11 September 2026 - 20:48
Pembebasan Pesisir Barat Yaman Disebut sebagai “Gempa Strategis” dalam Peta Kekuatan Kawasan

Dr. Wassim Bazzi, peneliti isu strategis, dalam analisisnya mengenai operasi militer Yaman yang disebut berhasil membebaskan lebih dari 5.400 kilometer persegi wilayah pesisir strategis di barat Yaman, menggambarkan perkembangan tersebut sebagai “gempa strategis” yang dampaknya melampaui medan perang dan mengubah keseimbangan kekuatan di Teluk Persia, Tanduk Afrika, dan Asia Barat.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait ABNA — Dr. Wassim Bazzi, pakar isu strategis, dalam wawancara dengan jaringan Al-Masirah, membahas berbagai dimensi operasi militer Yaman dalam merebut kembali kota-kota pesisir di Provinsi Taiz dan Hodeidah.

Bazzi menegaskan bahwa pembebasan lebih dari 5.400 kilometer persegi wilayah pesisir strategis Yaman bagian barat memiliki berbagai dimensi, dan aspek militer, taktis, serta lapangan tidak dapat dipisahkan dari dampak strategisnya.

Ia menjelaskan bahwa setelah berhadapan dengan Amerika Serikat dan Israel, pasukan Yaman kemudian memasuki fase pertempuran melawan blokade terhadap rakyat Yaman. Menurutnya, dukungan terhadap Gaza memainkan peran penting dalam mempersiapkan capaian tersebut.

Menurut Bazzi, rangkaian konfrontasi itu menghasilkan tiga faktor utama: dimensi moral, pengalaman yang diperoleh pasukan Yaman dari konfrontasi dengan Amerika Serikat dan Israel, serta penerapan kemampuan militer dalam pengalaman tempur langsung.

Bazzi mengatakan bahwa di samping operasi militer, Sanaa selalu menegaskan bahwa Selat Bab al-Mandab tetap menjalankan aktivitas normalnya.

Menurutnya, posisi ini menutup ruang bagi pihak mana pun untuk menjadikan isu penutupan Bab al-Mandab sebagai alasan bagi mobilisasi regional ataupun internasional, sekaligus menunjukkan ketelitian perhitungan Sanaa dalam menentukan siapa kawan dan siapa lawan.

“Arab Saudi Kembali Gagal Mengandalkan Amerika”

Bazzi menilai Arab Saudi kembali gagal dalam perhitungannya dengan berharap Amerika Serikat berperang atas namanya, sekaligus gagal mengandalkan kekuatan dan kelompok sekutunya di lapangan.

Ia juga mengatakan bahwa aliansi tiga pihak yang menurutnya dibentuk Arab Saudi di Makkah bersama Pakistan dan Turki tidak bertahan lama. Kedua negara tersebut, katanya, dengan cepat memahami risiko keterlibatan dalam urusan Yaman dan memilih menjauh dari konfrontasi.

Bazzi kemudian merujuk pada laporan Axios mengenai dua kali kontak Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta intervensi militer terhadap Yaman.

Menurut Bazzi, respons negatif Washington dan keengganan Amerika untuk kembali terlibat dalam konfrontasi menunjukkan dampak serangan Yaman yang diterima pasukan AS dalam dua gelombang konfrontasi pada 2025 dan yang, menurutnya, masih membekas dalam kalkulasi Amerika.

Ia menegaskan bahwa pada tahap ini Amerika tidak ingin masuk ke dalam perang atrisi baru, khususnya setelah terlihat berkurangnya sejumlah kemampuan militernya, termasuk rudal ofensif dan pencegat, kapal induk, kapal perusak, serta pangkalan-pangkalan di negara-negara Teluk yang disebut mengalami kerusakan.

“Gempa Strategis”

Bazzi menempatkan kemenangan tersebut dalam kerangka yang ia sebut sebagai “gempa strategis”, seraya mengatakan bahwa seluruh dampak akhirnya belum sepenuhnya terlihat.

Ia mengatakan bahwa Sanaa memiliki kebijaksanaan, ketenangan, pengalaman yang terakumulasi, dan tidak larut dalam euforia kemenangan. Menurutnya, apa yang terjadi merupakan kemenangan logika pihak yang tertindas atas pihak yang menindas, pemulihan identitas nasional dan kebebasan rakyat Yaman, serta kekalahan proyek-proyek pihak lawan.

Bazzi juga mengatakan bahwa Kota Mocha (al-Makha), dengan simbolisme dan arti strategisnya, akan tercatat dalam sejarah setelah perkembangan ini. Menurutnya, berbagai peta dan perhitungan lama kini harus berhadapan dengan realitas baru yang dibentuk oleh situasi di lapangan, keseimbangan kekuatan, kemauan, dan keyakinan.

Ia menambahkan bahwa konsep keamanan yang selama ini menjadi dasar strategi Arab Saudi serta fondasi hubungan timbal baliknya dengan Amerika Serikat kini memasuki fase keruntuhan.

Menurut Bazzi, konsep-konsep tersebut sedang “runtuh di gerbang al-Makha.”

Ia menegaskan bahwa dampak perkembangan ini tidak hanya terbatas pada Yaman dan Arab Saudi, tetapi meluas ke tiga kawasan besar: Teluk Persia, Tanduk Afrika, dan Asia Barat.

Menurutnya, hal itu terutama berkaitan dengan semakin terintegrasinya kekuatan-kekuatan Poros Perlawanan serta berubahnya keseimbangan kekuatan regional akibat perkembangan yang muncul dari operasi militer Yaman.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha