Menurut Kantor Berita ABNA, Masyarakat Bahrain walaupun sampai sekarang terus menghadapi berbagai perlakuan buruk dari pemerintah berikut adanya pembatasan-pembatasan yang sangat ketat dan sekarang ini untuk melakukan demonstrasi tidak lagi semudah seperti hari pertama, namun aksi mereka sama sekali tidak pernah berhenti. Setiap ada kesempatan pasti mereka gunakan untuk menyampaikan aspirasi mereka dengan baik. Dengan percaya diri mereka berkata memangnya sampai kapan Ali Khalifah bisa mempertahankan kondisi semacam ini, sampai kapan dia mampu membayar para tentara itu sehingga mampu membuat kondisi tidak aman seperti yang kita lihat terus tetap ada. Masyarakat Bahrain sangat menyadari bahwa kondisi ini tidak akan bertahan untuk selamanya.
Pada kesempatan ini akan kami urai berita terakhir yang terjadi di Bahrain.
Kedatangan tentara Ali Su’ud dan Ali Khalifah dibeberapa kawasan di Manamah.
Tentara keamanan Arab Saudi membantu tentara Ali Khalifah untuk menguasai beberapa kawasan di Kota Manamah. Pasukan keamanan itu selalu siap dengan pucuk-pucuk pelontar peluru mereka untuk menembak siapapun yang nekadi turun kejalan. Pasukan ini melakukan penyerangan pada peserta shalat Jamaah di Masjid Mukmin di Kota Manamah.
Berdasarkan berita yang dilaporkan dari penyerangan ini terdapat beberapa orang yang mengalami luka-luka akibat serangan dengan pucuk-pucuk senjata perang yang digunakan.
Para tentara itu juga berupaya menghalangi pengiriman korban yang mengalami luka-luka untuk dibawa ke Rumah sakit. Tentara ini mengepung desa Ma’amir dan menyerang para wanita disana dengan cairan gas air mata.
Teriakan Takbir di Desa Ma’amir
Dari Bahrain dilaporkan pihak pemerintah mengupayakan segala hal dalam rangka menghentikan gerakan masyarakat dan ini tidak hanya dilakukan di kota-kota besar bahkan desa-desa dan kawasan-kawasan terpencil pun menjadi sasaran bidik. Pada malam harinya masyarakat Ma’amir bersama-sama turun kejalan dan meneriakkan takbir menuju kemenangan.
Surat berisi ancaman dari menteri pendidikan Bahrain.
Menteri Pendidikan Bahrain mengirimkan pada para pelajar surat ancaman bahwa jika sampai mereka tidak masuk kelas maka mereka akan dilarang ikut ujian.
Penangkapan dua perwakilan kelompok yang mengundurkan diri dari Parlemen Bahrain.
Pemerintahan Bahrain dua perwakilan Shiah di Parlemen dari organisasi Al-Wafak. Dua perwakilan yang ikut keluar dari gedung parlemen pada saat acara aksi demonstrasi itu dicekal dan kemudian dipindahkan ketempat tersembunyi.
Salah satu sumber yang memiliki kedekatan dengan Al-Wafak berkata, “ Hari sebelumnya Mathar Ibrahim Mathar dan Jawad Firuz dua orang wakil parlemen kubu yang mengundurkan diri ditangkap oleh pihak Ali Khalifah.”
Penangkapan terhadap aktifis Bahrain mulai meningkat sejak bulan Maret kemarin. Ini dilakukan Ali Khalifah yang telah kehilangan kekuasaan untuk mengontrol kondisi Negaranya, dia berusaha melakukan penghentian pergerakan masyarkat dengan melakukan berbagai penangkapan.
Sumber yang tidak ingin disebutkan namanya ini menekankan, “ Kemarin sekelopok pasukan yang mengenakan pakaian sipil melakukan penyerangan ke rumah dua orang ini dan menangkap mereka berdua, mereka berdua pun dibawa ketempat yang tidak jelas.”
Perwakilan organisasi Al-Wafak sebagai organisasi Shiah terbesar di parlemen Bahrain hari sebelumnya melakukan pengunduran diri secara bersama-sama.
Parlemen Bahrain terdiri atas 40 orang wakil setelah pengunduran diri 11 orang lainnya dari 18 orang wakil organisasi Shiah ini, dua orang diantaranya adalah Mathar dan Firuz yang telah ditangkap dan ditahan.
Hak masyarakat Bahrain dihadapan pemimpin dhalim.
Seorang pemikir Islam dari Mesir mengatakan bahwa Rakayat Bahrain memang memiliki hak untuk bangkit.
Doktor Muhammad Salim Al-Awa dalam menjawab pertanyaan sekaitan masalah Bahrain berkata bahwa bangkit dihadapan pimpinan dhalim disemua agama langit itu dinilai sebagai hal yang sesuai syariat.
Dia mengungkapkan bahwa di Bahrain tidak terjadi pertentangan antara Shiah dan Suni. Siapapun yang mendapati bahwa ada pihak yang berbuat dhalim terhadap hak-hak mereka maka mereka berhak untuk berevolusi melawan pimpinan mereka.
Kehidupan di Bahrain sudah tidak layak lagi.
Pemuda Aktifis Bahrain menyatakan bahwa hidup di Negara ini sudah tidak memungkinkan lagi.
Kelompok ini menjelaskan, “Negara ini kini sudah dikuasai oleh penjajah yaitu Arab Saudi. Dalam pemaparan mereka, mereka juga mengungkapkan bahwa pihak pasukan Ali Khalifah dan Ali Su’ud dan kru mesin angkat berat telah meluluh lantakkan masjid-masjid yang ada."
Selain itu mereka juga menyatakan bahwa penangkapan para aktivis dan ulama agama, penyerangan kerumah-rumah, perusakan Masjid hingga kini masih terus berlangsung di Bahrain.
Perjalanan Revolusi yang tidak memiliki arah kembali.
Salah satu aktivis Bahrain menyampaikan bahwa Rezim Bahrain dengan penyiksaan, pembunuhan, perusakan rumah dan Masjid, mampu mengubah keinginan masyarakat.
Ali Farj dalam memaparkan bahwa masyarakat Bahrain terus gigih dalam upaya menggapai gerakan kebangkitan sesuai syar’I mereka menekankan, Masyarakat Bahrain dengan sikap penuh persahabatan dan penuh kedamaian dan sama sekali tidak pernah datang dengan nilai-nilai permusuhan. Mereka meminta pemerintah untuk menghentikan penyerangan pemerintah yang ditujukan pada mereka yang begitu bengis. Masyarakat mengharapkan untuk segera ditemukan jalan pemecahan secepatnya untuk mengatasi kondisi tidak stabil di Bahrain yaitu dengan memenuhi tuntutan mereka.
Ali Farj menyampaikan harapannya agar pemerintah segera menerima aspirasi masyarakat dan segera menjalankan demokrasi dan kebebebasan di Bahrain.
Raja Bahrain memiliki raport begitu buruk di mata para wartawan.
Organisasi Internasional Perlindungan Tulisan dan Wartawan tanpa batas menempatkan Raja Bahrain pada barisan 38 pemimpin yang telah melakukan tindak kejahatan secara terang-terangan terkait kebebasan dan dalam dunia komunikasi.
Organisasi ini mengumumkan Hamid bin Isa Ali Khalifah sudah ditetapkan sebagai bagian dari 38 pemimpin yang telah melukai kebebasan dan dunia komuniasi pada tahun 2011.
Organisasi ini menegaskan di Bahrain telah dilakukan beberapa hal yang bertentangan dengan hukum penulisan secara terang-terangan, salah satu tindakan itu adalah pembunuhan Karim Al-Fakhrawi salah satu pengurus pusat berita Al-Wasath.