6 Januari 2026 - 19:32
Kekuatan Material Barat di Hadapan Kehendak Ilahi Sangat Kecil

Ayatullah Abbas Kaabi dalam sebuah penyampaiannya, dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an, menilai bahwa kekuatan material Barat dan operasi-operasi militer terbaru Amerika Serikat—seperti yang terjadi di Venezuela—sangatlah kecil dan tak berarti di hadapan kehendak Ilahi.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayatullah Abbas Kaabi dalam sebuah catatan, dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an, menilai bahwa kekuatan material Barat dan operasi-operasi militer terbaru Amerika Serikat—seperti yang terjadi di Venezuela—sangatlah kecil dan tak berarti di hadapan kehendak Ilahi.

Ia dengan menyinggung kegagalan-kegagalan historis pasukan khusus Amerika Serikat (Delta Force) menegaskan bahwa pendekatan Qurani bertumpu pada tawakal kepada Allah dan amal nyata, bukan semata-mata pada kekuatan material.

Ayatullah Kaabi mengemukakan dua strategi utama untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai “perampokan modern”, yaitu: meningkatkan kesiapan pertahanan dan mematahkan kepungan propaganda musuh.

Dalam sistem perhitungan materialistik, kekuatan diringkas pada laras senjata dan keunggulan teknologi. Namun dalam budaya Qurani, kekuatan sejati hanya milik Allah SWT:
“Dan Allah Mahakuasa atas urusan-Nya” (QS. Yusuf: 21). Kehendak final Allah senantiasa menang, dan tidak ada rencana atau skema—betapapun rumitnya—yang mampu menggagalkan kehendak Ilahi. Dalam pandangan Qurani, kekuatan material, seberapa pun tampak besar, di hadapan kehendak Tuhan dan perlawanan kaum beriman, tidak lebih dari “rumah yang paling rapuh” (awhan al-buyut).

Unit operasi khusus Angkatan Darat Amerika Serikat (Delta Force), yang dibentuk pada tahun 1977 untuk misi kontra-terorisme dan operasi infiltrasi, menurut Kaabi lebih merupakan produk industri narasi Hollywood ketimbang kekuatan militer absolut. Amerika dengan membesar-besarkan kemampuan unit ini berupaya menghancurkan tekad bangsa-bangsa lain bahkan sebelum peluru pertama ditembakkan—sebagaimana digambarkan dalam ayat: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti pengikutnya” (QS. Ali Imran: 175).

Rekam jejak Delta Force sarat dengan kegagalan besar yang meruntuhkan mitos keperkasaannya: mulai dari peristiwa Tabas (Desert One) di Iran, ketika peralatan mereka lumpuh—yang oleh Imam Khomeini disebut sebagai “pasir-pasir yang menjadi tentara Allah”—hingga penarikan diri yang memalukan dari Lebanon, serta pertempuran berdarah Mogadishu yang memperlihatkan jasad tentara Amerika diseret di jalanan, mematahkan mitos “tak terkalahkan”.

Operasi militer Amerika pada dini hari 3 Januari 2026 di Venezuela—yang melibatkan pemboman infrastruktur, pemadaman listrik, dan penculikan presiden sah sebuah negara—menurut Kaabi bukan sekadar aksi militer, melainkan pelanggaran terang-terangan terhadap seluruh hukum internasional dan kemunduran menuju era barbarisme. Tujuan dari “perampokan modern” atas perintah Trump ini tidak lain adalah penjarahan sumber daya nasional (minyak, gas, dan emas) serta penghinaan terhadap bangsa-bangsa merdeka.

Meski musuh mungkin meraih “keberhasilan taktis” di wilayah yang mengalami perpecahan internal, namun berdasarkan sunnatullah, kemenangan semu tersebut tidak akan bertahan lama. Sejarah para nabi menjadi bukti nyata firman Allah tentang “hukuman dari Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa”. Allah adalah penguasa mutlak yang dari ancaman justru melahirkan jalan keluar: Nabi Yusuf a.s.: Dilempar ke sumur agar disingkirkan, tetapi justru sumur dan penjara menjadi jalan menuju singgasana kemuliaan di Mesir, Nabi Musa a.s.: Fir’aun membunuh bayi-bayi demi melenyapkannya, namun kehendak Allah membesarkan Musa di pangkuan Fir’aun sendiri dan Rasulullah Muhammad saw.: Pada malam hijrah, musuh berniat membunuh beliau, namun ancaman itu justru menjadi awal penyebaran Islam secara global.

Sunnatullah ini menunjukkan bahwa bahkan kekalahan lahiriah atau kemenangan sementara musuh, dalam kerangka hikmah Ilahi, dapat menjadi pendahulu kemenangan yang lebih besar dan kebangkitan bangsa-bangsa yang melawan “Hitlerisme baru”.

Menghadapi konstelasi perang militer dan media semacam ini, Kaabi menekankan dua langkah mendesak: Pertama, meningkatkan kesiapan menyeluruh. Umat tidak boleh mengabaikan hukum sebab-akibat. Berdasarkan ayat “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS. Al-Anfal: 60), peningkatan daya tangkal pertahanan dan militer adalah kewajiban syar’i. Kedua, Mematahkan kepungan propaganda. Umat tidak boleh terperdaya oleh narasi raksasa media. Musuh berupaya membesar-besarkan operasi Venezuela untuk mengacaukan sistem perhitungan kita. Delta Force dan jaringan medianya adalah alat untuk menanamkan ketakutan. Namun sebagaimana peristiwa Tabas membuktikan, perlawanan rakyat dan iman yang tulus mampu menggagalkan rencana paling kompleks Washington.

Masa depan, tegas Kaabi, adalah milik bangsa-bangsa yang berjuang dan bertahan, karena “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Asy-Syarh: 6). Dalam setiap kesempitan terdapat jalan keluar yang akan terwujud melalui perencanaan matang dan tawakal kepada Allah.

Ayatullah Kaabi juga menukil pernyataan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Khamenei: “Dengan duduk diam dan hanya menunggu kesalahan musuh, pekerjaan tidak akan maju. Harus berusaha, harus hadir di medan, harus bekerja, harus bertawakal kepada Allah, harus berjihad, dan harus senantiasa melakukan perencanaan tandingan. Ini adalah tugas para pejabat. Unsur-unsur kekuatan nasional harus ditingkatkan—dan salah satunya adalah angkatan bersenjata—kekuatan harus diproduksi dan ditunjukkan dalam praktik.”

Dan ini sejalan dengan firman Allah Swt, “Janganlah pergerakan orang-orang kafir di negeri-negeri itu memperdayakanmu. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam; dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 196–197), tegas Ayatullah Kaabi. 

Your Comment

You are replying to: .
captcha