Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dr. Azmi Abdul Hamid, Ketua Dewan Konsultatif Organisasi-Organisasi Islam Malaysia, menyampaikan pandangannya dalam Konferensi Internasional Ketiga bertajuk “Kebangkitan Umat Nabi Muhammad”.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya kebangkitan umat Islam dan menyatakan bahwa dunia Islam saat ini sedang berada pada sebuah momentum sejarah yang menentukan.
Menurutnya, setelah gugurnya salah seorang pemimpin besar umat, masyarakat Muslim perlu memahami makna pesan yang ditinggalkannya serta tanggung jawab yang harus dilanjutkan setelah kesyahidannya.
Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Perubahan Diri
Dalam pemaparannya, Abdul Hamid menyoroti sejumlah prinsip penting, antara lain martabat manusia, keadilan, perlawanan terhadap penindasan, persatuan, serta hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Ia menegaskan bahwa kebangkitan umat Islam tidak boleh hanya menjadi slogan, melainkan harus diwujudkan dalam perubahan nyata pada tingkat kesadaran, persatuan, penguasaan ilmu pengetahuan, ketahanan, dan tindakan konstruktif.
Abdul Hamid kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)
Berdasarkan ayat tersebut, ia menjelaskan bahwa kebangkitan umat yang sesungguhnya harus dimulai dari kesadaran dan perubahan dalam diri manusia.
Ketika seseorang berubah, perubahan itu akan memengaruhi keluarganya dan kemudian masyarakat secara keseluruhan.
Menurutnya, masyarakat yang bangkit melalui ilmu pengetahuan, akhlak, dan keadilan akan memiliki kemampuan untuk membangun sebuah peradaban.
Kesyahidan Bukan Akhir dari Perjuangan
Berbicara mengenai makna kesyahidan, Abdul Hamid menegaskan bahwa wafatnya seorang syahid tidak berarti berakhirnya jalan perjuangan yang telah ditempuhnya.
“Seorang syahid meninggalkan dunia, tetapi prinsip-prinsip yang diperjuangkannya tidak boleh ikut hilang,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa mengenang seorang syahid dan merasakan kesedihan atas kepergiannya saja tidak cukup.
Umat Islam harus memahami tanggung jawab yang diwariskan setelah kepergian tokoh tersebut.
Menurutnya, tanggung jawab itu adalah meneruskan nilai-nilai ilmu pengetahuan, persatuan, keadilan, martabat, kemerdekaan, serta pengabdian kepada masyarakat yang tertindas.
“Menjunjung nilai-nilai tersebut merupakan makna kebangkitan umat yang sesungguhnya,” ujarnya.
Persatuan Umat Bukan Berarti Menghapus Perbedaan
Abdul Hamid juga menyoroti besarnya potensi yang dimiliki dunia Islam.
Ia menyebut keberadaan para ulama, generasi muda, peneliti, tenaga ahli, organisasi, lembaga pendidikan, serta kekayaan sumber daya manusia dan alam sebagai modal penting bagi kebangkitan umat.
Namun, menurutnya, persoalan mendasar yang perlu dijawab adalah apakah seluruh potensi tersebut dapat dipersatukan dalam sebuah proyek bersama.
“Pertanyaan utamanya adalah apakah kita mampu menghimpun seluruh kemampuan ini dalam satu proyek bersama?” katanya.
Ia menekankan bahwa persatuan tidak berarti menghapus seluruh perbedaan ataupun meniadakan perbedaan pendapat ilmiah yang sah.
Menurutnya, perbedaan tidak boleh berkembang menjadi kebencian, perpecahan, dan permusuhan di antara sesama Muslim.
Umat Islam dapat memiliki perbedaan dalam persoalan-persoalan cabang, tetapi harus mampu bekerja sama dalam berbagai kepentingan bersama.
Ia menyebut sejumlah bidang yang membutuhkan kerja sama lintas mazhab dan negara, seperti persoalan Palestina, pendidikan, ilmu pengetahuan dan penelitian, ketahanan pangan, kesehatan, teknologi, serta kegiatan kemanusiaan.
Palestina Menjadi Ujian Penting bagi Kebangkitan Umat Islam
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Hamid menyebut Palestina sebagai salah satu ujian terpenting bagi kebangkitan umat Islam.
Menurutnya, kebangkitan umat tidak cukup diukur dari seberapa besar kesedihan atau kepedulian yang dirasakan umat Islam terhadap penderitaan rakyat Palestina.
Kepedulian tersebut harus diwujudkan menjadi tanggung jawab yang nyata.
Ia menjelaskan bahwa penderitaan rakyat Palestina harus mendorong lahirnya tanggung jawab, kemudian diterjemahkan menjadi tindakan, dilanjutkan dengan pembangunan lembaga, dan pada akhirnya menghasilkan kemampuan peradaban yang berkelanjutan.
Dengan demikian, solidaritas terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada ungkapan emosional, tetapi harus melahirkan kerja nyata yang terorganisasi.
Abdul Hamid menekankan pentingnya bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina, perlindungan terhadap anak-anak, pelayanan medis, pendidikan, pembangunan kembali wilayah yang hancur, serta penguatan kapasitas hukum dan diplomasi.
Menurutnya, seluruh upaya tersebut harus diarahkan untuk memperkuat kemampuan rakyat Palestina agar dapat menjalani kehidupan secara bermartabat serta mempertahankan hak-hak mereka.
Dari Kesadaran Menuju Pembangunan Peradaban
Pada akhir pidatonya, Abdul Hamid kembali menegaskan bahwa kebangkitan umat Islam tidak boleh dimaknai hanya sebagai munculnya kemarahan terhadap penindasan dan ketidakadilan.
Kebangkitan yang sesungguhnya, menurutnya, adalah kebangkitan pemikiran, ilmu pengetahuan, nilai-nilai, akhlak, persatuan, tanggung jawab, dan peradaban. Ia menyerukan agar umat Islam tidak berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu atau memperingati perjuangan para tokoh.
Sebaliknya, ingatan sejarah tersebut harus menjadi sumber kesadaran yang melahirkan tindakan dan tanggung jawab nyata.
“Kita harus bergerak dari mengenang menuju menjalankan misi, dari misi menuju tanggung jawab, dari tanggung jawab menuju persatuan, dari persatuan menuju penguatan kemampuan, dan dari penguatan kemampuan menuju pembaruan peradaban,” pungkasnya.
Komentar Anda