13 Oktober 2012 - 00:52

"Sesuai dengan rencana Barat dan Nato, Turki menyerang sebuah negara Islam yang anti Israel; sangat disayangkan, Turki menyerang negara yang justru menjadi duri bagi Israel."

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam Seddiqi dalam khutbahnya Jum'at (12/10), menyinggung insiden perbatasan dan ketegangan terbaru antara Suriah dan Turki. Dikatakannya, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Israel berupaya menyeret Turki untuk menyerang Suriah. "Sesuai dengan rencana Barat dan Nato, Turki menyerang sebuah negara Islam yang anti Israel; sangat disayangkan, Turki menyerang negara yang justru menjadi duri bagi Israel." Ujarnya.

"Langkah itu bertujuan untuk menciptakan instabilitas di kawasan Timur Tengah dan memperlemah barisan perlawanan Islam terhadap pendudukan Zionis," jelas khatib Jum'at itu selanjutnya.

Seddiqi menambahkan, "Turki merupakan sebuah negara Islam, ia tidak sepatutnya melaksanakan arahan Nato dalam menyerang sesama negara Islam, seharusnya Turki membantu dalam proses perbaikan di Suriah, serta berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan kondisi stabil di sana."

Mengenai protes rakyat Turki terhadap pemerintahan mereka, beliau berkata, "Ini bukanlah gerakan Turki, kami anggap ini adalah tindakan Barat ke atas negara-negara Islam; sebagaimana yang rakyat Turki tunjukkan dengan menentang serangan tersebut, kami harap pihak yang bertanggungjawab menghentikan pembantaian atas manusia dengan alasan apapun."

Hujjatul Islam Seddiqi selanjutnya menandaskan para pejabat Ankara harus menahan diri dan menyelesaikan masalahnya dengan Damaskus melalui jalur diplomatik. Beliau menghimbau Turki untuk tidak terprovokasi dengan manuver kekuatan-kekuatan transregional untuk menyerang negara tetangga dan sahabatnya.

Imam Jum'at Tehran tersebut turut menyinggung protes rakyat Bahrain atas rezim Al Khalifah dengan mengatakan, "Meskipun pihak berkuasa meneruskan langkah-langkah kekerasan di Bahrain, namun demonstrasi rakyat tetap diteruskan. Ini menunjukkan bahwa rezim yang bergantung dengan kuasa asing ini tidak mepunyai tempat di dalam negaranya."

Di bagian lain, Hujjatul Islam Seddiqi mengatakan isu nuklir Iran hanya akal-akalan Barat untuk menekan Republik Islam. Ditambahkannya, strategi dan kebijakan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran akan senantiasa menggagalkan konspirasi musuh. Demikian dilansir dari IRIB.

Menurut Hujjatul Islam Seddiqi, sanksi dan tekanan Amerika Serikat selama tiga dekade lalu terhadap Iran bertujuan menghancurkan Revolusi Islam di Iran. Ditegaskannya, bangsa Iran tidak akan membiarkan musuh mengancam kepentingannya.