26 September 2026 - 20:38
Pentingnya Memperkenalkan Iran sebagai Peradaban dan Kebudayaan kepada Masyarakat Indonesia

Diskusi ilmiah bertajuk “Hubungan Budaya dan Intelektual Iran–Indonesia: Fondasi Historis, Tantangan Kontemporer, dan Prospek Masa Depan” digelar dengan menghadirkan Dr. Yahya Jahangiri, Atase Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, bersama sejumlah dosen dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  – ABNA – Diskusi ini merupakan program ke-57 rangkaian dialog Center for Southeast Asian Social Studies (CESASS) Universitas Gadjah Mada dan diselenggarakan secara luring maupun daring.

Dalam acara tersebut, Dr. Yahya Jahangiri, Atase Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, hadir sebagai pembicara, sementara Dr. Dicky Sofjan dari Universitas Gadjah Mada bertindak sebagai moderator sekaligus pengarah akademik diskusi.

Pengaruh Pemikiran Tokoh-Tokoh Iran dalam Ruang Intelektual Indonesia

Pada awal diskusi, Dr. Dicky Sofjan menyinggung sejarah panjang hubungan historis dan intelektual antara Iran dan Indonesia.

Ia mengatakan bahwa setelah Revolusi Islam Iran, karya dan pemikiran sejumlah cendekiawan Iran juga mendapat perhatian dalam lingkungan intelektual Indonesia.

Dalam konteks tersebut, ia menyebut nama Murtadha Muthahhari, Ali Shariati, Ayatullah Beheshti, dan Imam Khomeini, serta menyinggung kehadiran dan pengaruh karya maupun pemikiran mereka di kalangan sebagian elite dan lingkungan intelektual Indonesia.

Dosen Universitas Gadjah Mada itu juga menilai keberadaan manuskrip dan karya berbahasa Persia dalam khazanah tertulis Nusantara sebagai salah satu bukti penting hubungan historis dan budaya antara Iran dan dunia Melayu-Indonesia.

Ia menegaskan bahwa penelitian terhadap sumber-sumber tersebut dapat mengungkap berbagai dimensi hubungan yang hingga kini masih kurang dikenal.

Akademisi Berperan Memperkenalkan Gambaran Iran yang Lebih Utuh

Selanjutnya, Dr. Yahya Jahangiri menyinggung pentingnya diplomasi budaya dan akademik.

Ia mengatakan bahwa salah satu tantangan yang ada saat ini adalah dominannya gambaran tentang Iran yang terbatas dan terkadang tidak akurat dalam sebagian ruang media internasional.

Menurutnya, kalangan akademisi, peneliti, dan lembaga kebudayaan dapat memainkan peran dalam menyampaikan gambaran Iran yang lebih menyeluruh dan berdasarkan realitas sejarah serta sosial negara tersebut.

Ia menegaskan: “Iran tidak boleh hanya dikenal melalui perkembangan politik dan militernya. Masyarakat Indonesia juga perlu diperkenalkan dengan Iran sebagai sebuah peradaban; Iran dengan pemikiran, filsafat, puisi dan sastra, para pemikirnya, kehidupan sosial yang berdampingan, persatuan Islam, kemajuan ilmu pengetahuan, serta luasnya kehadiran perempuan berpendidikan dalam berbagai bidang ilmiah dan sosial.”

Hubungan Iran dan Kepulauan Indonesia Terbentuk Sebelum Hubungan Diplomatik Resmi

Dalam bagian lain pidatonya, Atase Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia mengulas hubungan Iran–Indonesia sebelum terbentuknya hubungan diplomatik resmi. Ia mengatakan bahwa hubungan antara dua kawasan peradaban Iran dan Kepulauan Indonesia telah terbentuk jauh sebelum kedua negara menjalin hubungan resmi.

Ia menambahkan bahwa mengingat posisi historis Iran dalam jaringan perdagangan dan kebudayaan Samudra Hindia, jalur-jalur laut menjadi salah satu perantara terpenting dalam perpindahan unsur-unsur budaya, sastra, tasawuf, dan pemikiran Iran menuju wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Tujuh Dekade Hubungan Diplomatik dan Perluasan Interaksi Budaya

Dr. Jahangiri kemudian menyinggung tujuh dekade hubungan diplomatik antara Iran dan Indonesia. Ia mengatakan bahwa setelah hubungan resmi terbentuk, ikatan historis antara kedua bangsa memasuki tahap yang lebih terlembagakan.

Dengan memaparkan sejumlah data mengenai hubungan kebudayaan kedua negara, ia membahas berbagai bidang interaksi, termasuk pertukaran mahasiswa, pariwisata, penerjemahan dan penerbitan buku, kerja sama antaruniversitas, hubungan ilmiah, serta interaksi keagamaan dan kebudayaan.

Dorongan untuk Melaksanakan Proyek Bersama Jangka Panjang

Dalam menjelaskan prospek masa depan hubungan budaya kedua negara, Atase Kebudayaan Iran di Indonesia menekankan perlunya beralih dari kerja sama yang bersifat sementara menuju proyek-proyek bersama jangka panjang.

Ia menyebut pengembangan proyek penelitian berskala besar, penguatan kerja sama antara universitas-universitas Iran dan Indonesia, pelaksanaan proyek seni dan perfilman bersama, peningkatan pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengenalan timbal balik terhadap warisan peradaban kedua negara sebagai beberapa bidang utama yang dapat dikembangkan dalam hubungan budaya Iran–Indonesia di masa depan.

Pertanyaan Mahasiswa tentang Hubungan Iran dan Indonesia

Bagian akhir pertemuan diisi dengan dialog serta sesi tanya jawab. Para mahasiswa Universitas Gadjah Mada, termasuk sejumlah mahasiswa internasional dari berbagai negara, menyampaikan pertanyaan mengenai sejarah hubungan Iran dan Indonesia, diplomasi budaya, posisi Iran di dunia Islam, serta prospek kerja sama ilmiah dan kebudayaan antara kedua negara.

Diskusi tersebut digelar di Ruang Indonesia, Center for Southeast Asian Social Studies Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan pada saat yang sama juga disiarkan secara daring.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha