Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon, memperingatkan tentang situasi berbahaya yang sedang dihadapi negaranya. Ia mengatakan bahwa jalan keluar masih sulit dicapai dan “Kesepakatan Kerangka” telah runtuh.
Ketika ditanya apakah ia puas dengan kinerja pemerintah, Berri menjawab: “Akan ada pertanggungjawaban.”
Saat ditanya apakah pemerintah akan dimintai pertanggungjawaban di parlemen, ia kembali menegaskan: “Akan ada pertanggungjawaban.”
Mengenai perkembangan di Lebanon selatan, khususnya peristiwa terbaru di Nabatieh serta kemungkinan Israel menduduki wilayah baru, Berri mengatakan: “Situasinya berbahaya dan solusi masih jauh dari jangkauan. Kesepakatan Kerangka telah runtuh. Jika Israel ingin menduduki Lebanon selatan, mereka bisa melakukannya.”
“Tentara adalah Pilar Lebanon”
Berri juga menyinggung peran tentara Lebanon di tengah meningkatnya serangan Israel dan meluasnya cakupan operasi militer. Ia menegaskan: “Tentara adalah batu penjuru, bahkan fondasi utama struktur Lebanon.” Ketua Parlemen Lebanon kemudian berbicara mengenai hubungannya dengan Presiden Lebanon. Ia mengatakan bahwa memang terdapat perbedaan pandangan mengenai sejumlah isu, tetapi hubungan di antara keduanya tetap berlangsung.
“Kami berbeda pendapat dalam banyak persoalan. Tetapi hal itu tidak menghalangi persahabatan kami,” katanya.
Berri Mengaku Pesimistis
Mengenai perkembangan ke depan dan kemungkinan munculnya terobosan politik, Berri menyampaikan sikap pesimistis.
Ia mengatakan: “Saya tidak optimistis. Alasan terbesar bagi pesimisme saya adalah pembunuhan yang terus berlangsung, gugurnya warga Lebanon termasuk anak-anak, serta berlanjutnya tindakan penghancuran oleh musuh di Lebanon selatan.” Berri juga menyinggung berbagai upaya yang dilakukan untuk mencari jalan keluar dari krisis.
Menurutnya: “Apa yang mereka lakukan tidak bernilai. Sayangnya, tidak ada solusi.”
Sebagai catatan, dua hari sebelumnya, Tentara Lebanon dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa sejak ditandatanganinya “Kesepakatan Kerangka”, pasukan Israel disebut telah melanggar kesepakatan tersebut sekitar 7.700 kali.
Komentar Anda