Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – kepala babi yang dipenggal, pembakaran Al-Qur’an, peringatan mengenai pembentukan “kota-kota syariat”, serta tuduhan tentang “Islamisasi” menjadi bagian dari serangkaian peristiwa luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya di Texas. Islam kini telah menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam pertarungan politik di negara bagian tersebut.
Pada Desember 2025, Jake Lang, seorang aktivis sayap kanan ekstrem, mendatangi East Plano Islamic Center (EPIC)—salah satu masjid terkemuka di Amerika Serikat dan tempat beraktivitas ulama Muslim terkenal Yasir Qadhi—sambil membawa kepala babi yang telah dipenggal dan di dalamnya diselipkan sebuah Al-Qur’an.
Namun apa yang terjadi di depan pusat Islam itu hanyalah bentuk paling terbuka dan paling buruk dari pertarungan yang jauh lebih luas di seluruh Texas.
Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September, Texas disebut telah muncul sebagai salah satu garis depan utama perdebatan mengenai Islam di Amerika Serikat.
Texas kini menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 300 ribu Muslim, serta berbagai lembaga dan tokoh Islam terkemuka. Bersamaan dengan itu, masjid, sekolah Islam, lembaga amal, dan berbagai usaha milik Muslim juga terus berkembang.
Namun, seiring dengan semakin terlihatnya kehadiran dan meningkatnya kepercayaan diri komunitas Muslim, muncul pula reaksi politik yang sangat keras, yang kali ini tidak lagi terbatas pada kelompok-kelompok pinggiran.
EPIC dan proyek permukiman Muslim
East Plano Islamic Center sendiri telah menjadi salah satu pusat pertarungan tersebut.
Masjid ini dikaitkan dengan sebuah rencana pembangunan kawasan permukiman bagi komunitas Muslim di timur laut Dallas. Proyek tersebut semula diberi nama EPIC City, kemudian diubah menjadi The Meadow.
Proyek itu dirancang mencakup rumah-rumah hunian di sekitar masjid, sekolah, serta kawasan komersial. Namun proyek tersebut dengan cepat berubah menjadi isu politik yang kontroversial.
Gubernur Texas dari Partai Republik, Greg Abbott, mengatakan: “Agar jelas: hukum syariat tidak diperbolehkan di Texas. Kota-kota syariat juga tidak diperbolehkan.”
Sejumlah lembaga negara bagian kemudian memulai berbagai penyelidikan terhadap proyek tersebut.
Abbott menuduh para pengembang berupaya membentuk komunitas eksklusif bagi Muslim dan mengelolanya berdasarkan hukum syariat.
Para pengembang dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Mereka menyatakan bahwa kawasan itu akan terbuka bagi semua orang tanpa memandang agama dan tetap tunduk pada hukum Amerika Serikat.
Setelah lembaga federal bidang perumahan juga memulai penyelidikan pada tahun ini, Abbott mengatakan: “Proyek The Meadow akan tetap seperti sekarang: sebuah tanah kosong!”
Gubernur Texas itu berpendapat bahwa kontroversi tersebut berkaitan dengan persoalan diskriminasi dan penegakan hukum Texas, bukan permusuhan terhadap umat Islam.
Namun menurut Yasir Qadhi, persoalan mendasarnya adalah bahwa konsep “syariat” yang diserang oleh para politisi sangat berbeda dari cara Muslim Amerika biasa memahami agamanya.
Dalam wawancara dengan PBS, Qadhi mengatakan: “Ketika saya mengatakan ‘syariat’ kepada seorang Muslim Amerika biasa, yang terlintas di pikirannya adalah, ‘Saya harus berbuat baik kepada ibu saya dan menjadi manusia yang baik.’ Pemahaman mereka tentang syariat sama sekali bukan seperti yang diklaim oleh orang-orang yang melontarkan tuduhan ini. Bahkan Muslim di negara ini sendiri akan terkejut dengan definisi yang mereka gunakan.”
Tindakan Abbott terhadap CAIR dan Ikhwanul Muslimin
Kampanye Greg Abbott disebut telah jauh melampaui persoalan EPIC. Pada November 2025, ia mengklasifikasikan Council on American-Islamic Relations (CAIR)—organisasi advokasi hak-hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat—serta Ikhwanul Muslimin sebagai “organisasi teroris asing” dan “organisasi kriminal transnasional” berdasarkan aturan negara bagian Texas.
Abbott menuduh organisasi-organisasi tersebut berusaha melakukan “pemaksaan hukum syariat” serta membangun “supremasi Islam di dunia”.
Ia mengatakan: “Tidak ada tempat bagi para ekstremis radikal ini di negara bagian kita.”
CAIR menolak tuduhan tersebut dan mempertanyakan kewenangan Abbott untuk mengeluarkan perintah semacam itu.
Meskipun demikian, Abbott meminta Jaksa Agung Texas Ken Paxton untuk mencabut status bebas pajak dan status nirlaba CAIR serta menghalangi organisasi itu beroperasi di Texas.
Menurut Omar Suleiman, pendiri lembaga penelitian Islam Yaqeen Institute di Dallas, langkah tersebut menunjukkan persoalan yang jauh lebih besar.
Ia mengatakan: “Selama masa pemerintahan Abbott, islamofobia dalam politik Texas telah sangat dinormalisasi dan digunakan sebagai alat. Muslim berkali-kali dijadikan sasaran yang mudah, bukan karena komunitas kami pernah menimbulkan ancaman, tetapi karena menciptakan ketakutan terhadap Muslim terbukti memiliki keuntungan politik.”
Suleiman menyebut tindakan Abbott terhadap CAIR sebagai sekadar sebuah “pertunjukan politik.”
“Don’t Sharia Our Texas”
Abbott tidak bergerak sendirian dalam ruang politik.
Partai Republik, yang menguasai jabatan gubernur dan kedua kamar legislatif Texas, telah menjadikan slogan “Don’t Sharia Our Texas” sebagai salah satu prioritas resmi legislatif mereka.
Dalam resolusi Partai Republik Texas, syariat digambarkan sebagai suatu: “sistem yang bermusuhan, tidak kompatibel, menghasut, dan subversif.”
Partai tersebut mengusulkan agar promosi atau penerapan syariat dapat dikenai sanksi pidana dan menyebabkan seseorang didiskualifikasi dari jabatan publik, militer, maupun aparat penegak hukum.
Dalam langkah yang lebih jauh lagi, partai tersebut meminta pemerintah federal untuk: “mencabut kewarganegaraan para pendukung hukum syariat dan mendeportasi mereka dari negara tersebut.”
Dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik pada Maret, 95 persen pemilih Texas yang berpartisipasi mendukung sebuah usulan yang menyatakan bahwa Texas harus melarang hukum syariat.
Anggota Kongres Partai Republik Chip Roy, yang menjadi kandidat jaksa agung Texas, melangkah lebih jauh dengan memperingatkan bahwa identitas negara bagian itu sendiri sedang berubah.
Dalam wawancara dengan mantan penasihat Trump Steve Bannon, ia mengatakan: “Ini adalah upaya politik yang terkoordinasi untuk mengislamkan Texas. Kita harus mengubah Konstitusi Texas. Kita harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi Texas dari Islamisasi oleh kaum Marxis radikal.”
Roy bersama anggota Kongres Republik lainnya, Keith Self, juga membentuk kaukus “Sharia-Free America” di Kongres.
Membakar Al-Qur’an untuk meraih suara
Pada ujung paling ekstrem dari spektrum politik tersebut terdapat Valentina Gomez, aktivis sayap kanan ekstrem kelahiran Kolombia dan figur media sosial yang gagal memperoleh nominasi Partai Republik untuk Kongres.
Pada Agustus 2025, Gomez menerbitkan sebuah video kampanye yang memperlihatkan dirinya membakar sebuah Al-Qur’an menggunakan alat penyembur api.
Dalam video tersebut, ia berteriak: “Anak-anak perempuan kalian akan diperkosa dan anak-anak laki-laki kalian akan dipenggal, kecuali kita menghentikan Islam untuk selamanya.”
Dalam pesan yang menyertai video itu, ia menyatakan: “Saya akan mengakhiri keberadaan Islam di Texas.”
Walaupun Gomez bukan pejabat terpilih dan tidak dapat dianggap mewakili seluruh anggota Partai Republik Texas, kemunculannya menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana gagasan-gagasan yang dahulu dianggap berada di pinggiran kini telah memasuki arus utama politik.
Memang terdapat perbedaan antara tindakan Gomez membakar Al-Qur’an dan penyelidikan Abbott terhadap sebuah proyek perumahan, tetapi menurut artikel ini, bahasa politik yang digunakan mengenai Islam memiliki banyak kesamaan.
Gomez mengatakan Islam harus dihentikan; Abbott mengatakan CAIR dan Ikhwanul Muslimin ingin memaksakan syariat; partai penguasa menyebut syariat sebagai sistem yang bermusuhan; sementara anggota Kongres memperingatkan tentang “Islamisasi”.
Polemik fasilitas wudu
Pertarungan politik tersebut bahkan telah merambah fasilitas wudu bagi Muslim. Pada Agustus, Abbott menyerahkan persoalan fasilitas wudu dan tempat mencuci di bandara Dallas–Fort Worth dan Houston kepada otoritas federal untuk diperiksa.
Ia mengatakan: “Tempat-tempat wudu ini memberikan perlakuan khusus kepada satu kelompok tertentu berdasarkan agama. Ini bukan ruang ibadah lintas agama yang terbuka bagi semua orang, tetapi fasilitas yang dibuat hanya untuk kepentingan komunitas Muslim.”
Pejabat Houston membantah klaim tersebut dan mengatakan bahwa fasilitas itu tersedia bagi seluruh penumpang.
Mengapa Texas?
Mengapa Texas berubah menjadi arena pertarungan seperti ini? Salah satu jawabannya, menurut artikel tersebut, adalah pertumbuhan, visibilitas, dan meningkatnya kepercayaan diri komunitas Muslim.
Dallas dan Houston memiliki komunitas Muslim yang sangat berkembang. Masjid, sekolah, lembaga amal, serta organisasi profesional telah menjadi bagian permanen dari kehidupan sosial negara bagian tersebut.
East Plano Islamic Center yang dipimpin Yasir Qadhi serta Yaqeen Institute yang dipimpin Omar Suleiman juga telah memperoleh audiens internasional.
Komunitas Muslim membangun lembaga, mengembangkan kekuatan ekonomi, dan semakin aktif dalam politik.
Proyek EPIC City membuat pertumbuhan tersebut menjadi sangat terlihat karena, menurut artikel ini, Muslim tidak lagi sekadar berencana membangun sebuah masjid, melainkan mengusulkan pembangunan sebuah kawasan permukiman lengkap.
Apakah Texas negara bagian paling islamofobik di Amerika?
Artikel ini menyatakan bahwa tidak tersedia statistik yang cukup untuk membuktikan klaim tersebut secara mutlak. Hal itu karena kejahatan kebencian, pengaduan diskriminasi, dan serangan terhadap masjid diukur menggunakan indikator yang berbeda-beda.
Namun, menurut artikel tersebut, Texas menonjol karena alasan lain: sejauh mana sikap permusuhan terhadap Islam telah bergerak dari aktivis pinggiran menuju arus utama dan institusi kekuasaan politik. Seorang provokator sayap kanan ekstrem dapat membawa kepala babi ke depan sebuah masjid. Seorang kandidat yang kalah dapat membakar Al-Qur’an dengan penyembur api.
Tetapi di Texas, menurut artikel tersebut, persoalannya dinilai lebih serius ketika gubernur negara bagian memperingatkan tentang permukiman yang dibangun Muslim, menyebut organisasi hak-hak sipil Muslim terbesar sebagai “organisasi teroris”, anggota Kongres berbicara mengenai “Islamisasi”, dan partai penguasa Texas menyerukan pencabutan kewarganegaraan serta deportasi para pendukung syariat.
Menurut artikel tersebut, inilah yang membuat Texas penting dalam pembahasan ini. Persoalannya bukan sekadar keberadaan islamofobia, tetapi masuknya pandangan-pandangan yang dahulu dianggap berada di pinggiran ke dalam bahasa resmi para pemegang kekuasaan, pada saat komunitas Muslim Texas sendiri terus tumbuh, semakin mapan, dan semakin percaya diri.
Komentar Anda