Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — surat kabar Wall Street Journal dalam sebuah laporan menulis bahwa Shamim Saber, navigator sebuah kapal tanker China, ketika menghubungi Angkatan Laut Iran untuk mencari jalur keluar dari konflik ini, menerima jawaban bahwa “situasi kawasan sangat berbahaya dan merupakan zona merah.”
Jatah makanan dirinya dan para awak kapalnya hampir habis, sementara kapal-kapal perang Amerika berusaha mengawal dua kapal berbendera Amerika Serikat melewati tembakan rudal Iran. Pada saat yang sama, kanal darurat komunikasi laut dipenuhi permintaan dari para pelaut yang terombang-ambing di laut.
Teluk Persia telah berubah menjadi penjara terapung bagi para pekerja bergaji rendah. Kondisi mereka merupakan dampak dari agresi Amerika terhadap Iran. Para pelaut ini sebagian besar berasal dari negara-negara seperti Suriah, Filipina, dan Indonesia, yang kini terjebak di tengah baku tembak dengan persediaan dasar yang mulai habis. Sedikitnya 10 pelaut telah meninggal sejak krisis ini dimulai.
Para pakar memperkirakan bahwa dalam beberapa pekan mendatang, jumlah awak kapal yang ditinggalkan oleh para pemilik kapal yang bangkrut akan meningkat. Kondisi medis di kapal-kapal juga diperkirakan semakin memburuk akibat kekurangan obat-obatan dan merebaknya penyakit.
Seorang pelaut India melaporkan kepada Wall Street Journal bahwa kapalnya telah kehabisan makanan dan air bersih, sementara dua anggota awak berada dalam kondisi kritis. Seorang pelaut Rusia juga mengatakan bahwa mereka hanya memiliki beras dan air, dan obat tekanan darahnya telah habis.
Your Comment