4 Januari 2026 - 14:04
Ayatullah Khamenei: Dengan Pihak yang Menyampaikan Protes Kita Berdialog, tetapi Perusuh harus Ditempatkan pada Posisinya

Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan keluarga para korban perang 12 hari, menyebut keadilan dan ketakwaan Amirul Mukminin sebagai dua puncak yang sangat dibutuhkan negara dan sebagai sifat paling wajib dalam mengelola masyarakat, serta menekankan pentingnya kewaspadaan dan penguatan persatuan nasional dalam menghadapi perang lunak musuh.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Sabtu (3/1), bertepatan dengan hari kelahiran mulia Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dan peringatan enam tahun syahadah Jenderal Syahid Haj Qasem Soleimani, dalam pertemuan dengan keluarga terhormat para syuhada perang 12 hari (Syuhada Iqtidar), menyebut keadilan dan ketakwaan Amirul Mukminin sebagai dua puncak kebutuhan negara dan sebagai sifat paling esensial dalam mengelola masyarakat.

Beliau menegaskan pentingnya kewaspadaan dan penguatan persatuan nasional dalam menghadapi perang lunak musuh, seraya mengatakan bahwa perang yang berbasis pada penipuan, kebohongan, fitnah, dan rumor inilah yang dahulu juga ditempuh oleh musuh-musuh pemerintahan Alawi setelah mengalami kekalahan militer, guna menggagalkan pencapaian tujuan Imam Ali as.

Ayatullah Khamenei menyebut hari kelahiran Amirul Mukminin sebagai hari yang luar biasa dalam sejarah—baik dari sisi tempat kelahiran, yakni Rumah Allah, maupun dari sisi sosok yang dilahirkan. Beliau menambahkan bahwa di antara berbagai keutamaan unik Imam Ali as, hari ini umat manusia sangat membutuhkan dua sifat utama, yaitu keadilan dan ketakwaan, dan dengan menjadikan beliau sebagai teladan, kita harus bergerak menuju dua puncak tersebut, meskipun dalam perjalanan ini masih terdapat jarak yang perlu ditempuh.

Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa Imam Ali as dalam menegakkan keadilan menggunakan berbagai metode: terkadang dengan kasih sayang, pelayanan kepada kaum lemah dan keluarga tanpa pelindung, terkadang dengan pedang Zulfiqar dan ketegasan ilahi, dan terkadang dengan lisan yang fasih, hikmah, serta penjelasan rasional.

Beliau menyebut Amirul Mukminin sebagai pelopor jihad penjelasan (jihad tabyin) dan menegaskan bahwa surat pemerintahan beliau kepada Malik al-Asytar sarat dengan prinsip-prinsip keadilan.

Dalam menjelaskan ketakwaan Imam Ali as, Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa ketakwaan beliau terkadang tampak dalam mihrab ibadah, terkadang dalam kesabaran dan pengorbanan hak pribadi demi menjaga persatuan umat, dan terkadang dalam kehadiran penuh keberanian di medan-medan sulit, seperti pada malam hijrah (Lailatul Mabit) dan peperangan bersama Rasulullah saw.

Beliau menegaskan bahwa Imam Ali as tidak pernah kalah dalam satu pun peperangan militer, namun metode perang lunak musuh—melalui kebohongan, propaganda, infiltrasi, dan pelemahan moral rakyat—sering kali menghalangi terwujudnya tujuan-tujuan beliau.

Pemimpin Besar Revolusi islam Iran lebih lanjut menyatakan bahwa perang lunak bertujuan melemahkan motivasi rakyat dan menanamkan keraguan, dan jika rakyat melemah, pencapaian tujuan menjadi mustahil, karena menurut sunnatullah, perubahan hanya terjadi melalui tangan rakyat.

Beliau menekankan bahwa bangsa Iran telah menunjukkan keteguhan dalam semua medan sulit dan bahwa kekuatan motivasi rakyat Iran menjadi sumber kekhawatiran musuh-musuhnya.

Ayatullah Khamenei menyebut penyangkalan terhadap kemampuan nasional sebagai salah satu senjata perang lunak musuh, karena mengabaikan kemampuan sendiri akan berujung pada penghinaan diri dan penyerahan kepada musuh. Beliau menyinggung keberhasilan peluncuran tiga satelit dalam satu hari serta kemajuan luar biasa Iran di bidang kedirgantaraan, bioteknologi, kedokteran, nano, dan industri pertahanan dan rudal, seraya mengatakan bahwa musuh—dan sayangnya sebagian pihak di dalam negeri—berusaha menutupi pencapaian besar ini.

Pemimpin Revolusi menegaskan bahwa kekuatan bangsa Iran adalah faktor utama yang memaksa musuh meminta penghentian perang dan mengirim pesan bahwa mereka tidak ingin berperang lagi, meskipun beliau menegaskan bahwa Iran tidak pernah mempercayai musuh yang licik dan pendusta.

Beliau menyinggung usia rata-rata 26 tahun para ilmuwan peluncur satelit sebagai bukti kekayaan besar sumber daya manusia Iran, dan mengatakan bahwa kini bangsa Iran dan dunia telah mengenal wajah asli Amerika, dan tirai kemunafikannya telah tersingkap.

Ayatullah Khamenei menyebut pemahaman nyata tentang musuh sebagai pencapaian besar bangsa Iran, seraya mengatakan bahwa bahkan mereka yang sebelumnya menganggap negosiasi sebagai solusi, kini memahami bahwa Amerika justru merancang perang di tengah proses perundingan.

Beliau menekankan kewaspadaan terhadap perang lunak, rumor, dan rekayasa media, serta menyerukan persatuan internal dengan merujuk pada ayat Al-Qur’an: “Keras terhadap orang-orang kafir dan penuh kasih sayang di antara sesama mereka.”

Dalam bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyinggung aksi-aksi para pedagang (bazari) dalam beberapa hari terakhir dan menegaskan: “Pasar dan para pedagang adalah kelompok paling setia kepada sistem dan Revolusi Islam.”

Beliau menyatakan bahwa protes pedagang terkait melemahnya nilai mata uang nasional adalah benar dan diakui oleh para pejabat negara, namun menekankan perbedaan antara protes yang sah dan kerusuhan. “Dengan pihak yang menyampaikan protes kita berbicara, tetapi berbicara dengan perusuh tidak ada gunanya; mereka harus ditempatkan pada posisinya.”

Beliau menegaskan bahwa penyusupan pihak-pihak bayaran atau provokator di balik protes rakyat yang jujur dan religius sama sekali tidak dapat diterima. Pemimpin Revolusi Islam Iran menutup dengan menekankan bahwa Iran tidak akan mundur di hadapan musuh, dan dengan bertawakal kepada Allah serta bersandar pada dukungan rakyat, musuh akan dipaksa bertekuk lutut.

Beliau juga menyinggung keutamaan Syahid Haj Qasem Soleimani, yang ditandai oleh iman, keikhlasan, dan amal, serta menyebut pertemuan ini sebagai penghormatan kepada seluruh syuhada perang 12 hari dan keluarga mereka “Nama para syuhada ini akan abadi dalam sejarah, dan kita harus memanfaatkan keberkahan dari nama-nama suci ini.”

Your Comment

You are replying to: .
captcha