6 Januari 2012 - 20:30

“Melihat kondisi yang ada dipengungsian Syiah di sampang, pasca kejadian kemarin, yang akan dikembalikan ke daerah asal, bantuan lebih sulit diberikan oleh orang luar. Itu terlihat dari bantuan teman-teman yang harus diteliti dulu, kemudian harus seijin Kepala BPBD untuk bisa disalurkan atau didistribusikan langsung kepada para pengungsi. “

Menurut Kantor Berita ABNA, Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal (Lapam), menilai ada  upaya yang menghambat  pemberian bantuan dari pihak luar untuk pengungsi Syiah Sampang.

Aktivis Lapam, Laili Anisa mengatakan, dari temuan di lokasi pengungsian, petugas pemerintah Kabupaten Sampang cenderung mempersulit bantuan yang akan didistribusikan ke pengungsi.

“Melihat kondisi yang ada dipengungsian Syiah di sampang, pasca kejadian kemarin, yang akan dikembalikan ke daerah asal, bantuan lebih sulit diberikan oleh orang luar. Itu terlihat dari bantuan teman-teman yang harus diteliti dulu, kemudian harus seijin Kepala BPBD untuk bisa disalurkan atau didistribusikan langsung kepada para pengungsi. “

Sebelumnya sempat beredar kabar di kalangan pengungsi syiah mereka akan dipulangkan kembali ke rumah asal, sehingga beberapa kebutuhan logistik maupun kebutuhan dasar lainnya mulai dikurangi.  Sementara itu pengungsi  Syiah menyatakan  menolak  meinggalkan pengungsian karena belum ada kepastian jaminan keamanan. Mereka khawatir akan diserang lagi. Ratusan orang dari Sunni yang dipimpin Rois, membakar rumah, sekolah dan musholla milik tokoh Islam Syiah, Tajul Muluk di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang. Aksi dipicu adanya konflik keberadaan Islam Syiah di desa tersebut.

Kondisi Anak-anak Pengungsi Memprihatinkan

Pengungsi Syiah Sampang, Jawa Timur khawatirkan kondisi psikologis dan pendidikan anak-anak di pengungsian.

Penasehat Jamaah Syiah Sampang, Iklik Almilal mengungkapkan meski mendapat pendampingan dari Komite Anak Kabupaten Sampang, kondisi psikologis maupun persiapan anak-anak yang akan masuk sekolah dinilai masih belum siap secara baik. “Saya masih cari solusi  bagaimana yang terbaik. Kalau bisa cari bantuan untuk anak agar bisa belajar, kalau tidak ada guru bantu ke sini kasihan anak kalau cuma  menganggur di sini. Selama ini yang datang hanya untuk menghibur saja agar tidak stress,” ungkapnya.

Iklil yang juga adik Tajul Muluk, pemimpin Syiah Sampang, meminta agar aparat keamanan bisa memberikan  jaminan keamanan kepada warga Syiah, sebelum mereka dikembalikan ke rumah asalnya. Kejadian penyerangan dan pembakaran rumah warga jamaah Syiah, menurut Iklil sempat meninggakan trauma bagi kaum perempuan dan anak-anak, yang tidak mengerti tentang permasalahan yang terjadi. Pemerintah diharapkan memikirkan masa depan dan pendidikan anak-anak, dengan segera menyelesaikan konflik yang terjadi.