22 Desember 2011 - 20:30

"Kami tidak menentang (perjanjian 1979-Camp David), tetapi boleh kami katakan bahwa Mesir terikat dengan kontrak tanda tangan pemerintahan sebelumnya," kata juru bicara Partai al-Nour, Yusry Hammad.

 

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Jurubicara Partai An Nur Salafy Mesir telah menegaskan bahwa partainya komitmen dengan perjanjian Camp David terkait kesepakatan damai dengan Israel. Yusry Hammad, jurubicara An Nur, mengatakan bahwa ia dihubungi oleh seorang koresponden Radio Israel bernama Jackie Khoji, yang menanyakan tentang sikap partainya terhadap perjanjian Camp David.

"Saya mengatakan kepadanya bahwa traktat itu mengikat, sebab Mesir telah menandatanganinya," kata Hammad, dikutip Al Mishry Al Yaum (20/12/2011).

Hammad juga menambahkan bahwa rakyat Mesir menginginkan adanya amandemen dari sejumlah pasal dalam perjanjian itu, sehingga pihak Mesir bisa memiliki kontrol yang lebih baik atas wilayah Sinai.

"Saya juga mengatakan kepadanya bahwa Israel harus melindungi perbatasannya tanpa menyerang prajurit-prajurit Mesir," kata Hammad. "Dan bahwa kami harus bisa mengirimkan bantuan kepada saudara-saudara Palestina kami di Gaza tanpa masalah," tegas Hammad.

Hammad menceritakan, Khoji berkata kepadanya bahwa ia terkejut melihat kesuksesan yang diraih oleh kelompok-kelompok Islam dalam pemilihan umum parlemen belum lama ini.

"Saya katakan padanya bahwa rezim terdahulu menekan semua kekuatan politik, guna memastikan bahwa mereka adalah satu-satunya yang bisa menjalankan pemerintahan di negara ini," papar Hammad.

Dalam dialog dengan Israel, kata Hammad, partai tidak diundang untuk menghadiri pembicaraan itu. "Hal (dialog) ini harus dilakukan melalui Kementerian Luar Negeri dalam bentuk undangan resmi," jelasnya.

"Kami di sini untuk mewujudkan harapan rakyat yang menginginkan keamanan dan stabilitas negara, bukan mengambil sikap tertentu," kata Hammad kepada koresponden Radio Israel itu.

"Kami tidak menentang (perjanjian 1979-Camp David), tetapi boleh kami katakan bahwa Mesir terikat dengan kontrak tanda tangan pemerintahan sebelumnya," lanjut juru bicara Partai al-Nour itu lagi.


"Jika ada beberapa klausul yang ingin diubah oleh rakyat Mesir mengenai isi kesepakatan tersebut, maka harus ada perundingan," ujarnya. "Kami respek terhadap seluruh isi perjanjian."

Partai al-Nour merupakan partai utama kaum Salafi di Mesir. Faksi garis keras lainnya adalah Aliansi Demokratik yang berkoalisi dengan Ikhwanul Muslimin, namun, belakangan, mereka memisahkan diri selanjutnya membentuk kelompok Aliansi Islam yang akan menerapkan Syariah Islam di Mesir.

Hammad katakan, selama ini pemberitaan media massa sanga keliru menggambarkan Salafi di Mesir. Mereka melihat Salafi sebagai sebuah kelompok Islam yang menentang pemerintah Mesir.

Hasil wawancara radio tersebut sangat mengejutkan Israel, karena tak disangka sebuah kelompok gerakan Salafi memberikan jaminan pada acara wawancara dengan radio militer Israel.

"Kami sangat terkejut dengan hasil wawancara tersebut," ungkap seorang sumber pemerintahan kepada AFP. "Hal ini memberikan sesuatu kepada kita tanpa ada keraguan sedikitpun terhadap apa yang terjadi di Mesir."

Saat ditanya mengenai kemungkinan wisatawan Israel berkunjung ke Mesir pasca Mubarak, Hammad mengatakan bahwa "Siapapun yang datang ke Mesir disambut dengan baik, tanpa membeda-bedakan asal usulnya."