11 Agustus 2026 - 22:41
Sayid Jawad Naqvi Peringatkan Sikap Anti-Iran dalam “Pakta Pertahanan Makkah”

Ketua Gerakan Kebangkitan Umat Mustafa saw., Sayid Jawad Naqvi, memperingatkan kemungkinan Pakistan mengambil sikap anti-Iran dalam kerangka “Pakta Makkah”. Ia meminta pemerintah Pakistan meneliti isi kesepakatan tersebut secara cermat sebelum menerima komitmen apa pun.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Hujjatul Islam Sayid Jawad Naqvi, Ketua Gerakan Kebangkitan Umat Mustafa saw., memperingatkan pemerintah Pakistan agar tidak mengambil posisi anti-Iran dalam kerangka kesepakatan yang disebut sebagai “Pakta Makkah”.

Terkait kemungkinan adanya klausul yang diarahkan terhadap Iran dalam draf kesepakatan Makkah, ia meminta pemerintah Pakistan mengkaji isi perjanjian itu dengan teliti sebelum menerima kewajiban apa pun.

“Pakistan harus memeriksa apakah kesepakatan ini secara tersembunyi disusun untuk melawan Iran atau tidak,” ujarnya.

Sayid Jawad Naqvi menilai Pakistan sedang didorong ke arah “perang anti-Iran” melalui upaya Amerika Serikat dan sejumlah negara Arab untuk menyeret Islamabad ke dalam konflik Asia Barat.

Ia juga mengatakan Arab Saudi menekan Pakistan agar masuk ke dalam pertikaian kawasan. Menurutnya, negara-negara Arab bisa saja menggunakan insentif finansial untuk memengaruhi kebijakan luar negeri Pakistan dan sikap negara itu terhadap Iran.

Meski demikian, ulama terkemuka Pakistan tersebut menegaskan bahwa sejauh ini Islamabad belum mengambil langkah-langkah seperti sebagian negara kawasan yang bersikap konfrontatif terhadap Iran.

Ia juga menyinggung peran Turki pada masa-masa gelap krisis Suriah, lalu menekankan bahwa Pakistan pada umumnya bertindak berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri.

“Pakistan menjaga kepentingannya sendiri, dan itu merupakan bagian dari diplomasi,” katanya.

Perlu dicatat, kesepakatan pertahanan baru antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan ditandatangani empat hari lalu di Makkah. Berdasarkan poin-poin yang beredar di media, isi kesepakatan tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Pakta Makkah adalah kerja sama yang berfokus pada pertahanan. Kesepakatan ini tidak menargetkan negara tertentu dan bertujuan memperkuat komitmen untuk menjaga perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan regional maupun global berdasarkan pembagian tanggung jawab dan pemahaman bersama tentang keamanan.

  2. Kesepakatan ini bertujuan memperkuat daya gentar kolektif terhadap setiap tindakan agresif. Disebutkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya.

  3. Pakta Makkah merupakan hasil nyata dari upaya diplomatik jangka panjang yang dilakukan sesuai prinsip kepemilikan regional untuk membangun titik temu dalam menghadapi ancaman keamanan regional dan internasional yang semakin meningkat.

  4. Pakta Makkah tidak berarti memutus aliansi atau kesepakatan apa pun yang sudah ada. Sebaliknya, kesepakatan ini disebut melengkapi hubungan aliansi yang telah berjalan, memperkuat keamanan regional, dan membuka ruang kerja sama dengan negara-negara lain di kawasan.

  5. Keanggotaan Turki di NATO dan kemitraan regionalnya tidak dipandang saling menggantikan, melainkan sebagai struktur yang saling melengkapi dan memungkinkan pembagian beban keamanan.

  6. Kesepakatan ini bukan front militer ofensif, bukan upaya pengepungan, dan bukan rencana serangan. Kesepakatan ini disebut sebagai langkah menuju kawasan yang bebas dari teror demi menjamin stabilitas regional.

  7. Pakta Makkah tidak menargetkan negara mana pun dan tidak menutup saluran dialog yang sudah ada.

  8. Kesepakatan ini murni bersifat defensif. Selain menegaskan komitmen tiga negara penandatangan untuk saling mendukung dalam bidang pertahanan, pakta ini juga menekankan peningkatan kerja sama dan interoperabilitas dalam industri pertahanan.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha