Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Poros Amerika–Zionis selama bertahun-tahun, di samping perang militer dan terorisme, juga mengelola perang propaganda, psikologis, dan budaya di berbagai negara Arab dan Islam. Perang yang dikenal sebagai “perang lunak” ini bertujuan merusak struktur identitas individu, sosial, budaya, dan keagamaan bangsa-bangsa, sehingga mempermudah dominasi kekuatan hegemonik atas sumber daya dan kedaulatan negara-negara tersebut.
Negara-negara Arab yang berada di bawah pemerintahan yang berafiliasi dengan poros Amerika–Zionis dinilai lebih rentan terhadap perang lunak ini, terutama untuk menjauhkan generasi muda dari nilai persatuan, kemandirian, serta dari semangat perlawanan terhadap penguasa mereka. Selain itu, perang ini juga ditujukan untuk menciptakan jarak antara nilai-nilai agama, otoritas keagamaan, dan generasi muda.
Dalam konteks tersebut, Syaikh Abdullah al-Saleh, Wakil Ketua Jamiat al-Amal al-Islami Bahrain, dalam sebuah tulisan khusus berjudul “Perang Lunak Amerika di Bahrain: Pembacaan Religius-Nilai atas Jalur Penetrasi dan Metode Menghadapinya”, menganalisis bahaya perang lunak di Bahrain.
Hakikat Perang Lunak dalam Perspektif Nilai-Religius
Menurutnya, perang lunak Amerika di Bahrain bergerak dalam ruang luas yang melampaui ekonomi dan politik, menyasar kesadaran, identitas, dan sistem nilai. Kekuatan lunak tidak menargetkan wilayah geografis, melainkan manusia—pikiran, selera, pandangan dunia, dan rasa keterikatannya.
Dalam perspektif Islam, penguasaan atas kesadaran adalah bentuk kontrol paling berbahaya, karena mengubah individu dari dalam tanpa ia sadari. Ia mengutip firman Allah SWT: “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka…” (QS. At-Taubah: 32), sebagai isyarat bahwa pertarungan atas kesadaran bukan hal baru, melainkan kelanjutan upaya sistematis untuk melemahkan identitas keimanan.
Menurut al-Saleh, perang lunak Amerika dijalankan melalui instrumen yang tampak “netral” seperti program pendidikan, platform media, inisiatif pemuda, dan perjanjian teknologi. Namun pada intinya, semua itu membawa sistem nilai Barat yang berupaya membentuk ulang masyarakat sesuai kepentingan politik dan budaya Amerika.
Sektor-Sektor yang Disasar
1. Pendidikan dan Identitas
Program pendidikan Amerika memperkenalkan konsep individualisme, redefinisi kebebasan, serta model sosial Barat sebagai “standar global”. Hal ini dinilai menciptakan jarak antara generasi muda dan warisan religius mereka serta melemahkan hubungan dengan lembaga keagamaan dan sosial.
2. Media dan Pembentukan Opini Publik
Media dan platform digital Amerika mempromosikan narasi tentang “moderasi”, hubungan dengan kekuatan regional, model negara modern, dan gaya hidup liberal. Narasi ini disajikan secara menarik, namun secara bertahap mengikis nilai agama dan membentuk ulang kesadaran moral publik.
3. Ekonomi dan Nilai Sosial
Investasi besar Amerika di sektor teknologi dan komunikasi dinilai memberi pengaruh terhadap perilaku konsumsi, pola kerja, dan prioritas sosial masyarakat.
4. Masyarakat Sipil
Organisasi yang didukung Amerika menyebarkan konsep “pemberdayaan”, “kepemimpinan”, dan “hak asasi manusia” sesuai definisi Barat, yang dinilai menggeser konsep-konsep tersebut dari akar nilai Islam yang autentik.
Tujuan Penetrasi Amerika
Al-Saleh menilai tujuan tersebut tidak terbatas pada pengaruh politik, tetapi mencakup:
-
Melemahkan otoritas keagamaan sebagai sumber kekuatan sosial.
-
Mengikis kohesi sosial masyarakat Bahrain.
-
Mendefinisikan ulang identitas nasional agar lebih selaras dengan proyek Amerika di Teluk.
-
Membentuk generasi baru yang memandang dunia dari perspektif Amerika, bukan dari nilai dan warisan sendiri.
Cara Menghadapi Perang Lunak
Ia menawarkan sejumlah langkah penanggulangan, antara lain:
-
Memperkuat kesadaran keimanan melalui pengembangan wacana religius kontemporer yang mampu menjelaskan hakikat perang lunak dan membekali masyarakat dengan kemampuan literasi media serta analisis informasi.
-
Membangun media berbasis nilai yang mampu menciptakan narasi sendiri dan mempromosikan identitas, moralitas, kesadaran politik, dan keterikatan nasional.
-
Memperkuat identitas religius dalam pendidikan dengan mengaitkan kurikulum agama dan sejarah pada isu-isu kontemporer.
-
Mendukung inisiatif pemuda lokal yang berakar pada nilai Islam dan kemanusiaan.
-
Mendiversifikasi hubungan internasional untuk mengurangi dominasi satu kekuatan dan memperluas ruang independensi budaya.
-
Melindungi ruang digital melalui penguatan keamanan siber dan perlindungan data.
Ia menegaskan bahwa perang lunak Amerika di Bahrain bukan sekadar konflik politik, melainkan pertarungan atas identitas. Masyarakat yang memiliki akar religius kuat akan mampu menghadapinya jika mengaktifkan sistem nilai, kesadaran, media, dan institusinya.
Menurutnya, penanggulangan perang lunak dimulai dari penguatan individu, karena kesadaran adalah medan pertama dan terakhir dalam pertarungan ini.
Your Comment