Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Pada bagian-bagian sebelumnya dari tulisan ini telah dibahas sejumlah aspek perjalanan dan aktivitas Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei, antara lain mengenai pelayanan kepada masyarakat kurang mampu, penguasaan terhadap isu keamanan dan militer, serta manajemen strategis Poros Perlawanan.
Pada bagian ini, perhatian diarahkan pada penguasaan beliau terhadap ilmu pengetahuan kontemporer.
Sebagai contoh, artikel tersebut menyebut pengetahuannya mengenai berbagai isu seperti startup, perusahaan berbasis pengetahuan dan teknologi, sistem kesehatan dan kependudukan, persoalan perumahan dan tata kota dengan fokus pada kota-kota produktif yang dilengkapi teknologi dan Internet of Things, persoalan ekonomi terutama ekonomi digital dan mata uang kripto, kajian tentang Barat, serta sejumlah bidang keilmuan lainnya.
Salah satu hal yang juga dinilai penting adalah sudut pandangnya terhadap perkembangan ilmu-ilmu baru tersebut, yang disebut dibangun berdasarkan pendekatan pembangunan peradaban dan fikih peradaban.
Tingkat pengetahuannya mengenai berbagai bidang itu digambarkan oleh sebagian orang yang dekat dengannya sebagai sangat mendalam. Mereka mengatakan: “Beliau memiliki informasi yang sangat presisi mengenai persoalan-persoalan tersebut. Pengetahuannya bahkan berada pada batas terdepan ilmu pengetahuan.”
Perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi modern juga disebut membuat sebagian pakar di Iran memandang masa kepemimpinannya sebagai kemungkinan awal kemunculan sosok “Syekh Baha’i baru.”
Dalam konteks itu, mereka mengatakan: “Mereka menantikan agar beliau, melalui pembahasan dan pengorganisasian baru dalam bidang teknologi di negara ini, dapat membuka sebuah era baru.”
Sebagian orang yang dekat dengannya juga menyinggung keluasan pengetahuannya mengenai berbagai persoalan. Mereka menggambarkan pengetahuannya mengenai pertanian dan potensi Iran dalam bidang tersebut sebagai sesuatu yang “mengagumkan”.
Menurut mereka, pengetahuan itu bahkan mencakup rincian seperti berbagai jenis benih gandum dan tingkat hasil panennya, ragam sistem pengelolaan daerah aliran air di berbagai wilayah Iran, persoalan sumber daya air, serta isu-isu teknis lainnya dalam sektor pertanian.
Pengetahuannya mengenai industri minyak, gas, dan petrokimia juga disebut sebagai salah satu bidang yang dikuasainya secara luas.
Salah satu karakteristik lain yang disebut dalam artikel ini adalah perannya dalam membangun hubungan antara kelompok-kelompok elite dan para pelaku di bidang inovasi dan teknologi dengan para pejabat senior di berbagai sektor pemerintahan.
Hal tersebut dilakukan pada masa ketika dirinya belum memiliki jabatan resmi dalam struktur negara.
Tujuan dari hubungan tersebut adalah menciptakan kondisi agar gagasan dan proyek para elite dapat lebih cepat diwujudkan serta dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan negara dalam kerangka Republik Islam.
Salah seorang yang bekerja bersamanya dalam kegiatan terkait kalangan elite menjelaskan: “Misalnya, beliau menghubungkan seorang pengelola di Yayasan Ekonomi Kautsar yang bergerak dalam produksi pangan dengan seorang profesor universitas yang melakukan penelitian mengenai benih, dengan tujuan meningkatkan kualitas serta mempercepat proses perkecambahan benih.”
Selain itu, selama sekitar 15 tahun mengajar tingkat dars kharij fikih dan ushul, Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei disebut memberikan perhatian pada pembinaan sekelompok murid yang tidak hanya memahami metode istinbath hukum Islam, tetapi juga mampu menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan ilmu pengetahuan kontemporer dengan pendekatan ilmiah dan peradaban.
Dalam konteks yang sama, di sejumlah hauzah yang berada di bawah pengelolaannya dibentuk kelompok-kelompok khusus dalam berbagai bidang, termasuk fikih ekonomi.
Para muridnya juga diwajibkan menyusun dan mempresentasikan artikel-artikel khusus mengenai berbagai persoalan ilmu kontemporer, termasuk fikih ekonomi dan fikih keamanan.
Poros utama pendekatannya terhadap berbagai ilmu dan bidang pengetahuan disebut sebagai “pendekatan peradaban.”
Sejumlah faqih yang menjadi anggota Majelis Khobregan atau Majelis Ahli Kepemimpinan menggambarkan karakteristik tersebut dengan mengatakan: “Dari sisi pendekatan peradaban, saya melihat beliau sangat berbeda dan menonjol dibandingkan sejumlah ulama dan faqih lainnya.”
Sebagian dosen universitas juga memberikan penilaian mengenai pendekatan peradaban Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei dalam persoalan perumahan.
Salah seorang di antaranya mengatakan: “Dalam persoalan perumahan, beliau jelas memiliki indikator dan ukuran tertentu yang juga mencakup aspek-aspek ideal peradaban dan kebudayaan. Karena itu, ketika kami menyampaikan suatu gagasan atau menawarkan sebuah model, beliau dapat melihat bagian mana yang sesuai dan pada bagian mana terdapat penyimpangan.”
Pada bagian-bagian selanjutnya dari tulisan ini, akan dibahas dimensi-dimensi lain dari perjalanan ilmiah dan aktivitas eksekutif Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei.
Sumber
- Wawancara dengan Hujjatul Islam Muhammad Haji Abolqasem Dolabi, anggota Majelis Ahli Kepemimpinan.
- Wawancara dengan Fariduddin Haddad Adel, saudara dari istri Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei.
- Wawancara dengan insinyur Sayid Amir Hossein Kamali, anggota dewan pendiri lembaga pemikir Kajian Strategis Kota Kehidupan Islam.
Sayid Ali Asghar Hosseini / Kantor Berita ABNA
Komentar Anda