20 September 2026 - 22:25
Migrasi, Identitas dan Kanan Jauh; Seperti Apa Prancis pada Tahun 2050?

Prancis berada di ambang perubahan demografis penting. Perubahan ini, bersama dengan tren migrasi, perdebatan tentang identitas nasional, dan meningkatnya pengaruh kelompok kanan jauh, memunculkan pertanyaan baru mengenai seperti apa wajah Prancis pada tahun 2050.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  – ABNA – tiga isu sensitif, yakni migrasi, identitas, dan kebangkitan kelompok kanan jauh, kini saling berkelindan dalam perdebatan publik di Prancis.

Tulisan-tulisan yang diterbitkan di situs Orient XXI, Le Figaro, dan Libération menawarkan pendekatan yang berbeda terhadap persoalan-persoalan tersebut, mulai dari analisis historis dan politik hingga pemodelan demografis serta kajian mengenai tanda-tanda kehadiran kelompok kanan jauh dalam masyarakat Prancis.

Berdasarkan sebuah studi yang dirangkum harian Le Figaro dengan mengutip Observatoire de l’Immigration et de la Démographie (OID), komposisi penduduk Prancis pada masa depan akan sangat bergantung pada besarnya arus migrasi dan kebijakan yang diterapkan terhadapnya.

Studi tersebut mengajukan tiga skenario hingga tahun 2100, sembari menegaskan bahwa proyeksi demografis pada dasarnya selalu mengandung ketidakpastian.

Dalam skenario tinggi, yang mengasumsikan kedatangan sekitar 350 ribu imigran permanen setiap tahun, diproyeksikan bahwa orang-orang yang memiliki latar belakang non-Eropa—berdasarkan definisi studi yang menelusuri hingga tiga generasi—akan menjadi mayoritas di antara kelompok kelahiran baru tidak lama setelah tahun 2040, dan menjadi mayoritas dari keseluruhan penduduk pada pertengahan dekade 2070-an.

Dalam skenario menengah, yang didasarkan pada masuknya sekitar 250 ribu imigran permanen setiap tahun, studi tersebut memperkirakan bahwa orang-orang dengan latar belakang non-Eropa akan menjadi mayoritas di antara kelompok kelahiran baru sedikit setelah tahun 2050, dan menjadi mayoritas dari keseluruhan penduduk pada dekade 2090-an.

Dalam skenario restriktif, yang mengasumsikan penurunan migrasi dari luar Eropa hingga seperempat dari tingkat skenario menengah, pangsa penduduk dengan latar belakang non-Eropa menurut studi tersebut akan stabil di sekitar 30 persen populasi pada tahun 2070.

Le Figaro menegaskan bahwa skenario-skenario tersebut bukanlah prediksi yang pasti, melainkan kemungkinan yang dibangun berdasarkan asumsi-asumsi tertentu.

Studi itu sendiri juga mengakui bahwa sejumlah variabel, terutama tingkat kelahiran, migrasi, dan migrasi kembali ke negara asal, sangat sulit diprediksi.

Identitas dan Rasisme

Di sisi lain, sebuah diskusi yang diberitakan Orient XXI dengan judul “Rasisme, Islamofobia, dan Migrasi: Kesadaran untuk Melawan dengan Lebih Baik” berfokus pada latar belakang historis dan politik dari perdebatan mengenai migrasi dan identitas.

Pierre Tévanian, filsuf, pengajar, aktivis sosial, dan penulis yang banyak membahas islamofobia, mengatakan bahwa untuk memahami rasisme kontemporer, perlu melihat kembali sejarah kolonial Prancis.

Dalam pemaparannya, Tévanian menjelaskan bahwa rasisme tidak sekadar berarti menganggap sebuah kelompok berbeda, tetapi juga berkaitan dengan mengubah perbedaan tersebut menjadi semacam kekurangan atau ancaman, lalu menggunakannya untuk membenarkan diskriminasi dan ketimpangan.

Sarah Gherira, pemimpin redaksi Orient XXI, juga berpendapat bahwa konsep sekularisme atau laïcité, yang merupakan salah satu dasar politik Prancis, telah diperluas ke persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengannya.

Dalam hal ini, ia menyinggung peraturan mengenai foto resmi serta persoalan pemberantasan rasisme.

Ia mengkritik apa yang menurutnya merupakan perubahan sekularisme menjadi instrumen yang semakin membatasi kelompok-kelompok tertentu, dan mengatakan bahwa terjadi pencampuradukan antara sekularisme dengan berbagai persoalan keamanan maupun sosial.

Marie Loïc, jurnalis dan peneliti yang membahas dimensi historis isu tersebut dalam pertemuan itu, juga mengaitkan sebagian wacana kontemporer tentang “penggantian” dan “invasi” dengan contoh-contoh historis yang terdapat dalam literatur kelompok kanan jauh.

Ia menyerukan agar sejarah kolonial Prancis dipelajari untuk memahami akar dari sejumlah pandangan mengenai migrasi dan para imigran.

Berdasarkan pandangan-pandangan yang disampaikan dalam forum tersebut, peningkatan kesadaran mengenai sejarah kolonialisme, pemahaman yang tepat tentang konsep sekularisme, analisis terhadap wacana media, dan pengenalan terhadap cara terbentuknya stereotip mengenai Muslim dan imigran dianggap sebagai instrumen penting untuk memahami dan melawan rasisme serta islamofobia.

Kanan Jauh di Ruang Publik

Harian Libération, dalam sebuah artikel karya Thomas Legrand, mengambil pendekatan yang lebih dekat dengan perkembangan politik terkini dan membahas kota Carcassonne.

Ia mengkaji serangkaian peristiwa yang menurutnya menunjukkan tanda-tanda masuknya gagasan kanan jauh ke dalam institusi lokal.

Dalam konteks ini, Legrand menyinggung tindakan wali kota dari partai Rassemblement National serta kasus beredarnya rekaman suara yang dikaitkan dengan salah seorang pejabat kepolisian kota.

Menurut laporan surat kabar tersebut, rekaman itu mengandung pernyataan bernuansa rasis, konspiratif, dan seksual.

Ia juga merujuk pada sebuah video dari Romain Gandour, seorang rohaniwan militer, yang menurut surat kabar tersebut menyatakan bahwa Prancis mungkin akan “digantikan” oleh budaya dan nilai-nilai lain.

Pernyataan itu dipandang merujuk pada teori “Great Replacement” atau “Penggantian Besar.”

Rohaniwan tersebut juga menyerang pemerintah Prancis dan para politisi yang mengelolanya, serta dengan nada protes mempertanyakan: “Kita telah menempatkan orang-orang yang tidak mampu dalam posisi tanggung jawab; orang-orang yang makan biji-bijian, orang-orang yang berkhotbah kepada semua orang, orang-orang yang ideologis... Apakah ini Prancis?”

Menurut penulis, peristiwa-peristiwa lokal semacam ini dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana gagasan-gagasan kanan jauh mulai muncul dalam institusi negara dan masyarakat.

Di antara Demografi dan Politik

Berbagai tulisan tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan “Seperti apa Prancis pada tahun 2050?” tidak hanya berkaitan dengan demografi.

Le Figaro menekankan pengaruh kebijakan dan migrasi terhadap komposisi penduduk pada masa depan. Orient XXI menyoroti sejarah kolonialisme, rasisme, islamofobia, dan cara media membahas migrasi. Sementara itu, Libération menghubungkan perdebatan tersebut dengan semakin besarnya kehadiran kelompok kanan jauh di ruang publik.

Dengan demikian, gambaran Prancis pada pertengahan abad ini akan bergantung pada interaksi antara kebijakan kependudukan, arus migrasi, perubahan demografis, definisi identitas nasional, serta karakter wacana politik dan media.

Namun demikian, angka-angka mengenai masa depan tetap merupakan skenario bersyarat dan bukan hasil yang pasti. Sementara itu, perdebatan politik mengenai arah yang harus ditempuh Prancis pada tahun-tahun mendatang masih terus berlangsung.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha