Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Analis hubungan internasional asal Lebanon, Dr. Wissam Nassif Yassin, menilai peluang solusi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran masih lebih besar dibanding perang, meskipun opsi militer tetap tidak sepenuhnya tertutup.
Pernyataan ini disampaikan setelah kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington untuk membahas berbagai isu termasuk Iran. Menurut pengamat politik, kunjungan tersebut bertujuan meyakinkan Presiden AS Donald Trump agar mengambil langkah militer terhadap Iran, namun Trump kemudian menegaskan preferensinya pada jalur diplomasi dan kelanjutan perundingan.
Yassin mengatakan kepentingan Trump menjadi prioritas utama sehingga negosiasi saat ini merupakan kebutuhan baginya. Jika perundingan menghasilkan kemajuan, perang akan dihindari; tetapi jika gagal, Washington mungkin mencari pembenaran untuk eskalasi.
Ia menambahkan kondisi saat ini masih condong pada penyelesaian melalui negosiasi. Kesiapan militer Iran dan dukungan rakyat terhadap kepemimpinan negara tersebut dinilai membuat penggunaan opsi militer menjadi kecil kemungkinannya.
Terkait pengerahan kapal induk AS, ia menyebut meskipun menjadi ancaman, keberadaan ribuan personel di dalam jangkauan serangan Iran sekaligus meningkatkan efek pencegah. Menurutnya, mayoritas negara kawasan tidak menginginkan perang karena akan berada dalam jangkauan konflik, dan kekalahan Iran justru berpotensi memperkuat dominasi Israel — sesuatu yang juga tidak diinginkan negara-negara regional seperti Arab Saudi, Turki, Qatar, dan Mesir.
Your Comment