Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al-Uzma Makarim Syirazi kemarin (30/3) mengawali kuliah Bahsil Kharij di masjid A’zam berbicara mengenai bergejolaknya kebangkitan rakyat di beberapa Negara Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah khususnya kebangkitan rakyat Bahrain, kezaliman Aali Khalifah dan pernyataan tidak rasional beberapa ulama Sunni mengenai peristiwa tersebut. Ayatullah Makarim Syirazi mengatakan, “Yusuf Qardawi adalah seseorang yang dikenal sebagai tokoh diantara ulama-ulama Ahlusunnah yang cukup terpelajar, namun baru-baru ini, kata-katanya tentang kebangkitan Syiah dan Sunni di Bahrain menunjukkan beliau bukan seorang alim agama."
“Beliau menyatakan bahwa dirinya tidak sepakat terhadap kebangkitan di Bahrain dan ingin mereka ini dibubarkan, sedangkan seorang agamawan tidak sepatutnya berbicara seperti itu, sebab menunjukkan adanya pilih kasih antara umat Islam. Bagaimana mungkin beliau menyokong Mesir dan Libya akan tetapi mempertahankan diktator di Bahrain? Tidak benar satu atap dua udara buat sebuah alam”.
Beliau menyatakan, “Di Bahrain, tidak semuanya Syiah. Syiah dan Sunni bersama-sama bangkit dan ulama Sunni Bahrain turut memberi peran untuk kebangkitan. Anda hendaklah menyingkirkan sikap fanatisme buta dan ta'azhub dan berdalillah dengan logika. Dua udara satu atap merupakan fanatik kaum dan ia memberi keuntungan untuk Israel dan musuh Islam”.
Ayatullah Makarim Syirazi sambil menunjukkan konspirasi musuh yang masih dikenakan atas Iran berkata, “Qardawi, pemimpin Al-Azhar, mufti besar Syria, marilah berbincang bersama saya, sampai kita tahu jikalau tidak ada revolusi Islam Iran dan kamu tidak berbicara tentang Amerika, apakah yang akan terjadi dengan Negara-negara Islam di kawasan ini? Benarkah rakyat Mesir mampu membentuk revolusi? Jikalau tidak ada Iran, niscaya Zionis telah menguasai Timur Tengah sepenuhnya."
Ulama Marja Taqlid ini lebih jauh mengingatkan, “Jikalau Syiah di Iran dan Libanon tidak menyerang Israel secara politik, situasi di kawasan Timur Tengah tidak akan jadi seperti ini, setelah itu mereka sangat waspada dan bermaksud supaya revolusi-revolusi yang terjadi tidak diambil alih, sekiranya tidak ada Iran niscaya Israel merajalela di Timur Tengah, Qardawi hendaklah lebih banyak membaca”.
Beliau sambil mengisyaratkan pentingnya persatuan umat Islam berkata, “Wahabi adalah penentang Syiah namun kita hendaklah bertoleransi dalam berhadapan dengan mereka, bahkan ada riwayat yang menyebut kita hendaklah kita bergabung dan shalat berjama'ah dengan mereka, karena jika kita berpecah dalam situasi seperti ini maka Israel dan musuh Islam akan meraih keuntungan."
“Meskipun begitu persatuan dan toleransi bukanlah bermaksud kita mengabaikan pandangan kita sebagai Syiah Imam Dua Belas, dan hendaklah kita berdiri teguh dengan pendirian tersebut dalam menghadapi musuh-musuh yang menghina Ahlul Bait, walaupun golongan ini kecil." Tegasnya.
“Barangsiapa yang mengikuti mazhab Ahlul Bait akan dihitung sebagai Syiah, mereka wajib patuh kepada arahan Ahlul Bait dalam menghadapi setiap penentang seperti Wahabi dan Nasibi. Lihatlah bagaimana Ahlul Bait bertingkah dan ikutilah mereka” ucap beliau sebagai nasehat di akhir ceramahnya.