14 Juli 2011 - 19:30

Hujjatul Islam Sayyid Ammar Hakim, Ketua Majelis Tinggi Islam Irak mengatakan bahwa kebangkitan rakyat Irak untuk menentang rezim Saddam sudah dimulai dari bulan Sya'ban tahun 1991.

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam Sayyid Ammar Hakim, ketua Majelis Tinggi Islam Irak dalam sebuah acara di Baghdah Irak menyambut baik seruan persatuan kaum muslimin dari Rektor Universitas Al Azhar Mesir, Syaikh Ahmad Tayyib. Beliau berkata, "Seruan persatuan dari Syaikh yang mulia Ahmad Tayyib adalah seruan yang menggembirakan. Perkataan beliau mengenai pentingnya wahdah Islamiyah, pendekatan antar mazhab dalam Islam menunjukkan kualitas beliau yang layak untuk menjadi rektor Al Azhar."

"Syaikh Al Azhar pernah berkata, bersedia untuk melaksanakan shalat dibelakang imam shalat yang syiah bahkan telah melakukannya. Dengan itu kami juga mengumumkan dan menyampaikan bahwa demi menjaga persaudaraan Islam, kami juga tidak segan untuk mendirikan shalat di dalam jama'ah shalat yang berbeda-beda mazhab, bahkan siap diimami untuk itu." Ujarnya tegas.

Hujjatul Islam Sayyid Ammar Hakim selanjutnya mengatakan akan membuat undangan resmi kepada Rektor Al Azhar tersebut agar bisa berkunjung ke Irak sehingga jalinan persaudaraan antara Mesir dan Irak bisa lebih terjalin.

Ketua Majelis Tinggi Islam Irak ini lebih lanjut mengatakan bahwa kebangkitan rakyat Irak untuk menentang rezim Saddam sudah dimulai dari bulan Sya'ban tahun 1991. "Perjuangan rakyat Irak menentang kediktatoran sudah mulai dari tahun 1991. Saat itu dimulai dari bulan Sya'ban dengan mengumandangkan syair-syair kecintaan kepada Ahlul bait as, rakyat Syiah Irak tumpah tuah kejalan-jalan utama dan di tempat-tempat umum menyatakan penentangannya terhadap diktatorisme." Jelasnya.

"Rezim Saddam menyikapi perlawanan terang-terangan rakyat Syiah tersebut dengan terjangan peluru yang menyebabkan ribuan nyawa melayang. Korban pembantaian massal tersebut dikuburkan begitu saja dibanyak tempat. Sampai sekarang telah tercatat sekitar lebih dari 200 jazad yang telah dikeluarkan dari pekuburan massal tersebut, untuk kemudian dikuburkan secara baik-baik oleh keluarganya." Lanjut ulama muda ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, "Hal ini perlu terus disampaikan agar rakyat dan dunia tidak lupa, bahwa Syiah dimanapun berada adalah penentang rezim diktator dan kezaliman."