Menurut laporan kantor berita ABNA yang mengutip Al-Masirah, Mohammed Miftah, kepala pemerintahan Yaman di Sana'a, saat berada di provinsi Amran, merujuk pada senjata dan peralatan baru yang telah diperoleh Sana'a. Ia menegaskan bahwa babak perang mendatang dengan rezim Zionis akan berbeda dari bentrokan-bentrokan sebelumnya.
Ia menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel menargetkan fasilitas, kepentingan, dan layanan publik di Yaman dengan tujuan meruntuhkan negara tersebut. Sambil menyatakan bahwa pemerintah sedang bekerja untuk membangun kembali proyek-proyek yang rusak, ia mengungkapkan bahwa Yaman pada saat yang sama sedang bersiap di semua tingkatan untuk putaran perang berikutnya dengan musuh, yang akan sangat berbeda dari situasi periode sebelumnya.
Di sisi lain, Mohammed Al-Farah, anggota biro politik Ansarullah, merujuk pada apa yang disebutnya sebagai tindakan sepihak AS terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Ia menulis dalam sebuah tweet bahwa kebijakan pemerintah AS didasarkan pada tekanan dan keangkuhan. Semakin negara-negara diam atau mundur di hadapan ancaman tersebut, maka keserakahan dan keangkuhan AS akan semakin meningkat.
Ia menekankan bahwa posisi Yaman adalah contoh praktis tentang bagaimana menghadapi ancaman Amerika melalui ketabahan dan mengandalkan kekuatan nasional. Ia menambahkan bahwa ketegasan dalam menghadapi kebijakan-kebijakan ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi kedaulatan dan kemandirian nasional suatu negara.
Your Comment