebelum amal itu rusak, ‘bungkuslah seperti hadiah’ dan misalnya hadiahkan kepada Rasulullah Saw. Karena hadiah yang kita berikan itu, kita akan mendapatkan sesuatu berupa pahala. Kemudian pahala yang kita peroleh itu kembali kita ‘bungkus’ dan hadiahkan lagi kepada Rasulullah Saw, sehingga melalui itu kita kembali menerima sesuatu. Lalu bungkus lagi dan hadiahkan kembali, dan seterusnya. Dengan cara demikian, amal kita menjadi tidak terbatas.”
Salah satu bentuk lain dari nasihat Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei berkaitan dengan pemberian nama kepada anak bahkan sebelum kelahirannya, yakni ketika masih dalam masa kehamilan.
Ia disebut pernah memberikan nasihat: “Segeralah beri nama kepadanya dan titipkan dia kepada pemilik nama tersebut. Lakukan pula dengan niat kepada beberapa Maksum. Misalnya, jika memberinya nama Muhammad, niatkan kepada empat Maksum yang memiliki nama Muhammad; dan jika memberi nama Hasan, niatkan kepada dua Maksum.”
Dalam nasihat lainnya ia juga mengatakan: “Lakukanlah amal ibadah dengan niat mewakili anak-anak yang belum dewasa. Misalnya, kerjakanlah salat malam atas nama anak kalian. Hal itu akan memberikan pengaruh kepadanya.”
Perhatian terhadap Bahasa Persia
Salah satu karakteristik Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei yang disebut para muridnya adalah perhatian terhadap penggunaan bahasa Persia dalam percakapan sehari-hari.
Salah seorang muridnya mengatakan: “Beliau sangat menekankan penggunaan bahasa Persia dan menghindari kata-kata asing. Misalnya, alih-alih mengatakan ‘adres’ beliau menggunakan ‘neshani’ yang berarti alamat; alih-alih ‘reference’ menggunakan ‘erja’ atau rujukan; dan alih-alih ‘conference’ menggunakan kata ‘era’eh’ atau presentasi.”
Sejumlah murid lama juga menggambarkan perhatian tersebut sebagai bagian dari kepeduliannya terhadap budaya Iran-Islam.
Mereka mengatakan: “Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei sangat sensitif terhadap persoalan menjaga budaya Iran-Islam, termasuk penggunaan istilah-istilah Iran-Islam. Misalnya, kalau kami bertanya, ‘Kelasnya kapan?’ beliau akan mengatakan, ‘Kelas itu milik London, katakan dars atau pelajaran!’ Padahal kata ‘kelas’ sudah sangat umum digunakan. Perhatiannya sampai sejauh itu, dan dalam hal ini beliau juga mirip dengan Agha.”
Sumber
- Wawancara dengan Hujjatul Islam Rafi’i, salah seorang pengajar Hauzah Ilmiah Qom dan murid Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei.
- Wawancara dengan Hujjatul Islam Reza Aliabadi, salah seorang murid Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei.
Sayid Ali Asghar Hosseini / Kantor Berita ABNA
Komentar Anda