Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pra-seminar ilmiah Konferensi Internasional Allamah Syahid Sayyid Hassan Nasrallah, yang berfokus pada peninjauan kembali peran dan kedudukannya di tingkat internasional dan dunia Islam, diselenggarakan hari ini, Rabu, 29 Mehr 1405 (21 Oktober 2026), di Forum Ahlulbait Sedunia di Qom.
Pra-seminar tersebut dihadiri sejumlah tokoh hauzah dan akademisi, antara lain Ayatullah Reza Ramezani, Sekretaris Jenderal Forum Ahlulbait Sedunia; Ayatullah Syekh Hussein al-Matouq, anggota Dewan Tinggi Forum Ahlulbait Sedunia asal Kuwait; Hujjatul Islam Syekh Ahmad al-Najdi, perwakilan Hizbullah Lebanon di Qom; Dr. Mohammad Mahdi Shariatmadar, mantan Atase Republik Islam Iran di Lebanon; serta Hujjatul Islam Mohammad Hassan Zamani, penasihat Kepala Hauzah Ilmiah Iran.
Mereka mengkaji berbagai dimensi kepribadian Syahid Nasrallah yang belum banyak dikenal melalui perspektif fikih perlawanan, filsafat, manajemen strategis, dan ketaatan terhadap Wilayatul Faqih.
Perlawanan Merupakan Wujud Kasih Sayang
Dalam pra-seminar tersebut, Ayatullah Ramezani menyinggung ungkapan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam mengenai tokoh-tokoh terkemuka. Ia menegaskan bahwa Imam yang gugur syahid menggunakan istilah “mazhab pemikiran” (maktab) untuk dua tokoh dan istilah “fenomena” untuk dua tokoh, yakni Syahid Haji Qassem Soleimani dan Syahid Sayyid Hassan Nasrallah.
Sekretaris Jenderal Forum Ahlulbait Sedunia tersebut menekankan bahwa Syahid Nasrallah telah meletakkan dasar bagi sebuah gerakan peradaban.
Ia menambahkan bahwa fikih perlawanan dalam pengalaman Syahid Nasrallah merupakan sebuah teknologi tata kelola pemerintahan yang memiliki berbagai dimensi fikih, etika, strategi, dan organisasi.
Ia melanjutkan bahwa perlawanan dalam pemikiran Nasrallah bukan sekadar pandangan militer, melainkan memperoleh maknanya dalam kehidupan masyarakat serta disertai orientasi pada keadilan dan pembangunan kepercayaan.
Rahasia Kemenangan Terletak pada Ketaatan kepada Imam Khamenei
Ayatullah al-Matouq juga menyinggung dimensi keilmuan Syahid Nasrallah. Ia menyatakan bahwa Nasrallah tidak pernah meninggalkan kegiatan kajian ilmiah dan pembelajaran hauzahnya, serta telah mengikuti lebih dari 500 pelajaran dars-e kharij fikih dari Imam Khamenei.
Anggota Dewan Tinggi Forum Ahlulbait Sedunia itu menyinggung tiga tokoh yang berpengaruh dalam pembentukan pemikiran Syahid Nasrallah, yaitu Syahid Sadr, Imam Khomeini, dan Imam Khamenei.
Ia menegaskan: “Syahid Nasrallah dalam sebuah konferensi pada tahun 2000 secara sengaja mencium tangan Imam Khamenei untuk memberikan pemahaman kepada semua orang bahwa rahasia seluruh kemenangan terletak pada ketaatan terhadap Wilayatul Faqih.”
Mengubah Kaum Syiah dari Titik Kelemahan Menjadi Puncak Kekuatan
Hujjatul Islam al-Najdi, pembicara lainnya dalam pra-seminar tersebut, menekankan peran utama dan khusus Pemimpin Perlawanan dalam transformasi masyarakat Syiah Lebanon.
Ia mengatakan: “Syahid Nasrallah, melalui pembinaan jihad dan peningkatan kesadaran, telah mengubah kaum Syiah dari sebuah titik kelemahan menjadi salah satu pusat kekuatan besar di kawasan.”
Perwakilan Hizbullah Lebanon di Qom tersebut juga menyinggung slogan: “Kami bukanlah hamba Amerika dan Israel, melainkan para pemegang otoritas wilayah.”
Ia menegaskan: “Jawaban kami kepada Trump adalah jawaban yang sama seperti yang disampaikan Sayyidah Zainab Sa di Karbala, ketika beliau bersabda: ‘Mereka adalah kaum yang telah dikuasai oleh para pembunuh.’”
Syahid Nasrallah adalah Pemimpin yang Membangun Lembaga dan Berorientasi pada Masa Depan
Mantan Atase Kebudayaan Iran di Lebanon memusatkan pembahasannya pada karakteristik unik kepemimpinan dan manajemen Syahid Nasrallah.
Ia menyatakan: “Berbeda dengan para sekretaris jenderal Hizbullah sebelumnya, Syahid Nasrallah merupakan seorang pemimpin yang membangun lembaga dan berorientasi pada tindakan nyata, serta bekerja berdasarkan kajian masa depan.”
Dengan menyinggung penyusunan “fikih organisasi” berdasarkan fatwa-fatwa Imam Khamenei oleh Syahid Nasrallah, ia menjelaskan: “Nasrallah memiliki keyakinan yang kuat terhadap pelaksanaan kewajiban di hadapan otoritas wilayah. Ia meyakini bahwa apabila sesuatu terlintas dalam hati pemimpin, bahkan tanpa adanya perintah yang jelas, maka menjadi kewajiban bagi kami untuk melaksanakannya.”
Mengorbankan Segalanya untuk Pemimpin Zamannya
Hujjatul Islam Zamani, penasihat Kepala Hauzah Ilmiah, mengkaji sepuluh pilar ketaatan Pemimpin Perlawanan terhadap Wilayatul Faqih. Dengan menyinggung berbagai dimensi kepribadian Syahid Nasrallah, ia menyatakan: “Imam Khamenei hanya menggunakan istilah maktab untuk dua tokoh, yaitu Syahid Haji Qassem Soleimani dan Syahid Sayyid Hassan Nasrallah.”
Ia juga menyinggung doa Syahid Nasrallah untuk Pemimpin Revolusi Islam. Ia menegaskan bahwa Nasrallah pernah mengatakan dalam sebuah wawancara televisi: “Setiap hari aku memohon kepada Allah agar Dia mengambil seluruh sisa umurku dan keluargaku sekaligus, lalu menambahkannya kepada umur Pemimpin Revolusi yang tercinta.”
Menurutnya, ungkapan tersebut merupakan puncak cinta dan pengabdian Nasrallah kepada Pemimpin Revolusi Islam. Hujjatul Islam Eskandari, Sekretaris Kongres Umana al-Rusul, dalam sambutannya pada awal pertemuan menjelaskan proses penyelenggaraan konferensi untuk memperingati kedudukan ilmiah Syahid Nasrallah.
Ia menyatakan bahwa dalam dewan ilmiah yang terdiri atas berbagai lembaga hauzah dan institusi keilmuan, tujuh tokoh telah dipilih dari daftar 100 ulama dan tokoh terkemuka untuk menjadi subjek penyelenggaraan kongres.
Allamah Syahid Sayyid Hassan Nasrallah, yang dikenal sebagai Syahid Perlawanan, termasuk salah satu prioritasnya. Ia menambahkan: “Hingga saat ini, lebih dari 600 artikel ilmiah telah dikirimkan kepada sekretariat konferensi ini. Pada bagian wawancara, sebanyak 20 proyek juga telah dirancang. Diperkirakan 12 proyek akan berhasil diselesaikan dan diterbitkan dalam bentuk buku.”
Hujjatul Islam Eskandari juga menyinggung berbagai kegiatan kongres di tingkat provinsi. Ia menegaskan bahwa sejumlah kegiatan telah dilaksanakan di Provinsi Khorasan, Fars, dan Isfahan. Selain itu, tujuh tema telah dipilih dan disampaikan kepada seluruh Universitas Azad.
Mulai pekan depan, kegiatan penyelenggaraan seminar-seminar tersebut akan dimulai. Perlu diketahui bahwa kegiatan ini diselenggarakan atas prakarsa Kantor Kajian, Investigasi, dan Penelitian di bawah Deputi Bidang Keilmuan dan Kebudayaan, bekerja sama dengan Sekretariat Kongres Internasional Umana al-Rusul, Lembaga Pendidikan Jangka Pendek Al-Mustafa, serta Kantor Berita Internasional Ahlulbait (ABNA).
Komentar Anda