Menurut Kantor Berita ABNA, berkenaan dengan ancaman agresi militer oleh AS dan sekutunya atas Suriah, salah seorang ulama Iran Ayatullah Sayyid Ahmad Khatami yang juga anggota Majelis Khubregan (Dewan Ahli) Rahbari berpendapat, "Amerika, Inggris, rezim Zionis dan sekutu mereka dari bangsa Arab seperti Arab Saudi dan Qatar khawatir dengan perkembangan dan kemajuan Islam yang murni yang dipelopori Iran."
Ayatullah Sayid Ahmad Khatami lebih lanjut menjelaskan kebohongan yang diutarakan AS dengan berkata, "Amerika menggunakan alasan nuklir dalam serangannya terhadap Iran. Meskipun mereka tahu itu hanyalah rekasaya dan kebohongan belaka. Sebagaimana yang terjadi di Suriah, mereka menggunakan alasan senjata kimia untuk membenarkan ancaman mereka menyerang Suriah, padahal itu hanyalah muslihat mereka belaka."
Pernyataan Sayyid Khatami tersebut disampaikan ketika diwawancarai wartawan ABNA disela-sela persidangan ke empat Majelis Khubregan Rahbar di hari pertama (4/9) di Teheran, Iran. Menyinggung bom kimia yang digunakan tentara Saddam sewaktu mengakresi Iran pada perang Irak-Iran, Sayyid Khatami mengatakan, "AS dan Barat sendiri yang kala itu membekali militer Irak dengan senjata kimia, apa mereka sudah lupa?. Dalam Irak-Iran, Saddam dalam jangka waktu yang singkat telah menghujani wilayah Iran dengan bom kimia, yang saat itu juga menewaskan 5000 orang warga sipil Iran. Saat itu AS diam saja, dan tidak bersuara. Kali ini mereka malah bersuara lantang dengan alasan membela HAM dan menentang penggunaan senjata kimia."
"Suriah adalah garda depan dalam menghadapi Zionis. Sedangkan AS dan Barat memiliki kepentingan untuk tetap mempertahankan eksistensi Rezim Zionis di Timur Tengah." Tambahnya.
Dibagian akhir wawancaranya, Ayatullah Khatami menyatakan, pentingnya menjaga misi untuk pembebasan al Quds dari penjajahan rezim Zionis. "Pemerintah dan rakyat Suriah, sudah semestinya bersatu dan saling bahu membahu mempertahankan kedaulatan negara dari intervensi dan penguasaan Asing yang hanya akan memberi petaka di wilayah kawasan." Tegasnya.