Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Kamala Harris, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat pada masa pemerintahan Joe Biden, menyampaikan kritik tersebut melalui unggahan di media sosial.
Harris menuliskan bahwa masyarakat Amerika semakin kesulitan memenuhi berbagai kebutuhan pokok, mulai dari bahan bakar, makanan, biaya sewa rumah, pengasuhan anak, hingga layanan kesehatan.
Sementara itu, kenaikan upah yang mereka terima tidak mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup. Menyoroti dampak ekonomi dari serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Harris menegaskan: “Masyarakat sudah lelah karena harus memilih antara membeli bensin atau memenuhi kebutuhan makanan.”
Harris menilai perang yang dilancarkan Trump terhadap Iran telah memperburuk tekanan keuangan yang dihadapi keluarga-keluarga Amerika.
Ia juga menggambarkan pemerintahan Trump sebagai pemerintahan yang “tidak berperasaan, korup, dan tidak kompeten”, serta menyatakan bahwa para pemilih siap menentang pemerintahan tersebut.
Popularitas Trump Menurun Menjelang Pemilu
Berdasarkan data jajak pendapat Silver Bulletin yang dipublikasikan BBC, tingkat persetujuan publik terhadap kinerja Donald Trump mengalami penurunan cukup tajam. Pada awal masa jabatan keduanya sebagai Presiden Amerika Serikat, tingkat persetujuan terhadap Trump tercatat sedikit di atas 50 persen. Namun, angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 37 persen.
Ketika serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, tingkat persetujuan publik terhadap Trump berada di kisaran 42 persen. Tidak lama setelah serangan berlangsung, angka tersebut merosot hingga berada di bawah 40 persen.
Penurunan popularitas ini menjadi perhatian menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026. Partai Republik saat ini hanya memiliki keunggulan tipis di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat.
Dalam pemilu paruh waktu mendatang, seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan 35 kursi Senat akan diperebutkan. Sementara itu, Partai Demokrat berupaya memanfaatkan penurunan dukungan terhadap Trump untuk merebut kembali kendali atas Kongres Amerika Serikat.
Beban Perang dan Biaya Kesehatan Menjadi Tantangan bagi Partai Republik
Perang melawan Iran telah menyebabkan gangguan terhadap pasokan energi dan mendorong kenaikan harga bensin di Amerika Serikat. Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai janji kampanye Trump untuk menurunkan biaya hidup masyarakat.
Pada akhir Februari, Trump masih merujuk pada harga bensin yang berada di bawah 2,30 dolar AS per galon. Namun, setelah terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah, harga bensin meningkat hingga mendekati 4 dolar AS per galon.
Kenaikan tersebut semakin menambah beban pengeluaran masyarakat Amerika, terutama bagi keluarga yang sebelumnya telah mengalami kesulitan akibat tingginya biaya kebutuhan sehari-hari. Selain persoalan energi, hasil jajak pendapat juga menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap penanganan konflik Iran oleh pemerintahan Trump.
Dalam survei yang dilakukan pada Agustus, sebanyak 63 persen responden menyatakan tidak menyetujui cara Trump menangani konflik tersebut. Di tengah situasi ini, Partai Demokrat memusatkan perhatian kampanyenya pada persoalan meningkatnya biaya asuransi kesehatan serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Sementara itu, isu imigrasi masih menjadi salah satu tantangan utama bagi Partai Republik maupun Partai Demokrat dalam persaingan politik menjelang pemilu paruh waktu.
Dengan demikian, perang terhadap Iran, kenaikan harga energi, tingginya biaya hidup, dan persoalan layanan kesehatan menjadi sejumlah isu penting yang memengaruhi dinamika politik Amerika Serikat menjelang pemilu November 2026.
Komentar Anda