Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Menjelang pelaksanaan pemilihan umum sela Amerika Serikat, pilihan-pilihan politik Presiden Donald Trump, baik dalam urusan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri, semakin terbatas dari hari ke hari. Presiden Amerika Serikat itu berusaha memulihkan modal politiknya yang terus terkikis serta meningkatkan peluang kemenangan partainya dalam pemilu yang akan diselenggarakan sekitar dua minggu lagi.
Berdasarkan laporan surat kabar Lebanon Al-Akhbar, perkembangan tersebut berlangsung ketika kubu Demokrat masih mengungguli Partai Republik dalam jajak pendapat nasional.
Jajak pendapat terbaru NBC News yang diterbitkan pada Sabtu, dengan data yang dikumpulkan antara September dan Oktober, menunjukkan bahwa 55 persen pemilih terdaftar berniat memberikan suara kepada kandidat Partai Demokrat di daerah pemilihan masing-masing.
Meskipun mayoritas responden menegaskan bahwa ekonomi merupakan persoalan terpenting yang menjadi perhatian mereka, sebanyak 43 persen memiliki pandangan positif terhadap Partai Demokrat. Sementara itu, hanya 37 persen yang menyampaikan pandangan serupa terhadap Partai Republik. Sebaliknya, sebanyak 63 persen responden memiliki pandangan negatif terhadap Partai Republik.
Selain itu, lebih dari 70 persen dari hampir 20.000 responden dalam jajak pendapat meyakini bahwa negara mereka sedang bergerak ke arah yang salah. Angka tersebut merupakan tingkat yang belum pernah terjadi sejak dimulainya masa jabatan kedua Trump sebagai presiden.
Persentase ini setara dengan jumlah orang yang meyakini bahwa kebijakan Presiden Amerika Serikat lebih sering merugikan negara tersebut. Sebaliknya, hanya 29 persen yang percaya bahwa Amerika Serikat sedang bergerak ke arah yang benar. Menurunnya Kepercayaan Publik terhadap Trump: Dari Janji Ekonomi hingga Meningkatnya Biaya Hidup
Penurunan kepercayaan publik terhadap Trump, bahkan di kalangan Partai Republik sendiri, terjadi ketika Presiden Amerika Serikat tersebut gagal memenuhi sejumlah janji kampanyenya, terutama janji untuk menurunkan harga-harga. Pada saat yang sama, kondisi kehidupan masyarakat Amerika Serikat terus memburuk.
Harga barang-barang kebutuhan pokok, termasuk produk bahan bakar dan bahan makanan, mengalami kenaikan. Biaya sewa perumahan, biaya pinjaman, utang kartu pembayaran, dan tingkat suku bunga juga meningkat.
Para analis mengaitkan berbagai indikator negatif tersebut dengan enam kebijakan Trump, di antaranya penerapan tarif bea masuk, perang terhadap Iran, pembatasan imigrasi, pemotongan pajak, dan peningkatan pengeluaran pemerintah.
Dalam situasi seperti ini, hasil jajak pendapat Pew Research Center tidak terlalu mengejutkan. Berdasarkan jajak pendapat tersebut, tingkat kepuasan masyarakat Amerika Serikat terhadap presiden mereka telah menurun menjadi 30 persen. Selain itu, tingkat dukungan terhadap Trump di kalangan basis pemilih Partai Republik turun dari 65 persen pada awal masa jabatan keduanya menjadi 39 persen.
Berdasarkan jajak pendapat yang sama, sebanyak 60 persen warga Amerika Serikat menuduh Trump memanfaatkan jabatan kepresidenannya untuk memperkaya diri sendiri, alih-alih memperhatikan kepentingan masyarakat dan menyelesaikan krisis ekonomi serta biaya hidup yang terus meningkat.
Dampak Kebijakan Trump terhadap Partai Republik Persaingan antara Partai Republik dan Partai Demokrat untuk memperebutkan kursi di kedua kamar Kongres Amerika Serikat semakin sengit. Dalam persaingan tersebut, pemilihan anggota Senat di negara bagian Michigan, Maine, Ohio, North Carolina, Iowa, dan Georgia memiliki arti penting.
Selain itu, tahun ini pemilihan gubernur diselenggarakan di 39 dari 50 negara bagian Amerika Serikat. Total pengeluaran untuk iklan politik dalam persaingan tersebut sejauh ini telah mencapai sekitar 3,8 miliar dolar AS. Angka tersebut juga mencakup sumbangan dana sebesar 366 juta dolar AS dari Elon Musk.
Data tersebut diterbitkan oleh perusahaan AdImpact, yang memantau kegiatan periklanan politik. Di tengah persaingan tersebut, Partai Demokrat tampaknya memanfaatkan kondisi politik Partai Republik yang tidak stabil di sejumlah basis tradisional partai itu, termasuk negara bagian Nebraska, Texas, dan Georgia.
Situasi ini terbentuk ketika para petani dan pengemudi truk di negara-negara bagian tersebut menghadapi gelombang inflasi serta kenaikan harga bahan bakar, energi, dan biaya pinjaman.
Sebagai contoh, jajak pendapat di negara bagian Texas menunjukkan keunggulan Gina Hinojosa, kandidat Partai Demokrat dalam pemilihan gubernur, atas Greg Abbott, gubernur petahana sekaligus kandidat Partai Republik.
Keunggulan tersebut dilaporkan meskipun jumlah dana kampanye yang berhasil dikumpulkan Hinojosa masih lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1994, tidak ada kandidat Partai Demokrat yang berhasil memenangkan pemilihan gubernur negara bagian Texas.
Texas: Persaingan Ketat di Basis Tradisional Partai Republik
Data yang diterbitkan pada akhir September tahun ini juga menunjukkan keunggulan James Talarico, kandidat Partai Demokrat untuk Senat Amerika Serikat dari negara bagian Texas, atas Ken Paxton, Jaksa Agung Texas sekaligus pesaingnya dari Partai Republik.
Berdasarkan data tersebut, Talarico unggul lima poin persentase atas pesaingnya. Selain itu, jajak pendapat kedua yang dilakukan Lembaga Penelitian Opini Publik Texas mengenai persaingan pemilu tersebut menunjukkan bahwa Talarico, yang kampanyenya berhasil mengumpulkan dana lebih dari 70 juta dolar AS, memperoleh dukungan dari 49 persen pemilih.
Sebaliknya, tingkat dukungan terhadap Paxton mencapai 44 persen. Talarico memperoleh dukungan lebih besar, khususnya di kalangan generasi muda, pemilih independen berpendidikan tinggi, serta warga Amerika keturunan Afrika dan Amerika Latin.
Alasan utama dukungan tersebut disebut berkaitan dengan pembelaannya terhadap masyarakat serta citranya sebagai sosok yang bersih dari korupsi.
Situasi ini terjadi ketika Trump sebelumnya pernah menyebut Paxton sebagai sosok yang buruk, meskipun ia meminta para pendukungnya untuk memberikan suara kepada Paxton. Paxton dikenal karena mendukung berbagai upaya Trump untuk menggugat hasil pemilihan presiden tahun 2020.
Sebelumnya, ia juga menghadapi sejumlah tuduhan terkait penipuan keuangan. Pada tahun 2023, para penentangnya, dengan alasan serupa, berhasil mendorong proses pemberhentiannya melalui Dewan Perwakilan Rakyat negara bagian Texas.
Texas merupakan negara bagian yang secara historis memiliki kesetiaan politik kepada Partai Republik, dengan lebih dari 32 persen penduduknya berasal dari keturunan Amerika Latin.
Georgia: Perbedaan Sikap Mengenai Perang Gaza dan Iran
Sementara itu, persaingan untuk memperebutkan kursi Senat Amerika Serikat dari negara bagian Georgia juga terus berlangsung. Para kandidat dalam persaingan tersebut memiliki sikap yang berbeda mengenai berbagai persoalan, termasuk perang di Gaza dan Iran.
Meskipun demikian, persaingan tersebut digolongkan sebagai salah satu kontestasi yang aman atau hampir pasti menguntungkan Partai Demokrat. Terutama karena Jon Ossoff, senator dari Partai Demokrat, unggul 13 poin persentase atas pesaingnya dari Partai Republik, Mike Collins, yang merupakan anggota Kongres.
Collins dituduh memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi sayap kanan rasis, termasuk kelompok Ku Klux Klan. Upaya Trump Menutupi Kegagalan: Dari Serangan Politik dalam Kampanye hingga Kesepakatan dengan Rusia
Di tengah semakin sengitnya persaingan tersebut, Trump dalam beberapa pekan terakhir berusaha mengalihkan perhatian dari berbagai kegagalan selama masa kepresidenannya, baik dalam urusan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri.
Di dalam negeri, ia melanjutkan serangan-serangan bernuansa rasis terhadap kandidat Partai Demokrat yang memiliki latar belakang Arab dan Islam. Salah satunya adalah Abdulrahman El-Sayed, yang dikenal dengan nama “Abdul”, kandidat pemilihan Senat Amerika Serikat dari negara bagian Michigan.
Trump menuduhnya sebagai anggota kelompok Ikhwanul Muslimin dan menyebut kelompok tersebut sebagai organisasi teroris global. Dalam bidang kebijakan luar negeri, Trump juga berusaha menciptakan kesan di kalangan pemilih Amerika Serikat bahwa penyelesaian krisis energi sudah semakin dekat.
Dalam praktiknya, ia berusaha mencapai kesepahaman dengan Rusia untuk memenuhi sebagian kebutuhan bahan bakar Amerika Serikat, dengan tujuan mengendalikan kenaikan harga energi yang terus berlangsung.
Berdasarkan kesepahaman tersebut, Rusia dijadwalkan mengekspor sejumlah bahan bakar diesel ke Amerika Serikat dan sebagai imbalannya akan memperoleh pengecualian dari sebagian paket sanksi.
Meskipun demikian, kesepakatan tersebut memicu berbagai kritik yang tidak hanya berasal dari Partai Demokrat, tetapi juga meluas hingga ke kubu Partai Republik.
Para pengkritik menilai bahwa kesepahaman tersebut menghindari penerapan undang-undang keras Graham terhadap Rusia dan presidennya, yang menetapkan berbagai pembatasan berat terhadap Moskow.
Mereka juga menegaskan bahwa upaya menghadapi Rusia merupakan salah satu persoalan yang menjadi prioritas dan kepentingan bersama kedua partai politik Amerika Serikat.
Dalam konteks tersebut, Thom Tillis, senator Partai Republik dari negara bagian North Carolina, menggambarkan kesepakatan baru Rusia dan Amerika Serikat sebagai tindakan yang telah melampaui batas ketidakbertanggungjawaban.
Ia mengatakan bahwa apabila Trump benar-benar ingin menurunkan harga energi, ia harus mengakhiri perang dengan Iran, bukan melayani Vladimir Putin. Chuck Schumer, senator Partai Demokrat dari negara bagian New York, juga menanggapi keputusan Trump dengan mengatakan: “Dengan memberikan dukungan yang membuat perekonomian Rusia tetap bertahan hidup, kesepakatan Trump dengan iblis semakin memburuk dari hari ke hari.”
Skenario Mendatang: Apa Dampaknya jika Partai Demokrat Kembali Menguasai Kongres?
Para pengamat menilai bahwa hasil pemilu, di satu sisi, akan menentukan sejauh mana pemerintahan Partai Republik saat ini mampu menjalankan agenda legislatifnya pada paruh kedua masa kepresidenan Trump.
Hal tersebut mencakup kemampuannya untuk menerapkan pemotongan pajak lebih lanjut, memperluas pengeluaran pertahanan, dan membatasi jaringan bantuan sosial dalam kelanjutan pelaksanaan rancangan kebijakan yang dikenal sebagai “Undang-Undang Besar dan Indah” (One Big Beautiful Bill).
Di sisi lain, hasil pemilu juga akan menentukan sejauh mana Partai Demokrat mampu merebut kembali inisiatif politik dari Partai Republik dan memperoleh mayoritas di salah satu atau kedua kamar Kongres.
Hal ini terutama penting di Senat, yang memiliki tanggung jawab untuk mengesahkan pengangkatan pejabat kehakiman, para menteri, dan duta besar.
Tampaknya, apabila Partai Demokrat memenangkan pemilu, mereka akan berusaha menunda pengangkatan pejabat yang diajukan Trump ke pengadilan-pengadilan federal, termasuk Mahkamah Agung Amerika Serikat, hingga setelah pemilihan umum tahun 2028.
Selain itu, kemungkinan dimulainya penyelidikan terhadap tingkat korupsi yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya dan berkaitan dengan Trump serta orang-orang terdekatnya juga tidak dapat dikesampingkan.
Chuck Schumer, pemimpin minoritas Partai Demokrat di Senat, sebelumnya telah menjanjikan langkah tersebut.
Schumer kembali menegaskan bahwa partainya berkomitmen untuk berupaya menurunkan biaya layanan kesehatan, bahan makanan, perumahan, energi, dan berbagai pengeluaran hidup masyarakat Amerika Serikat lainnya.
Kekhawatiran terhadap Campur Tangan Pemerintahan Trump dan Kemungkinan Pertarungan Hukum Pascapemilu
Menjelang pengumuman hasil pemilu, para pengamat menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan campur tangan pemerintahan Trump dalam proses pemilihan maupun pada tahap setelah pemungutan suara berakhir.
Kekhawatiran tersebut terutama muncul karena Presiden Amerika Serikat saat ini berulang kali mempertanyakan integritas dan keabsahan pemilihan umum.
Padahal, tidak ada bukti yang disampaikan untuk mendukung klaim-klaimnya.
Para legislator Partai Demokrat sejak sekarang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
Sementara itu, diperkirakan bahwa setelah pemilihan umum pada 3 November mendatang, persaingan tersebut juga akan diikuti oleh pertarungan hukum.
Komentar Anda