4 Mei 2026 - 22:12
Ayatullah Sayyid Muhammad Ali Alami Balkhabi; Ulama yang Mencegah Perang Syiah dan Sunni di Afghanistan Utara

Ayatullah Alami Balkhabi, selain memimpin jihad dan mendidik para santri di hauzah ilmiah, memiliki kedudukan dan kecintaan khusus di tengah masyarakat Syiah dan Sunni di Provinsi Sar-e Pol. Masyarakat memandangnya sebagai tempat bersandar. Ia pun selalu berusaha mendengarkan perkataan dan persoalan masyarakat serta mencari jalan keluarnya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait as — ABNA — Ayatullah Sayyid Muhammad Ali Alami Balkhabi merupakan salah satu ulama terkenal dan pemimpin jihad Syiah di Afghanistan utara. Ia lahir pada tahun 1302 HS di Kabupaten Balkhab dan wafat pada tahun 1400 HS di kota Kabul.

Ketika berbicara tentang jihad rakyat Afghanistan dan kebangkitan kaum Syiah, semua orang menyebut Ayatullah Alami Balkhabi, sosok yang memiliki popularitas khusus di kalangan Syiah dan Sunni di Afghanistan utara. Setelah menempuh pendidikan hauzah di Qom dan Najaf, Alami Balkhabi kembali ke Afghanistan dan mulai mengajar ilmu-ilmu agama di Kabupaten Balkhab.

Aktivitas Ayatullah Alami di Balkhab berlangsung tepat pada masa ketika pemerintahan komunis boneka Uni Soviet berkuasa di Afghanistan; sebuah pemerintahan yang mengabaikan nilai-nilai agama dan menindas para ulama serta santri.

Mengajar di Hauzah Ilmiah “Alamiyah” Balkhab

Pada masa awal kepulangannya dari perjalanan studi di Najaf, Irak, Ayatullah Alami Balkhabi mengajar dan mendidik para santri di Hauzah Ilmiah “Alamiyah”, yang didirikan oleh ayahnya di Balkhab. Setelah mempelajari ilmu-ilmu agama, para santri tersebut kemudian beraktivitas sebagai mubalig di berbagai wilayah Afghanistan utara.

Ia menguasai berbagai pelajaran hauzah, meliputi sharaf, nahwu, balaghah, logika, fikih, ushul, dan filsafat, dan seluruh ilmu tersebut ia ajarkan di hauzah.

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Murtadha Alamzadeh Motahhari, dalam wawancara khusus dengan wartawan ABNA, menceritakan kehidupan sosial dan politik Ayatullah Alami Balkhabi.

Alamzadeh Motahhari, yang merupakan keponakan beliau, menyampaikan bahwa Ayatullah Alami Balkhabi mengajar para santri di hauzah tersebut secara diam-diam hingga tahun 1357 HS. Di samping mengajar, ia juga berupaya menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat.

Menentang Partaiisme

Pada masa ketika berbagai partai saling berkonflik, Ayatullah Alami Balkhabi, berdasarkan pemikiran Islam yang murni, menilai fanatisme kepartaian bertentangan dengan ajaran agama. Ia mengatakan bahwa organisasi boleh dibentuk dalam arti agar para mujahidin memiliki koordinasi di antara mereka dalam menghadapi musuh. Namun jika sebuah partai politik dan aktivitas kepartaian justru bertujuan menyingkirkan orang lain dari jihad dan perang, maka hal itu bertentangan dengan Islam.

Menurut keterangan anggota keluarga ulama Syiah berpengaruh di Afghanistan utara ini, pandangan Ayatullah Alami adalah bahwa para mujahidin harus menjadi satu tangan dalam menghadapi musuh dan pemerintahan komunis lama Afghanistan. Perjuangan mereka harus terorganisasi agar tidak mengalami kekalahan di hadapan musuh.

Hujjatul Islam Alamzadeh Motahhari melanjutkan bahwa karena program-program ulama Syiah terkemuka ini tidak diperhatikan, perang antarpartai pun terjadi di Afghanistan, dan ratusan orang di kawasan-kawasan Syiah gugur syahid. Padahal, jika perkataan netral Alami Balkhabi diikuti, begitu banyak darah tidak akan tertumpah secara tidak benar.

Mencegah Perang Syiah dan Sunni di Afghanistan Utara

Ayatullah Alami Balkhabi, selain memimpin jihad dan mendidik para santri di hauzah ilmiah, memiliki kecintaan khusus di tengah masyarakat Syiah dan Sunni di Provinsi Sar-e Pol. Masyarakat melihatnya sebagai tempat bersandar. Ia pun senantiasa berusaha mendengarkan ucapan dan persoalan masyarakat serta menemukan solusinya.

Pada tahun 1360 HS, Ayatullah Alami Balkhabi berhasil mencegah terjadinya perang besar-besaran antara Syiah dan Sunni di wilayah utara Afghanistan, termasuk Sar-e Pol, Samangan, dan Baghlan. Hujjatul Islam Alamzadeh Motahhari meriwayatkan:

“Pada tahun 1360, ketika para gerilyawan dari kalangan Syiah memasuki wilayah Sanchārak, sebuah kabupaten di Provinsi Sar-e Pol, mereka melakukan sejumlah tindakan ekstrem. Tindakan ekstrem ini memprovokasi orang-orang Uzbek Sunni. Sekitar enam ribu orang Uzbek dari enam provinsi, yaitu Faryab, Badghis, Balkh, Jowzjan, Samangan, dan Baghlan, telah dimobilisasi melawan Syiah untuk berperang. Propaganda yang saat itu dilancarkan terhadap Ayatullah Alami Balkhabi membuat mereka tidak mau menerimanya sebagai seorang pendamai. Namun beberapa waktu kemudian, orang-orang Uzbek menyadari adanya propaganda buruk terhadapnya. Mereka pun menerima tawaran damai darinya dan menjalankan solusi yang ia ajukan untuk mencegah perang. Dengan demikian, perang besar-besaran berhasil dicegah.”

Hujjatul Islam Alamzadeh Motahhari juga menyebut adanya potensi perang Syiah dan Sunni lainnya di Kabupaten Dara-e Suf, Provinsi Samangan. Perang ini pun berhasil dicegah berkat usaha dan kerja keras Ayatullah Alami Balkhabi.

Ia meriwayatkan:

“Pada tahun 1361, Syiah dan Sunni telah saling mengambil posisi tempur di Kabupaten Dara-e Suf. Masalah ini sudah mencapai tahap yang sangat berbahaya. Ayatullah Alami Balkhabi kemudian mengirim sebuah delegasi bersama almarhum Syekh Ghulam Rasul dan Syekh Arefi sebagai para pendamai ke sana. Mereka berhasil, setelah satu bulan usaha terus-menerus, mencegah perang tersebut.”

Ziarah-ziarah Imamzadeh Yahya Sar-e Pol Dihilangkan

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Murtadha Alamzadeh Motahhari, mengenai Haram Imamzadeh Yahya as yang dihidupkan kembali oleh Ayatullah Alami Balkhabi dan pada masa Republik pengelolaannya berada di bawah tanggung jawab beliau, menjelaskan kondisi budaya dan sosial tempat ziarah tersebut di Provinsi Sar-e Pol. Ia mengatakan bahwa tempat suci ini saat ini sedang melewati kondisi yang sulit, sebab setelah berkuasanya Imarah Islam, program-program ziarah dan para peziarah tempat itu mengalami ketidakteraturan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat Syiah.

Menurut Hujjatul Islam Alamzadeh Motahhari, saat ini pengelolaan tempat ziarah tersebut tidak berada di tangan Syiah. Sayangnya, teks-teks ziarahnya juga telah dihilangkan, karena sebagian pengurus dan penjaga tempat ziarah tersebut menganggap ziarah ke haram suci sebagai bentuk syirik.

Ia menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ziarah kepada Hazrat Yahya telah menjauh dari kedudukan yang semestinya. Ia berharap tercipta kondisi agar tempat ziarah tersebut kembali memperoleh martabatnya.

Ulama Syiah ini meminta lembaga-lembaga Syiah dan para ulama Syiah terkemuka Afghanistan untuk berdialog dengan pihak-pihak terkait, termasuk Departemen Amar Makruf dan Nahi Munkar Taliban, demi pengelolaan dan ketertiban yang lebih baik di Haram Suci Imamzadeh Yahya, agar persoalan-persoalannya dapat diselesaikan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha