10 Agustus 2026 - 22:08
Ancaman, Mundur, dan Perang yang Melelahkan; Perang Melawan Iran Berubah Menjadi Jebakan bagi Trump

Perang Amerika Serikat melawan Iran yang semula dibayangkan sebagai operasi singkat dan menentukan, setelah lebih dari lima bulan justru berubah menjadi krisis panjang dan melelahkan bagi pemerintahan Donald Trump.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Laporan-laporan yang diterbitkan The Guardian, The Washington Post, The New York Times, dan The Atlantic menunjukkan satu kesimpulan yang sama: perang Amerika melawan Iran telah memasuki fase yang sangat sensitif.

Perang ini awalnya diperkirakan Donald Trump akan berlangsung singkat dan tegas. Namun kini ia berubah menjadi perang berkepanjangan yang menguras cadangan persenjataan Amerika, melemahkan daya gentar Washington, dan meningkatkan kekhawatiran para sekutunya.

Pada saat yang sama, pemerintah Amerika terpaksa mencari jalan untuk berunding dan keluar dari konflik yang sejauh ini belum berhasil mencapai satu pun tujuan yang sejak awal mereka umumkan.

Berdasarkan laporan Al Jazeera Net, The Guardian dalam laporan Robert Tait dari Washington menulis bahwa perang ini bagi Trump mulai menyerupai sebuah film dengan adegan yang terus berulang: ancaman militer besar, lalu mundur pada detik-detik terakhir dengan alasan masih ada peluang untuk berunding.

The Guardian menyebut Trump telah mengulang pola ini setidaknya tujuh kali sejak perang melawan Iran dimulai. Kasus terbaru adalah pembatalan serangan yang menurut Trump akan menjadi serangan terbesar sejak Perang Dunia II. Trump menyebut keputusan itu diambil karena masih ada peluang mencapai kesepakatan dengan Iran.

Tidak Ada Strategi Amerika yang Jelas

Menurut The Guardian, masalahnya bukan hanya pengulangan pola ancaman dan mundur. Problem yang lebih mendasar adalah tidak adanya strategi Amerika yang jelas dalam perang melawan Iran.

Tujuan yang disampaikan pemerintahan Trump pada awal perang perlahan berubah. Alih-alih terus berbicara tentang perubahan rezim di Iran atau mendorong rakyat Iran menggulingkan pemerintahnya, Trump semakin banyak memusatkan perhatian pada pembukaan kembali Selat Hormuz.

Padahal sebelum perang, selat itu pada dasarnya terbuka. Kini, penutupannya justru menjadi salah satu konsekuensi paling penting dari konflik antara Iran dan Amerika.

The Guardian mengutip Mehrzad Boroujerdi, profesor ilmu politik di Missouri University of Science and Technology, yang menilai Trump melakukan kesalahan mendasar dalam memahami karakter sistem politik Iran. Trump memperlakukan sistem itu seolah-olah bisa dipaksa menyerah dengan mudah melalui bom dan ancaman.

Boroujerdi, yang selama lebih dari dua dekade meneliti elite politik Iran dan menyusun basis data sekitar 2.700 tokoh elite Iran, mengatakan banyak pemimpin Iran saat ini memiliki ikatan mendalam dengan sistem tersebut. Revolusi 1979 memberi mereka posisi dan pengaruh. Karena itu, mempertahankan sistem bagi mereka adalah persoalan hidup dan mati.

The Guardian juga mengutip Ali Vaez, Wakil Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di International Crisis Group. Menurutnya, dalam kondisi tidak adanya proses pengambilan keputusan yang jelas di pemerintahan Amerika, kebijakan Trump sulit dipahami berdasarkan logika strategis yang rapi.

Vaez mengatakan opsi militer Amerika juga semakin terbatas akibat terkurasnya cadangan rudal ofensif dan rudal pencegat. Sementara itu, posisi Iran dalam perundingan, terutama terkait Selat Hormuz, justru semakin kuat.

Bagian Paling Berbahaya

Namun menurut The Washington Post, bagian paling berbahaya dari perang ini adalah bergesernya krisis dari level pengambilan keputusan politik ke level kemampuan militer yang nyata.

Bransho Verma dalam laporannya mengungkap bahwa Kementerian Perang Amerika atau Pentagon menekan perusahaan-perusahaan industri pertahanan untuk mempercepat produksi senjata dan amunisi. Sebab, sejumlah cadangan persenjataan Amerika telah jatuh ke tingkat yang mengkhawatirkan akibat perang.

Menurut laporan The Washington Post, Stephen Feinberg, Wakil Menteri Perang Amerika, dalam sebuah memo kepada para pimpinan perusahaan industri pertahanan memberi waktu 21 hari kepada mereka untuk menyusun rencana peningkatan produksi dan percepatan pengiriman peralatan militer.

Ia menegaskan bahwa siklus pengembangan senjata yang memakan waktu bertahun-tahun tidak lagi dapat diterima. Kapasitas produksi harus ditingkatkan sekarang juga.

Surat kabar itu menjelaskan bahwa pada akhir Juli lalu, Pentagon menggelar pertemuan dengan para eksekutif senior perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Boeing, serta perusahaan baru di bidang teknologi dan industri militer seperti Anduril dan Palantir.

Pejabat-pejabat Amerika meminta perusahaan-perusahaan itu menekan anggota Kongres agar meningkatkan belanja pertahanan.

Kementerian Perang Amerika juga telah menandatangani apa yang disebut sebagai kesepakatan kerangka untuk meningkatkan produksi amunisi berbiaya rendah dan sistem pertahanan udara, termasuk Patriot dan THAAD.

Perang yang Menguras Stok dan Kendala Pendanaan

Namun program-program itu menghadapi satu hambatan besar: pendanaan. Kesepakatan kerangka bukanlah kontrak yang mengikat. Selama Kongres belum menyetujui anggaran yang dibutuhkan, kesepakatan itu belum bisa berubah menjadi pembelian nyata.

Verma mengutip Tom Karako, Direktur Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies, yang mengatakan bahwa masalahnya adalah hampir belum ada sesuatu pun yang benar-benar dikontrakkan, karena anggaran yang dibutuhkan belum disetujui Kongres.

Data The Washington Post menunjukkan besarnya pengurasan cadangan persenjataan Amerika. Pada bulan pertama perang melawan Iran, Amerika menembakkan lebih dari 850 rudal Tomahawk, lebih dari 1.000 rudal pencegat jenis Patriot dan THAAD, serta lebih dari 1.300 rudal balistik taktis.

Berdasarkan analisis Center for Strategic and International Studies, stok rudal Patriot Amerika turun dari sekitar 2.200 unit sebelum perang melawan Iran menjadi kurang dari 827 unit. Sementara stok rudal THAAD turun dari 452 unit menjadi kurang dari 278 unit.

The New York Times dalam laporan Anton Troianovski, Jonathan Swan, Eric Schmitt, dan Julian Barnes juga menegaskan bahwa dampak pengurasan ini melampaui kawasan Timur Tengah.

Amerika terpaksa menarik rudal, sistem pertahanan udara, kapal, pesawat, dan unit militernya dari Eropa dan Asia untuk dipindahkan ke kawasan konflik. Langkah ini memunculkan kekhawatiran tentang kesiapan militer Amerika menghadapi krisis lain.

Kekhawatiran Sekutu di Eropa dan Asia

The New York Times menulis bahwa bombardemen Amerika terhadap Iran telah menghabiskan ribuan rudal mahal. Di sisi lain, upaya menghadapi rudal-rudal Iran juga menguras cadangan sistem pertahanan udara Amerika.

Akibatnya, Washington mulai menunda atau meninjau ulang pengiriman sejumlah senjata kepada sekutu-sekutunya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di Eropa dan Asia.

Ukraina menjadi salah satu korban pertama dari kekurangan ini. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa jumlah rudal pertahanan yang diterima negaranya dari sekutu-sekutu Barat turun menjadi sekitar sepertiga dari level tahun lalu.

Pada saat yang sama, Rusia terus meningkatkan produksi rudalnya. Kondisi ini memperlebar jurang antara kemampuan Moskow memproduksi rudal dan kemampuan Barat menyediakan sistem pencegatnya.

Di Asia, menurut The New York Times, pemindahan senjata jarak jauh, rudal Tomahawk, dan sistem pertahanan udara dari kawasan Indo-Pasifik ke Timur Tengah memunculkan pertanyaan tentang kemampuan Amerika melindungi Jepang, Korea Selatan, dan sekutu-sekutu lainnya jika terjadi krisis dengan China atau Korea Utara.

Surat kabar itu menulis bahwa Moskow dan Beijing mengamati pengurasan ini dari dekat. Keduanya bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk menilai ulang kekuatan dan kelemahan persenjataan Amerika.

Kerusakan pada Kredibilitas Daya Gentar Amerika

Kekhawatiran ini sejalan dengan pembahasan dalam program “Washington Week with The Atlantic”. Jonathan Karl, koresponden senior Washington di ABC News, memperingatkan bahwa Trump telah merusak kredibilitas daya gentar Amerika dengan berulang kali mengancam eskalasi, lalu mundur dari ancaman itu.

Menurut Karl, ketika perilaku seperti ini diulang tujuh kali, para pesaing Amerika di masa depan akan semakin tidak serius menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat.

Macy Ryan, penulis The Atlantic dan pakar isu Pentagon, mengatakan bahwa krisis amunisi bukan hanya akibat perang melawan Iran. Ini adalah problem yang menumpuk selama beberapa dekade.

Setelah Perang Dingin berakhir, prioritas pembelian amunisi menurun. Pada saat yang sama, penyusutan dan penggabungan industri pertahanan Amerika sejak 1990-an melemahkan kemampuan perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan produksi secara cepat.

Amerika juga telah menghabiskan banyak persenjataannya dalam dukungan untuk Ukraina dan operasi militer lainnya.

The Atlantic menulis bahwa membangun kembali cadangan senjata ini akan memakan waktu bertahun-tahun, bahkan jika pendanaannya tersedia. Kementerian Pertahanan Amerika telah menandatangani kontrak senilai maksimum 58,6 miliar dolar AS dengan Lockheed Martin untuk melipatgandakan produksi rudal Patriot PAC-3 hingga tiga kali lipat pada 2030. Namun program seperti ini tidak menyelesaikan masalah jangka pendek.

Beban Pemilu dan Trump yang Tampak Tidak Peduli

Krisis ini tidak hanya terbatas pada bidang militer. Perlahan, ia juga berubah menjadi masalah politik bagi Trump dan Partai Republik.

Carl Hulse, koresponden senior Washington di The New York Times, mengatakan bahwa anggota Partai Republik di Kongres melihat perang melawan Iran sebagai beban elektoral menjelang pemilu paruh waktu November mendatang, terutama akibat naiknya harga minyak dan tekanan terhadap anggaran.

Di internal Partai Republik sendiri muncul perbedaan pendapat mengenai cara membiayai perang melawan Iran dan peningkatan belanja pertahanan. Pada saat yang sama, Pete Hegseth, Menteri Perang Amerika, meminta dana dalam jumlah sangat besar, tetapi tidak memberikan rincian yang cukup mengenai penggunaannya. Hal ini bahkan menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian anggota Republik.

The Atlantic menambahkan bahwa Trump pada saat yang sama menghadapi penurunan popularitas, pelemahan ekonomi, dan masalah politik di internal partainya. Namun ia justru tampak sibuk dengan urusan seperti mendesain ulang Gedung Putih, membangun aula baru, dan membuat kolam refleksi di Washington.

Zolan Kanno-Youngs, koresponden Gedung Putih di The New York Times, menilai kesibukan ini menunjukkan adanya jarak antara prioritas Presiden Amerika dan isu-isu yang seharusnya menjadi fokus Partai Republik untuk meraih kembali dukungan pemilih.

Para peserta program tersebut memperingatkan bahwa berlanjutnya perang melawan Iran dan bertambahnya jumlah tentara Amerika yang tewas dapat menambah beban politik Gedung Putih menjelang pemilu November.

Berdasarkan pembahasan dalam program The Atlantic itu, sejauh ini 20 tentara Amerika tewas dalam operasi yang berkaitan dengan perang melawan Iran. Jika konflik terus berlanjut, kemungkinan jumlah korban masih dapat meningkat.

Krisis yang Melampaui Perang

Secara umum, empat sumber tersebut menggambarkan krisis yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri.

The Guardian menilai Trump terus mengulangi siklus ancaman dan mundur karena gagal menyusun strategi yang jelas terhadap Iran.

The Washington Post menunjukkan bahwa Pentagon secara mendesak berusaha membangun kembali basis industri pertahanan Amerika dan mempercepat produksi senjata, tetapi pendanaannya belum pasti.

The New York Times memperingatkan bahwa pengurasan persenjataan Amerika tidak hanya mengancam operasi saat ini, tetapi juga melemahkan daya gentar Amerika di Eropa dan Asia, sekaligus membuka peluang bagi Rusia dan China.

The Atlantic menyoroti dimensi politik krisis ini. Perang melawan Iran, krisis amunisi, masalah ekonomi, dan perpecahan di internal partai dapat berubah menjadi beban elektoral berat bagi Partai Republik.

Dengan demikian, setelah lebih dari lima bulan, perang melawan Iran bukan hanya menjadi ujian bagi kemampuan Amerika mencapai tujuan militernya. Perang ini juga menjadi ujian bagi kemampuan Washington menjaga cadangan strategisnya, menenangkan sekutunya, menahan para pesaingnya, dan meyakinkan para pemilih bahwa pemerintahan Trump tahu ke mana ia sedang bergerak.

Paradoks utama yang disorot oleh empat sumber tersebut adalah ini: negara yang masih menghabiskan triliunan dolar untuk pertahanan kini terpaksa meminta industri militernya membangun kembali cadangan senjata yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.

Dan semua itu terjadi ketika Amerika masih melanjutkan perang yang menurut perkiraan awal pemerintahan Trump seharusnya selesai hanya dalam beberapa pekan.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha