Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi rabu pagi [2/10] dimajelis Dars Kharij Fiqh yang diasuhnya di Masjid A'zham Qom menyinggung riwayat dari Imam al Hadi as mengatakan, "Kekayaan pada umumnya ditafsirkan dengan seseorang yang memiliki banyak uang dan fasilitas yang memudahkan hidupnya sementara kemiskinan sebaliknya, identik dengan kekurangan dan ketiadan kepemilikan."
Selanjutnya ulama marja taklid tersebut menambahkan, "Namun, Islam memiliki pengertian lain mengenai kekayaan dan kemiskinan. Kekayaan dalam pandangan Islam terletak dalam jiwa manusia dan dikatakan, seseorang yang meskipun kehidupannya sederhana dan tidak memiliki banyak harta namun jika ridha dengan keadaannya itu maka ia termasuk dalam golongan orang-orang kaya. Namun sebaliknya, meskipun hidupnya bergelimang harta dan serba mewah namun ia tidak pernah puas dan masih terus mengejar harta, maka sesungguhnya ia termasuk golongan orang-orang miskin." Lanjutnya.
"Dalam kondisi krisis ekonomi akibat embargo dan sanksi ekonomi yang diterapkan musuh, maka diantara jalan terbaik untuk menghadapinya adalah dengan bergaya hidup sederhana. Jika dalam kehidupan kita, penyelenggaraan pesta-pesta, pernikahan, wisata dan lain sebagainya dilakoni secara sederhana dan tidak berlebihan maka banyak dari masalah ekonomi yang bisa terselesaikan. Gaya hidup sederhana adalah sebaik-baiknya perlawanan terhadap sanksi ekonomi musuh." Tambahnya lagi.
"Jika seseorang hidup dalam kekayaan yang melimpah ada dua bala yang akan menghampirinya. Pertama bala ketergantungan. Ia akan banyak memiliki ketergantungan, baik dari dalam maupun dari luar. Bala yang kedua, adalah kemungkinan tercemarnya harta dengan barang-barang haram, riba, supa, perampasan hak orang lain dan sebagainya. Kehidupan yang sederhana dapat menjamin kesucian diri sementara hidup dalam kemewahan dan foya-foya tidak bisa menjamin terjaganya kesucian diri. Karenanya saya memesankan kepada saudara-saudara saya yang hadir di majelis ini dan siapapun yang mendengar ceramah ini bahwa marilah menjalani kehidupan ini dengan cara yang sederhana, sebab kesederhanaan mampu membuat musuh bertekuk lutut karena ketidak mampuannya memperdaya dan menjatuhkan kita." Lanjut ulama mufassir yang menulis kitab Tafsir al Amtsal tersebut.
"Hindarilah kecenderungan untuk bermewah-mewahan. Kesederhanaan adalah sumber kemuliaan, kebanggaan dan dapat mendatangkan kemerdekaan hidup." Pesan Ayatullah Makarim Shirazi.
Ayatullah Makari Shirazi pada bagian lain ceramahnya menyinggung upaya persatuan ummat Islam yang selama ini terus digalakkan dengan mengatakan, "Sekarang bukan lagi zamannya terus menerus mempertentangkan antara dua mazhab besar Sunni dan Syiah. Panggilan zaman kita hari ini adalah persatuan dan ukhuwah yang harus terjalin sempurna antara umat Islam diseluruh dunia."
"Sunni dan Syiah sudah semestinya saling bergandengan tangan untuk menghadapi musuh bersama yang getol menciptakan kerusakan di kawasan. Jika pihak musuh terus menghasut dan memprovokasi agar meletus perang antar sesama muslim dengan isu mazhab maka senjata kita dalam menghadapi konspirasi tersebut adalah persatuan dan persaudaraan Islam."
"Wahabi beda dengan Ahlus Sunnah. Mereka adalah golongan minoritas yang menjadi alat Barat untuk memecah belah Sunni dan Syiah. Aktivitas kelompok mereka adalah membuat aib dan mencoreng wajah Islam di depan masyarakat dunia." Tegas Ayatullah Makarim Shirazi.
Baru-baru ini, Ayatullah Makarim Shirazi meresmikan berdirinya Madrasah Ilmiah Maula Al Muwahhidin di wilayah Shiraz yang letaknya berdampingan dengan masjid Rasul Akram milik masyarakat Ahlus Sunnah Shiraz. Ayatullah Makarim Shirazi dalam sambutannya mengatakan, "Letak madrasah Syiah yang bersebelahan dengan masjid milik saudara Ahlus Sunnah menunjukkan besarnya kecenderungan pengikut kedua mazhab ini untuk hidup berdampingan dan menjalin persaudaraan. Kami telah mengatakan kepada saudara-saudara kami Ahlus Sunnah, bahwa pintu madrasah ini terbuka bagi mereka dan fasilitas di dalamnyapun terbuka untuk mereka gunakan dan manfaatkan."